Peci Batik Jogokariyan Jadi Tren, Begini Cerita dari Perancangnya

Peci Batik Jogokariyan Jadi Tren, Begini Cerita dari Perancangnya

Adji G Rinepta - detikJogja
Senin, 02 Feb 2026 16:11 WIB
Jardiyanto dan usaha Peci Batik Jogokariyan yang didirikannya, saat ditemui Senin (2/2/2026).
Jardiyanto dan usaha Peci Batik Jogokariyan yang didirikannya, saat ditemui Senin (2/2/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Songkok atau peci batik Jogokariyan Jogja saat ini tengah menjadi tren. Sang perajin, Jardiyanto (51) ternyata memulai kisahnya sebagai peserta pelatihan UMKM.

Kini, bisnisnya yang sudah berlangsung lebih dari 10 tahun tersebut telah mempunyai puluhan karyawan dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Inspirasi Membuat Peci

Jardiyanto memulai kisahnya dengan menceritakan awal terjun ke dunia bisnis pembuatan peci batik ini. Pada 2015 silam, ia berkesempatan mengikuti pelatihan pemanfaatan percabatik yang diadakan oleh LPMK Mantrijeron.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu, menurutnya, Jardiyanto menjadi satu-satunya peserta pelatihan laki-laki dari total 33 peserta. Dalam pelatihan selama 3 hari tersebut, para peserta diminta membuat kreasi produk dari kain perca batik.

ADVERTISEMENT

"Jadi dari 33 peserta itu saya cowok sendiri, lainnya cewek. Kemudian diberikan PR untuk membuat produk turunan fesyen, ada yang membuat sarung bantal, ada yang bikin bando, ada yang bikin dompet, ada yang bikin seprei, banyak macam-macam, ada gelang juga," papar Jardiyanto saat ditemui di gerainya, Jogokariyan, Mantrijeron, Senin (2/2/2026).

"Saya berpikir, saya ini kan cowok sendiri ya, masa mau ikut-ikutan, mau bikin bando, bikin sarung bantal. Akhirnya kepikiran, wah peci batik ini belum ada," sambungnya.

Selain karena alasan itu, kata Jardiyanto, ia mendapat inspirasi membuat peci dari pengamatannya terhadap jemaah. Menurutnya saat itu di medio 2015-2016, motif dan warna songkok terbilang monoton.

"Ketika ke masjid itu lihat peci (jemaah) monoton, putih, hitam. Nah timbul ide untuk bikin peci pakai bahan perca," jelas Jardiyanto.

Jardiyanto pun membuat peci songkok untuk tugas itu. Saat diberikan ke mentor untuk dinilai, siapa sangka justru produk bikinannya malah mendapat apresiasi tinggi. Dengan bekal itu, Jardiyanto pun pede untuk memulai usahanya.

Dengan bekal itu, Jardiyanto kemudian juga gantian memberi pelatihan pembuatan peci batik ke pelaku UMKM. Dari peserta pelatihannya itu lah, ia mengajak tiga di antaranya untuk menjadi karyawan.

"Dan orang-orang yang ikut pelatihan saya tawarin kerja, siapa yang mau kerja sama saya. Akhirnya dapatlah tiga orang yang ikut saya sampai sekarang," papar Jardiyanto.

Jardiyanto dan usaha Peci Batik Jogokariyan yang didirikannya, saat ditemui Senin (2/2/2026).Jardiyanto dan usaha Peci Batik Jogokariyan yang didirikannya, saat ditemui Senin (2/2/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Branding Jogokariyan

Usahanya pun perlahan mulai berkembang saat Jardiyanto turut membuka lapak di Pasar Ramadan Masjid Jogokariyan 2016 silam. Event tahunan tersebut diketahui menyedot atensi masyarakat termasuk awak media.

Awalnya, produk peci Jardiyanto dibranding dengan nama Peci Batik saja. Dianggap terlalu simpel, ia pun memikirkan nama branding lain yang lebih menarik.

"Pertama memang, karena pada awal kemunculannya itu kan awalnya saya kasih branding peci batik, tapi terlalu simpel. Akhirnya kita ada solat Istikhoro juga minta petunjuk, akhirnya tebersit Peci Batik Jogokariyan," ujarnya.

"Dulu pernah ada yang tanya dari jemaah, lho kok namanya paci Batik Jogokariyan kenapa, ya ini peci batik yang kita produksi di Jogokariyan, saya bilang gitu," imbuh Jardiyanto.

Kala itu, lanjut Jardiyanto, produk peci batik miliknya terbilang baru dan unik, sehingga begitu menarik atensi khalayak. Ia pun mulai merambah pasar online untuk memasarkan produknya.

"Semenjak itu kemudian kita aktif untuk upload di medsos. Akhirnya banyak yang datang. Kemudian kita kan kekurangan modal ya awal-awal itu, akhirnya kita pinjam ke masjid dapat pinjaman Rp 2 juta (dari) masjid. Ada sebelah sini ada Masjid Al-Hudaharnas," urainya.

"Ini saya takut, ini bisa nggak gajian ya ini tiap minggu, padahal gajian. Akhirnya Rp 2 juta itu kurang. Akhirnya kita ngajukan lagi ke Pertamina, ambil CSR-nya. Kita pinjam di Pertamina dapet lah Rp 10 juta," lanjut Jardiyanto.

Mendapat suntikan dana itu, Jardiyanto langsung menggenjot produksi. Ia kembali merekrut 6 karyawan dan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Sejalan dengan masifnya promosi di digital marketing, beban produksi pun bertambah hingga 100 peci per hari.

"Akhirnya mau nggak mau kita harus tambah karyawan lagi, akhirnya dapet lah sekitar total bisa 48 orang untuk memenuhi target yang 100 peci. Kita ada 50 persen (karyawan) yang dari Jogokariyan. Lainnya kita butuh tenaga yang pakai skill khusus, kita ambil dari luar. Banyak yang Jogokariyan," ujarnya.

Pelopor Peci Batik

Dari kisahnya, Jardiyanto bisa dibilang menjadi pelopor peci songkok batik. Pasalnya dari ide dan tangannya lah untuk pertama kalinya muncul peci batik di pasaran hingga saat ini.

"Ya betul (pembuat peci batik pertama), karena waktu itu di 2015-2016 belum ada yang namanya songkok batik. Setelah kemunculan saya terus diekspos di TV, akhirnya banyak bermunculan. Iya (pelopor), makanya dulu banyak temen-temen media yang datang ke rumah karena unik, belum ada," paparnya.

"Kalau HAKI sudah, tapi HAKI brand. Kalau HAKI barang, kalau sudah diproduksi tidak bisa di-HAKI-kan," sambung Jardiyanto.

Jardiyanto mengatakan, salah satu tokoh yang berperan membesarkan nama Peci Branding Jogokariyan adalah mendiang ketua takmir Masjid Jogokariyan Jogja, almarhum Ustaz Muhammad Jazir ASP. Ia mengenang, Ustaz Jazir menjadi pemesan pertama produknya.

"Awal dulu kita ke masjid sudah pakai songkok batik, kemudian saya dipanggil oleh Ustaz Jazir, 'mas bisa dibuatkan ndak peci yang bisa menjadi khasnya Jogokariyan?'. Akhirnya kita desain kan, kita buatkan sampel, akhirnya Ustaz Jazir berkenan," cerita Jardiyanto.

"Akhirnya ya dulu Ustaz Jazir yang pertama, dengan batiknya Masjid Jogokariyan, jadi setiap Ustaz Jazir bikin baju percanya dikasih ke kita untuk dibuatkan pecinya," kenangnya.

Omzet Ratusan Juta

Kini, Jardiyanto tinggal menikmati hasil dari kerja kerasnya. Namun di masa jelang Ramadan seperti ini, malah menjadi periode tersibuk baginya. Bahkan 3-4 bulan sebelum bulan Ramadan, Jardiyanto sudah sibuk menyiapkan peci yang sesuai dengan tren.

Selain itu, Jardiyanto juga memperbanyak stok sebelum Ramadan guna memenuhi pesanan. Pasalnya, menurutnya, pesanan menjelang dan saat Ramadan bisa meningkat hingga 5 kali lipat.

"Biasanya itu bisa 3-4 kali lipat dari hari biasa. Pernah kita mengirim satu hari itu 500 peci, padahal produksi kita cuman 100 sekian 120 per harinya. Itu kan sama saja mengurangi 4 hari produksi untuk memenuhi satu hari itu. Akhirnya di tahun berikutnya kita bikin stok di awal," terangnya.

Jardiyanto kini tak hanya menghasilkan peci, ia mulai merambah produk fesyen lainnya seperti outter hingga souvenir. Untuk peci, ia mematok harga mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per peci.

"Ada macam-macam, ada Rp 100 ribu, 125, 140, 160, ada yang 200 ribu. Ini berdasarkan jenis batiknya, ada yang batik cap satu warna, ada yang batik cah tiga warna, ada yang batik tulis, ada yang kombinasi tulis dengan batik cap," ujar Jardiyanto.

"(Omzet) Masih di sekitar Rp 200 jutaan ya sebulannya (saat Ramadan). Ada penurunan sih, kalau di pandemi itu saya malah bisa Rp 400 juta sekian. Di masa pandemi itu malah bagus. Kalau isu krisis global ini malah menurun. Malah bagus yang pandemi dulu," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(apu/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads