Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja menggelar pameran bertaraf internasional bertajuk Post-machine Algorithm di Galeri RJ Katamsi. Pameran tersebut untuk merespons seni, kemanusiaan dan kreativitas di era artificial intelligence alias akal imitasi (AI) saat ini.
Rektor ISI Jogja, Irwandi mengatakan karya dalam pameran ini sebagian besar menampilkan karya seni rupa ini ingin menonjolkan kekuatan manusia di tengah gempuran AI. Pasalnya, bagaimanapun kreativitas muncul dari ide manusia dan AI hanya sebagai alat untuk mengeksekusinya.
"Nah, untuk itu kita menampilkan berbagai jenis karya yang, apa namanya, mengeksplorasi berbagai kemungkinan eksplorasi seni untuk menunjukkan kekuatan ide dari manusia," katanya kepada wartawan di ISI Jogja, Sewon, Bantul, Minggu (21/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Irwandi menyebut, bahwa ada karya seni rupa, kriya hingga audio visual yang mejeng di pameran tersebut. Menurutnya, keanekaragaman karya itu untuk menunjukkan bahwa seniman telah siap menghadapi disrupsi AI.
"Kemudian tentu kita tetap mengantisipasi dengan perkembangan AI. Sehingga kalau kita lihat karyanya beragam dan ini menunjukkan berbagai potensi ke depan nanti untuk perkembangannya," ujarnya.
Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Jogja, Muhammad Sholahuddin mengatakan, bahwa saat ini perkembangan AI begitu pesat. Sehingga ISI Jogja menggelar pameran ini untuk bagaimana seniman menanggapi pesatnya AI.
"Jadi tadi post-machine itu artinya bahwa bagaimana menanggapinya setelah ini," ucapnya.
Suasana pameran bertaraf internasional bertajuk Post-machine Algorithm di Galeri R.J. Katamsi, ISI Jogja, Sewon, Bantul, Minggu (21/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Sholahuddin melanjutkan, saat ini mahasiswanya telah banyak yang menggunakan AI. Namun, penggunaan tersebut hanya sebatas untuk mencari ide-ide dalam berkarya.
"Misalnya di prodi desain interior itu kami memang ada tugas dari awal mahasiswa harus menggunakan AI. Nah, itu dipakai untuk brainstorming. Jadi mahasiswa ketika mencari ide-ide, itu dibantu AI itu, mereka semakin kreatif dan banyak ide-ide yang dibantu oleh AI," katanya.
Selanjutnya, mahasiswa kemudian mengembangkan lewat prompt-prompt lain. Sholahuddin mencontohkan, setelah melalui proses verbal di Chat GPT, mereka melakukan rendering menggunakan Dreamina atau Gemini.
"Jadi banyak sekali prompt-prompt di AI yang dimanfaatkan oleh mahasiswa desain sehingga proses mereka di akhir, itu rendering dan sebagainya itu bisa lebih bagus. Jadi di sini AI memang sangat membantu mahasiswa, tapi sekali lagi bahwa pilotnya itu tetap manusianya atau tetap si mahasiswanya, AI itu hanya tools atau alat yang membantu mereka," ujarnya.
Kurator Pameran Post-machine Algorithm, Nadiyah Tunnikmah menambahkan, bahwa ini melibatkan 167 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, alumni, serta peserta dari luar negeri. Adapun peserta dari luar negeri seperti dari negara Thailand, Jepang, Malaysia hingga Australia.
"Ada 23 peserta dari berbagai negara, lalu ada 30 peserta merupakan dosen dan tujuh lainnya alumni ISI Jogja. Nah, sisanya merupakan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain," ucapnya.
Sedangkan karya yang dipamerkan berasal dari berbagai program studi, mulai dari seni murni, kriya, desain, konservasi hingga tata kelola seni. Semua itu interpretasi dari Post-Machine Algorithm yakni membaca relasi manusia dan mesin dalam lanskap pasca-digital.
"Karya seni tidak semata diposisikan sebagai hasil akhir, melainkan sebagai proses yang menyimpan intuisi, pengalaman hidup, memori kolektif, dan jejak kemanusiaan yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi oleh mesin," katanya.
Nadiyah menambahkan, bahwa pameran tersebut berlangsung hingga tanggal 26 Juni 2026. Selain itu, pameran tersebut terbuka untuk umum dan tidak ada pungutan biaya untuk menikmati karya-karya yang dipamerkan.
Salah satu pengunjung, Jaya (31) mengaku datang karena ajakan temannya yang merupakan alumni ISI Jogja. Menurutnya, karya-karya pada pameran tersebut terbilang bervariatif dan menarik.
"Yang dipamerkan banyak ya, ada desain produk, lukisan, ada juga yang kriya. Jadi saya kira menarik, apalagi ini untuk merespons pesatnya AI ya," ujarnya.
(ahr/apl)


Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Sederet Jawaban Tiyo Ardiyanto soal Tudingan Aliansi BEM Bersatu