5 Versi Kisah Nyi Roro Kidul Ratu Laut Selatan dalam Mitologi Jawa

5 Versi Kisah Nyi Roro Kidul Ratu Laut Selatan dalam Mitologi Jawa

Mardliyyah Hidayati - detikJogja
Sabtu, 09 Mei 2026 12:00 WIB
Ilustrasi Nyi Roro Kidul
Ilustrasi Nyi Roro Kidul (Foto: Gemini AI)
Jogja -

Nama Nyi Roro Kidul sudah lama melekat dalam cerita rakyat Nusantara, khususnya di wilayah Jawa. Sosoknya dikenal sebagai penguasa laut Selatan yang memiliki kekuatan mistis dan kerap dikaitkan dengan berbagai peristiwa gaib. Kisahnya bahkan kerap disebut dalam beberapa versi cerita dalam mitologi Jawa.

Pada buku berjudul Bausastra Lelembut karya Lentera Nusantara, Nyi Roro Kidul disebut sebagai dewi laut atau tangan kanan dari penguasa Laut Selatan dalam mitologi Jawa dan Sunda. Dalam bahasa Kawi, Nyai Roro Kidul berarti "Nyonya bangsawan Laut Selatan", sementara kata roro sendiri merujuk pada sosok perempuan muda atau perawan. Penjelasan ini semakin memperkuat citra Nyi Roro Kidul sebagai figur yang tidak hanya sakral, tetapi juga memiliki kedudukan tinggi dalam dunia spiritual.

Menariknya, kisah tentang Nyi Roro Kidul tidak hanya memiliki satu versi saja. Berbagai sumber literatur menghadirkan cerita yang berbeda-beda mengenai asal-usul hingga perannya dalam kehidupan manusia. Lantas, seperti apa saja versi ceritanya? Berikut ini 5 versi kisah Nyi Roro Kidul dalam mitologi Jawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Versi Kisah Nyi Roro Kidul dalam Mitologi Jawa

Dikutip dari buku Mitologi Jawa karya Drs Budiono Herusatoto, kisah Ratu Kidul ini tersebar dan dipercayai kebenarannya oleh masyarakat sekitar laut Selatan, mulai dari Parangtritis, Cilacap, hingga Banyumas. Versi ceritanya pun berbeda-beda tergantung sumber yang beredar. Adapun mengacu sumber yang sama, berikut 5 versi kisah Nyi Roro Kidul dalam mitologi Jawa yang menarik untuk dikulik.

Kisah Nyi Roro Kidul #1: Versi Babad Tanah Jawa

Kisah Nyi Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul dalam Babad Tanah Jawa ini berkaitan erat dengan Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam dengan nama asli Raden Sutawijaya. Kisah tersebut memuat pertemuan sosok yang digambarkan sangat cantik dan tampan itu.

Alkisah Panembahan Senopati diminta pamannya, Ki Juru mertani, untuk bertapa ke Laut Kidul atau laut Selatan Jawa. Sang raja itu bertapa dengan menceburkan diri ke sungai Opak untuk sampai ke laut Selatan. Dalam pertapaannya itulah ia bertemu dengan sang ratu pantai Selatan.

Ratu Kidul yang mengetahui pertapaan tersebut kemudian meminta Panembahan Senopati ke keratonnya. Keduanya kemudian saling jatuh cinta dan berakhir menikah. Namun, hubungan tersebut tak bisa berjalan semestinya, sebab sang ratu tak bisa ikut Panembahan Senopati ke kerajaannya. Kendati demikian, Nyi Roro Kidul berjanji akan selalu siap membantu Panembahan Senopati jika kerajaannya menghadapi bahaya.

Kisah Nyi Roro Kidul #2: Dari Babad Tanah Jawa

Dalam versi Babad Jawa juga diceritakan adanya mitos Jawa tentang perjalanan Nyi Roro Kidul dan rombongannya menuju puncak Gunung Merapi. Rombongan tersebut menimbulkan bunyi-bunyi gemeresak di desa-desa yang dilewatinya.

Dikisahkan pula bahwa rombongan itu membawa penyakit menular yang disebarkan pada penduduk desa yang dilewati. Demi menghadapinya, orang zaman dahulu segera keluar dari rumah ketika suara berisik datang dan membunyikan kentongan sebagai sambutan kepada sang ratu.

Akan tetapi, mitos ini sebenarnya memiliki pesan peringatan. Suara gemerisik yang dimaksud adalah pertanda gelombang Samudera Hindia sampai ke area perkampungan. Artinya, musim kemarau panjang akan tiba. Oleh karena itu, penduduk harus bersiap 'menyambut'nya. Membunyikan kentongan sebagai komunikasi pertanda tersebut datang.

Kisah Nyi Roro Kidul #3: Menurut Babad Tanah Jawa

Versi lain dalam Babad Tanah Jawa mengisahkan Nyi roro Kidul sebagai seorang putri sulung Raden Bondhanwangi, Raja Padjajaran generasi ketiga. Dalam kisah ini, Nyi Roro Kidul mendapat kutukan dari ayahnya karena tak mau menikah. Ia kemudian diusir dari Keraton Padjajaran.

Sang putri kemudian bertapa di laut Selatan. Perlahan ia berubah wujud menjadi makhluk halus, atau dalam istilah Jawa adalah meryangyang. Sang putri dalam wujud barunya itu menjadi ratu di Laut Kidul dengan gelar Kanjeng Ratu Kidul

Kisah Nyi Roro Kidul #4: Versi Jayengkatong dan Endhog Degan

Nyi Roro Kidul dalam kisah Jayengkatong dan Endhog Degan juga berkaitan dengan Panembahan Senopati. Kali ini keduanya bukanlah pasangan, melainkan seseorang yang saling membantu. Kisah ini berkaitan dengan benda yang disebut Jayengkatong dan Endhog Degan tersebut serta alasan lahar Merapi tak mengalir ke arah Selatan.

Kisah ini bermula ketika Ki Juru Mertani, paman Panembahan Senopati mengendus penyusup dari Kerajaan Pajang di Keraton Mataram. Ia kemudian menganjurkan sang keponakan untuk meminta bantuan Nyi Roro Kidul. Melalui pertapaan, Panembahan Senopati mendapat bantuan dari Nyi Roro Kidul berupa minyak Jayengkatong dan Endhog Degan.

Minyak tersebut berkhasiat untuk menjadikan seseorang yang benar-benar bersalah sebagai makhluk halus. Maka diminumkanlah minyak itu kepada dua abdi keraton yang dicurigai oleh Ki Juru Mertani. Keduanya pun berubah menjadi makhluk halus.

Dalam arti yang sebenarnya, keduanya telah menjadi rakyat biasa tanpa pangkat dalam istana Keraton Mataram. Keduanya kemudian diberi nama Kyai Panggung dan Nyai Rasa yang diperintahkan menjaga ringin putih yang ada di depan Masjid Kota Gedhe hingga hari ini.

Sementara itu, endhog degan tadi diberikan kepada Ki Juru Taman dengan pesan yang sama bahwa ia akan berubah jika memang bersalah. Dan benar Ki Juru Taman pun berubah menjadi raksasa besar yang mengerikan.

Atas saran Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati memerintahkan Ki Juru Taman menjaga Gunung Merapi agar laharnya tidak mengalir ke arah Selatan tempat Keraton Mataram berada. Konon, sang raksasa bersemayam di bukit Plawangan di kaki lereng Selatan Gunung Merapi.

Kisah Nyi Roro Kidul #5: Versi S Padmosoekotjo

Berbeda pula kisah Nyi Roro Kidul menurut versi S Padmosoekotjo. Versi ini mengisahkan Nyi Roro Kidul sebagai jelmaan bidadari yang pernah diperistri Jaka Tarub, yakni Dewi Nawangwulan. Kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan sendiri berupa seorang bidadari kayangan yang tak dapat kembali ke kayangan karena selendangnya dicuri dan berakhir menjadi istri seorang manusia.

Ketika Dewi Nawangwulan menemukan pakaian bidadarinya yang disembunyikan Jaka Tarub, ia pun merasa kecewa. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk kembali ke kayangan meninggalkan suami dan anaknya.

Namun, para dewa menolak kedatangannya dan menganggap ia telah bersifat kamanungsan sebab berhubungan dengan manusia. Dengan demikian, sang dewi harus tinggal di dunia, bahkan diperintahkan untuk menjadi ratu di Laut Kidul oleh Sang Hyang Guru atau raja para dewa.

Pada akhirnya, sang dewi menjadi ratu yang membawahi makhluk-makhluk halus di Laut Kidul. Ia pun diberi gelar Kanjeng Ratu Kidul dan dibantu Senapati yang bernama Nyai Rara Kidul. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa, hingga kini sang dewi terus bersemayam dan menguasai makhluk halus di sana.

Itulah kisah Nyi Roro Kidul berdasarkan 5 versi ceritanya yang sungguh menarik. Semoga menjadi wawasan baru ya, Dab!

Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads