- Cerita Rakyat DIY yang Jarang Diketahui 1. Cerita Blunyah Gedhe 2. Asal Mula Rawa Jembangan 3. Cerita tentang Penjaga Plawangan dan Asal Mula Lahar Gunung Merapi Tak Pernah Mengalir Ke Selatan 4. Kisah Terjadinya Kedung Bolong 5. Cerita Burung Gagak Berbulu Burung Merak 6. Legenda Gunung Bagus 7. Asal Mula Nama Kali Gajah Wong 8. Kisah Cupu Panjolo
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak cerita rakyat yang sudah turun-temurun diceritakan. Cerita seperti Roro Jonggrang atau Nyi Roro Kidul pasti sering terdengar di kalangan masyarakat.
Namun, sebenarnya masih banyak cerita rakyat dari DIY yang belum banyak diketahui oleh kalangan luas. Cerita-cerita ini tentu juga memiliki nilai moral dan kisah yang menarik untuk anak-anak.
Nah, apa saja cerita rakyat DIY tersebut? Berikut detikJogja sajikan sejumlah cerita rakyat DIY yang jarang diketahui serta bisa untuk dongeng sebelum tidur yang telah dirangkum dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Dhanu Priyo Prabowo, buku Ceritera Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan situs Dinas Kebudayaan DIY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerita Rakyat DIY yang Jarang Diketahui
1. Cerita Blunyah Gedhe
Cerita ini bermula ketika Yogyakarta masih berada di bawah kekuasaan Sultan dan belum berkembang luas, hiduplah seorang saudagar Cina kaya yang dikenal sebagai Babah Kidul Loji. Ia tinggal di wilayah selatan Loji dan memiliki seorang putri tunggal yang cantik, tetapi sering jatuh sakit.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyembuhkannya, mulai dari memanggil dokter hingga dukun, tetapi hasilnya belum sembuh. Hal ini membuat Babah dan istrinya sangat berduka.
Di antara banyak sahaya yang dimilikinya, ada seorang hamba yang sangat setia dan rajin. Ia bekerja tanpa kenal lelah serta turut merasakan penderitaan majikannya. Mengetahui tuannya bersedih hati karena anak perempuannya sakit-sakit, hamba tersebut berinisiatif mencari berbagai cara pengobatan ke berbagai tempat.
Usahanya yang sungguh-sungguh akhirnya membuahkan hasil, dan putri Babah Kidul Loji pun berhasil sembuh. Kebahagiaan pun menyelimuti keluarga tersebut, dan sebagai balasan, sang hamba diberi hadiah berupa uang dalam jumlah besar.
Oleh si hamba, uang itu dibelikannya sebidang tanah yang cukup luas, terletak di sebelah utara kota, tepatnya di sebelah utara Tugu Lancip. Yang dinamakan Tugu Lancip, adalah tugu yang sampai sekarang masih ada, terletak di sebelah depan toko buku Gunung Agung.
Setelah beberapa bulan, Nyah Gedhe (dari kata Nyonyah Gedhe, Nyonyah Besar yang dimaksud ialah istri Babah Kidul Loji) bertanya kepada si hamba, sudah selesai atau belum dia membangun rumahnya. Tiap ditanya Nyah Gedhe ia selalu menjawab, "Belum Nyah". Begitu pula ketika ditanya dengan putri Babah Kidul Loji yang sudah dewasa atau disebut dengan Nyah Cilik. Hamba itu juga akan menjawab "Belum Nyah Cilik".
Lama kelamaan, Nyah Gedhe menjadi jengkel hatinya, merasa diabaikan. Akhirnya, Nyah Gedhe memeriksa sendiri tanah yang dibeli hambanya itu dan menemukan hanya sebuah gubug kecil, bukan rumah besar seperti yang dibayangkan.
Saat ditanya, hamba itu lalu menjelaskan bahwa sisanya digunakan membangun bendungan, pintu air, dan saluran irigasi untuk mengairi sawah-sawah sekitar karena dirinya pun belum memiliki anak. Mendengar itu, Nyah Gedhe tidak marah lagi, karena uangnya ternyata bermanfaat untuk banyak orang.
Ia justru menambah lagi pemberian uang kepada hambanya sehingga rumah hamba itu bisa selesai dibangun. Tempat tinggal hamba itu selanjutnya menjadi kampung yang ramai dan banyak penghuninya. Kampung itu dinamakan "Blunyah", yang berasal dari kata "Belum Nyah", dibagi menjadi Blunyah Gedhe dan Blunyah Cilik.
2. Asal Mula Rawa Jembangan
Pada suatu hari, Ki Wanabaya mengadakan pesta besar. Di tengah kesibukan itu, istrinya meminta pisau untuk membuat wadah dari daun pisang. Ia diberi pisau dengan pesan agar tidak meletakkannya di pangkuan, tetapi tanpa sengaja pesan itu dilanggar. Secara tiba-tiba, tangkai pisau tersebut menghilang. Istri Ki Wanabaya pun panik dan mencari ke mana-mana, dibantu orang-orang di sekitarnya, tetapi benda itu tak pernah ditemukan.
Setelah pesta usai, Ki Wanabaya pergi bertapa ke Gunung Merapi. Sementara itu, istrinya justru mengandung dan kemudian melahirkan sesuatu yang mengejutkan. Bukan bayi manusia, melainkan seekor ular. Ular itu disembunyikan di bawah sebuah jembangan, tapi seiring waktu tubuhnya terus membesar hingga akhirnya wadah itu pecah.
Ular tersebut kemudian bertanya tentang ayahnya, dan setelah mengetahui bahwa ayahnya adalah Ki Wanabaya yang sedang bertapa di Gunung Merapi. Ia pun berangkat mencarinya. Perjalanannya yang panjang dan tubuhnya yang besar konon membentuk aliran tanah yang kemudian menjadi Sungai Progo.
Sesampainya di Gunung Merapi, ular itu bertemu Ki Wanabaya dan mengaku sebagai anaknya. Namun, Ki Wanabaya tidak langsung percaya dan memberi syarat. Ular itu harus mampu melingkari Gunung Merapi hingga ujung kepala dan ekornya saling bersentuhan. Ular tersebut hampir berhasil, bahkan berusaha menjulurkan lidahnya untuk menutup jarak yang tersisa.
Namun, Ki Wanabaya, yang sebenarnya enggan mengakui kebenaran itu, segera memotong lidah ular tersebut sehingga usahanya gagal. Lidah yang terpotong kemudian dijadikan pusaka. Kisah ini kemudian dikaitkan dengan asal-usul beberapa tempat, seperti Rawa Pening dan Rawa Jembangan, yang dipercaya berasal dari peristiwa dalam cerita tersebut.
3. Cerita tentang Penjaga Plawangan dan Asal Mula Lahar Gunung Merapi Tak Pernah Mengalir Ke Selatan
Dikisahkan bahwa pada zaman dahulu, Panembahan Senapati melakukan tapa di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Desa Nglipura, dekat Bantul. Setelah selesai bertapa, ia ditanya oleh Ki Juru Mertani tentang hasil tapanya. Senapati menjawab bahwa ia memperoleh "lintang johar".
Namun, menurutnya hal itu belum cukup kuat untuk melindungi dari bahaya. Ki Juru Mertani kemudian menyarankan agar ia bertapa kembali dengan cara menghanyutkan diri di atas sebatang kayu hingga sampai ke Segara Kidul untuk bertemu Ratu Kidul.
Senapati mengikuti petunjuk tersebut. Ia menghanyutkan kayu di sungai dan naik di atasnya hingga akhirnya tiba di Segara Kidul. Di sana ia benar-benar bertemu dengan Ratu Kidul. Setelah kembali, ia melaporkan bahwa ia memperoleh dua benda, yaitu minyak Jayengkatong dan telur degan.
Atas saran Ki Juru Mertani, telur tersebut diberikan kepada Juru Taman. Namun setelah dimakan, Juru Taman justru berubah menjadi raksasa besar yang menakutkan.
Raksasa itu kemudian diperintahkan untuk tinggal di Gunung Merapi dan bertugas menjaga agar bencana dari gunung tersebut tidak mengarah ke selatan, khususnya ke wilayah keraton Yogyakarta. Sementara itu, minyak Jayengkatong dicoba pada dua anak kecil, laki-laki dan perempuan, hingga keduanya menjadi tak kasat mata.
Mereka kemudian dikenal sebagai Kyai Panggung dan Nyai Koso yang dipercaya menjaga pohon beringin di sekitar wilayah tertentu. Kisah ini menjelaskan kepercayaan masyarakat tentang perlindungan gaib terhadap daerah selatan dari letusan Gunung Merapi.
4. Kisah Terjadinya Kedung Bolong
Cerita ini mengisahkan tentang pengorbanan seorang anak demi menyelamatkan desanya dari bencana. Diceritakan di Desa Sampang, Gunung Kidul, hiduplah pasangan suami istri bernama Pak Krama dan Mbok Krama. Mereka hidup sederhana, rukun dan gemar menolong sesama, meski lama tidak dikaruniai anak.
Setelah bertahun-tahun berdoa, akhirnya harapan mereka terkabul ketika Mbok Krama mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Sidowayah. Anak ini tumbuh menjadi pribadi yang rajin, sopan, dan selalu membantu orang tuanya, termasuk bekerja di sawah dan menggembala kerbau.
Kehadiran Sidowayah membawa perubahan baik bagi keluarganya. Sementara itu, di desa tersebut terdapat sebuah kedung (sumber air) yang sangat penting dan dianggap keramat oleh warga. Ada aturan yang harus ditaati, yaitu tidak boleh berkata kotor atau membicarakan keburukan orang lain saat mengambil air.
Suatu ketika, kedung itu tiba-tiba menjadi keruh dan mengering, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Musibah pun datang, warga mulai meninggal satu per satu. Setelah diselidiki, ternyata ada seseorang yang melanggar larangan leluhur.
Sesepuh desa kemudian bertapa dan mendapat petunjuk bahwa bencana hanya bisa dihentikan dengan pengorbanan seorang anak laki-laki yang berbudi baik. Tak ada warga yang rela mengorbankan anaknya, hingga akhirnya Sidowayah dengan sukarela menawarkan dirinya demi menyelamatkan desa.
Meski orang tuanya sangat sedih, mereka akhirnya merelakan keputusan mulia tersebut. Saat prosesi pengorbanan dilakukan di kedung yang mengering, air tiba-tiba kembali muncul dan tersibak membentuk lingkarang bolong ketika Sidowayah berjalan ke tengah. Setelah sampai di pusat kedung, air kembali menutup dan Sidowayah pun menghilang.
Sejak saat itu, bencana berhenti dan desa kembali tenteram. Untuk mengenang peristiwa tersebut, kedung itu dinamakan Kedung Bolong. Sesuai dengan kejadian ketika air membentuk lubang seperti terowongan saat dilewati Sidowayah.
5. Cerita Burung Gagak Berbulu Burung Merak
Kisah burung gagak dan burung merak ini menceritakan tentang akibat dari rasa iri dan keinginan untuk menjadi yang lain. Suatu hari, seekor burung gagak masuk ke taman di Keraton Mataram Plered dan melihat burung merak dengan bulu yang sangat indah.
Ia pun ingin meminjam bulu tersebut agar terlihat hebat di hadapan sesamanya. Namun, burung merak menolak dan menasihatinya bahwa kehormatan datang dari sikap baik, bukan dari penampilan. Gagak tidak menerima nasihat itu dan tetap bertekad mendapatkan bulu indah tersebut.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seekor rase yang membawa bulu merak. Demi keinginannya, gagak rela menukar berutunya hingga bulunya sendiri habis dan tubuhnya terluka. Ia kemudian menempelkan bulu merak itu ke tubuhnya dengan getah, meski tidak bisa digunakan untuk terbang dan hanya sekadar hiasan.
Saat mencoba bergabung dengan burung merak, ia ditolak dan diserang karena dianggap bukan bagian dari mereka. Ketika kembali ke kelompoknya sendiri, ia juga tidak diakui karena penampilannya berbeda. Akhirnya, ia diserang oleh sesama gagak hingga mati.
6. Legenda Gunung Bagus
Cerita ini berawal dari hubungan Jaya Ketok, putra Rangga Blimbing, dengan puteri Sultan Agung, Rara Pembayun, yang tumbuh dari ketertarikan saat pisowanan pasok bulu bekti. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Mataram terbagi atas beberapa daerah yang dipimpin oleh para rangga.
Salah satunya adalah Blimbing, yang dikepalai Rangga Blimbing. Setiap rangga diwajibkan menghadiri "pisowanan pasok bulu bekti" sebagai tanda loyalitas kepada raja. Rangga Blimbing dikenal setia dan selalu hadir, sering membawa putranya, Jaya Ketok, yang tampan, cerdas, dan gagah.
Dalam setiap pertemuan itu, Jaya Ketok kerap bertemu Rara Pembayun, puteri Sultan Agung, dan hubungan mereka berkembang menjadi cinta yang diam-diam mereka jalin. Hubungan rahasia itu akhirnya diketahui oleh abdi keraton, dan Sultan Agung memanggil ketiganya untuk diberi nasihat agar menyadari kedudukan mereka masing-masing.
Rangga Blimbing menerima nasihat itu dengan lapang, tetapi Jaya Ketok dan Rara Pembayun tetap bertemu diam-diam, hingga kembali dilaporkan kepada Sultan Agung. Akibatnya, ia sangat murka, Sultan Agung pun mengutus pasukan untuk membunuh Rangga Blimbing.
Namun, Rangga Blimbing telah mengetahui rencana tersebut dan pertempuran pertama pun gagal karena pasukan Blimbing berhasil mendesak mundur. Dalam serangan kedua, Sultan Agung dengan bantuan Belanda berhasil membuat pasukan Blimbing kalah.
Jaya Ketok ditangkap dan dibunuh, sedangkan Rara Pembayun menolak dijadikan istri perwira Belanda. Hal inilah yang memicu konflik lebih lanjut dengan Belanda yang membuat Sultan Agung terpaksa mengungsi ke Desa Kedunglumbu.
Di pengungsian, Sultan Agung bertemu seorang gadis desa dari Kedunglumbu yang cantik dan menarik, lalu menjadikannya selir. Dari hubungan itu lahirlah Jaka Bagus, sementara permaisuri pengungsi juga melahirkan Jaka Trenggana.
Kedua anak ini dibesarkan bersama di Desa Kedunglumbu, rukun layaknya saudara kandung. Suatu hari Jaka Bagus terserang penyakit cacar dan Sultan Agung menitipkannya kepada Ki Ageng Wonoboyo di Desa. Ia berpesan jika Jaka Bagus tidak sembuh maka jenazahnya harus dikubur di puncak bukit yang tinggi.
Meski Ki Ageng Wonoboyo berusaha merawat Jaka Bagus, penyakit itu tak tertolong. Jaka Bagus meninggal dan dimakamkan di puncak bukit yang lebih tinggi dari sekitarnya, yang kemudian dinamai Gunung Bagus. Kedua abdi yang ikut merawatnya menetap di Desa Giring, dan setelah meninggal dimakamkan di tempat lebih rendah dari Gunung Bagus.
7. Asal Mula Nama Kali Gajah Wong
Cerita ini mengisahkan peristiwa tragis yang menimpa Ki Kerti Pejok saat memandikan gajah Sultan Agung di sungai dekat Kotagede. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Mataram berpusat di Kotagede, sekitar tujuh kilometer tenggara Yogyakarta.
Sultan Agung memiliki pasukan besar, termasuk berkuda dan gajah, serta abdi dalem yang setia. Salah satunya adalah Ki Sapa Wira, pemelihara gajah bernama Kyai Dwipangga dari Siam.
Setiap pagi, Ki Sapa Wira memandikan gajah itu di sungai dekat keraton. Suatu hari ia sakit bisul, sehingga memerintahkan adik iparnya, Ki Kerti Pejok, menggantikannya. Ki Kerti Pejok, yang berjalan pincang karena polio, membawa gajah ke sungai, memberi makan dengan kelapa muda.
Dirinya memandikan gajah itu dengan daun kelapa hingga bersih, lalu menyerahkan kembali kepada Ki Sapa Wira. Keesokan harinya, Ki Kerti kembali memandikan Kyai Dwipangga. Namun, sungai tampak dangkal, sehingga ia membawa gajah ke hilir mencari genangan lebih dalam.
Saat memandikan, tiba-tiba banjir bandang dari hulu datang dan menghanyutkan Ki Kerti Pejok beserta gajah ke Laut Selatan. Mereka meninggal karena tidak ada yang sempat menolong. Sultan Agung kemudian menamai sungai itu Kali Gajah Wong untuk mengenang peristiwa tragis tersebut.
Sungai itu terletak di sebelah timur Yogyakarta, berdekatan dengan kebun binatang Gembira Loka saat ini.
8. Kisah Cupu Panjolo
Cerita ini menceritakan Cupu Panjolo yang berkaitan dengan murid Sunan Kalijaga. Dikisahkan, seorang murid Sunan Kalijaga kehilangan anaknya di laut. Sunan Kalijaga kemudian memberi petunjuk agar murid itu berpuasa selama tujuh hari tujuh malam, lalu mencari anaknya di laut dengan membawa nasi segenggam dan jala.
Setelah menjalani puasa, murid itu mengikuti petunjuk tersebut. Ketika menjaring di laut, ia menemukan anaknya tersangkut di jala bersama beberapa barang berharga, salah satunya cupu. Anak itu kemudian dinamakan Kyai Panjolo, dari kata "jala," karena ditemukan dengan alat tangkap itu.
Dalam kisah pewayangan, keberadaan Cupu Panjolo mirip dengan Cupu Manik Astagina yang diberikan Batara Surya kepada Dewi Windradi. Karena cintanya yang besar kepada anaknya, Dewi Windradi mengabaikan pesan Batara Surya dan menyerahkan pusaka itu kepada Dewi Anjani. Namun, sebenarnya hal itu sebelumnya dilarang karena bisa menimbulkan kejadian yang tak diinginkan apabila dilanggar.
Itulah sejumlah cerita rakyat dari Daerah Istimewa Yogykarta yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Cerita-cerita di atas tentu bisa digunakan detikers sebagai dongeng untuk anak sebelum tidur. Semoga bermanfaat ya!
Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(sto/dil)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja