BGN Bilang SPPG Bakal Terima Rp 500 Juta Per 12 Hari, Petani Diklaim Kecipratan Cuan

Nasional

BGN Bilang SPPG Bakal Terima Rp 500 Juta Per 12 Hari, Petani Diklaim Kecipratan Cuan

Retno Ayuningrum - detikJogja
Jumat, 27 Feb 2026 14:54 WIB
Kepala BGN Dadan Hindayana
Foto: Kepala BGN Dadan Hindayana (Belia/BeritaKlik)
Jogja -

Badan Gizi Nasional (BGN) mengatakan 93 persen total anggaran langsung disalurkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia tanpa lewat pemerintah daerah. Manfaat MBG ini pun diklaim turut dirasakan para petani yang produknya langsung diserap oleh SPPG.

Dari total Rp 268 triliun, sekitar Rp 240 triliun langsung beredar di seluruh Indonesia.

"BGN hadir menghadirkan pola baru, di mana 93% dana BGN itu disalurkan langsung ke SPPG-SPPG. Jadi, kalau ada dana Rp 268 triliun, kurang lebih Rp 240 triliun uang beredar dari Sabang sampai Merauke, dan setiap per 12 hari SPPG menerima sekitar Rp 500 juta. Saya kira ini adalah model baru, tidak ada satu rupiah pun uang yang disalurkan dari pusat ke daerah (pemda)," ujar Kepala BGN Dadan Hindayana dalam keterangan tertulis, dilansir detikFinance, Jumat (27/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dadan mengungkap uang yang beredar dari Sabang dan Merauke hingga hari ini mencapai sekitar Rp 36 triliun. Perputaran dana itu disebut sebagai motor penggerak roda ekonomi yang mendorong pemerataan secara nyata di seluruh wilayah Indonesia.

ADVERTISEMENT

Dadan menyebut jumlah SPPG menentukan jumlah dana yang beredar di daerah tersebut. Sehingga, semakin banyak SPPG yang beroperasi di daerah itu, maka semakin besar pula dana yang beredar di wilayah tersebut.

Dadan menyebut kebijakan ini juga memberikan dampak langsung terhadap sektor produksi lokal. Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), produk-produk lokal dijamin penyerapannya oleh BGN. Hal ini menciptakan kepastian pasar bagi para petani dan pelaku usaha daerah.

"Belum pernah terjadi dalam era mana pun, produksi lokal dijamin penyerapannya oleh negara seperti sekarang. Tidak heran jika ada petani wortel di Nusa Tenggara Timur yang senang karena harga wortelnya bisa naik hingga tiga kali lipat," jelasnya.

Kenaikan serapan hasil produksi tersebut berdampak pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP). Ia menyebutkan bahwa rata-rata NTP saat ini mencapai angka 125, meningkat dari sebelumnya sekitar 102. Jika NTP berada pada kisaran 100-102, hasil produksi petani hanya cukup untuk kebutuhan hidup tanpa ruang untuk investasi. Namun, dengan capaian 125, petani memiliki ruang 25 poin untuk investasi dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

"Saya yakin dengan program MBG ini, Nilai Tukar Petani akan bisa naik hingga 150," tambahnya.

Dadan menilai perputaran uang dalam jumlah besar pada awal tahun merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Pada tahun lalu, pemerintah menggelontorkan stimulus ekonomi sebesar Rp37 triliun pada triwulan pertama yang mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 4,7%.

Tahun ini, hingga Maret saja, peredaran dana BGN diprediksi mencapai Rp 62 triliun. Besarnya nilai peredaran dana melalui MBG tersebut, menurut Dadan, telah menjadi stimulus ekonomi yang signifikan.

"Banyak pelaku usaha melaporkan bahwa likuiditas di lapangan kini lebih mudah ditemukan karena perputaran uang yang masif dan merata," ujar Dadan.




(ams/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads