Setelah sukses digelar di Surabaya dan Medan, Financial Festival digelar di Jogja hari ini. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyebut kegiatan ini untuk membangun generasi yang melek digital dan matang secara finansial.
Jogja Financial Festival (JFF) digelar dua hari, mulai Jumat (22/5) dan dilanjutkan pada Sabtu (23/5) di Jogja Expo Center (JEC). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat khususnya anak muda.
JFF hadir sebagai sebuah platform yang mempertemukan para pemangku kepentingan di sektor keuangan. Mulai dari pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri keuangan, akademisi, hingga masyarakat luas, untuk berdiskusi dan berbagi perspektif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyoroti perkembangan teknologi keuangan yang semakin pesat namun belum diimbangi dengan literasi masyarakat.
Anggito menyebut masyarakat saat ini hidup di era ketika teknologi finansial berkembang sangat cepat, mulai dari transaksi digital hingga investasi berbasis teknologi.
"Kita sedang memasuki era ketika uang bergerak lebih cepat daripada pemahaman manusia tentang risiko keuangan itu sendiri," kata Anggito dalam sambutannya di Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, perkembangan Artificial Intelligence (AI), transaksi digital, hingga produk investasi baru membawa banyak manfaat. Namun di sisi lain, literasi keuangan masyarakat dinilai masih tertinggal dibanding pertumbuhan industrinya.
"Artificial Intelligence (AI) mulai mengganti banyak model bisnis kita. Transaksi keuangan digital sangat cepat berlangsung dalam hitungan detik. Produk investasi keuangan bertumbuh dan semakin beragam memberikan manfaat. Namun, pada saat yang sama, daya tahan literasi masyarakat belum tumbuh secepat perkembangan industrinya," jelasnya.
Selain itu, Anggito juga menyinggung maraknya pinjaman online ilegal, judi digital, hingga investasi bodong yang memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat.
"Pinjaman online ilegal tumbuh cepat, judi digital menyusup melalui platform teknologi, kejahatan keuangan menjamur, investasi semu terus memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat," ujarnya.
Anggito menegaskan Indonesia tidak boleh membiarkan perkembangan teknologi melaju lebih cepat dibanding etika dan tanggung jawab finansial masyarakat.
Meski demikian, ia optimistis generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi nasional. Anggito menyebut Indonesia memiliki sekitar 190 juta penduduk usia produktif yang dinilai sangat dekat dengan teknologi dan dunia digital.
"Mereka bukan hanya konsumen aplikasi keuangan, tapi menjadi investor produktif, entrepreneur baru, pencipta inovasi, dan penggerak ekonomi nasional," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Anggito mengatakan Financial Festival 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran lembaga keuangan maupun seminar ekonomi. Festival tersebut disebut sebagai ruang kolaborasi antara regulator, industri, kampus, komunitas kreatif, hingga generasi muda.
Ia menyebut lebih dari 10 ribu peserta diperkirakan hadir dalam kegiatan tersebut. Sejumlah agenda turut digelar, mulai dari edukasi keuangan, pelibatan UMKM dan komunitas kreatif, hingga Jogja City Run yang diikuti ribuan pelari.
"Kita ingin memulai gerakan baru, membangun generasi yang tidak hanya melek digital, tapi juga matang secara finansial," pungkasnya.
(dil/ahr)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja