Melihat Kelas 'Kandang Kuda' SMA De Britto dan Cerita di Baliknya

Melihat Kelas 'Kandang Kuda' SMA De Britto dan Cerita di Baliknya

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Jumat, 19 Jun 2026 09:00 WIB
Ruang kelas berjuluk kandang kuda di SMA De Britto Jogja. Foto diunggah Kamis (18/6/2026).
Ruang kelas berjuluk 'kandang kuda' di SMA De Britto Jogja. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Sleman -

Ruangan kelas sekolah biasanya identik dengan ruangan tertutup lengkap dengan pintu dan jendela. Namun, di SMA Kolese De Britto memiliki ruang kelas yang beda dari lainnya karena tidak memiliki pintu dan jendela, ruang tersebut kerap disebut 'kandang kuda'.

Pantauan detikJogja, tampak sebagian besar ruang kelas di De Britto tidak memiliki pintu dan jendela. Tampak hanya tembok dengan tinggi sekitar 1,5 meter sebagai dinding tembok luar kelas tersebut.

Sedangkan ruang kelasnya, khususnya bagian atap bukan eternit namun berupa anyaman bambu yang dicat warna putih. Sementara itu di setiap kelas memiliki satu unit komputer di meja guru, kipas angin, proyektor, papan tulis yang tergabung dengan layar proyektor hingga jam digital pada pojokan papan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, mengatakan sekolah De Britto masih mempertahankan bangunan aslinya. Sehingga ruang kelas siswa tidak memiliki pintu dan jendela.

ADVERTISEMENT

"Kalau kita membicarakan kelas itu sebetulnya sebutannya kandang kuda. Karena apa? Karena tidak ada pintu, jendela dan dindingnya tidak sampai atas. Nah, itu bangunan sejak awal dan belum diubah," katanya kepada detikJogja di SMA Kolese De Britto, Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026) sore.

Danang mengaku ada filosofi di balik bentuk bangunan 'kandang kuda' tersebut.

"Ada filosofinya, kalau kita berbicara masalah lingkungan hidup, ketika kelas itu terbuka seperti itu, otomatis kan udara itu akan mengalir secara alami. Jadi bagaimana udara atau alam itu bisa menyatu dengan anak-anak," ujarnya.

Filosofi selanjutnya, kata Danang, adalah terkait dengan kepekaan dan saling menghargai saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

"Nah, tapi kalau kita berbicara masalah kepekaan, itu adalah bisa saling berbagi dan menghargai antara kelas satu dan yang lain," ucapnya.

Ruang kelas berjuluk 'kandang kuda' di SMA De Britto Jogja. Foto diunggah Kamis (18/6/2026).Ruang kelas berjuluk 'kandang kuda' di SMA De Britto Jogja. Foto diunggah Kamis (18/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

"Misalnya kelas sebelah ini ramai, sementara kelas sebelahnya itu baru ulangan, kira-kira mengganggu nggak? Kan mengganggu toh, Nah, karena itulah latihan tadi, pembentukan karakter yang dilihat dari bentuk bangunannya tadi," lanjut Danang.

Adapun jumlah kelas dengan istilah kandang kuda berjumlah 18 kelas dengan jumlah murid 33-35 untuk satu kelas. Mengingat untuk kelas 10, 11 dan 12 masing-masing memiliki enam kelas. Namun, karena semakin banyaknya siswa membuat De Britto menambah masing-masing tiga kelas.

"Dulunya semua (kelas kandang kuda) Tapi terus karena kelasnya terbatas, dulu kan hanya enam kelas. Sementara kita sekarang menjadi sembilan kelas. Nah, maka kelas-kelas yang tertutup itu sebenarnya dulu itu lab terus kita bongkar, kita jadikan kelas. Terus ini dulu ruang rapat, karena kelasnya kurang, kita bongkar menjadi kelas," katanya.

Di sisi lain, Danang menceritakan De Britto pernah akan membongkar kelas-kelas tersebut dan membangun kelas baru. Namun, rencana itu mendapat penolakan dari alumni De Britto.

"Karena itu bagian dari apa ya, memori mereka ketika sekolah di De Britto," ujarnya.

Terlebih, saat melakukan survei terhadap siswa terkait 'kandang kuda' itu juga tidak ada yang setuju jika bentuknya berubah.

"Dari alumni nggak boleh, terus ketika kemarin kita mencoba untuk survei anak-anak sekarang, anak-anak ini juga mereka nggak cocok (kalau diubah)," ucapnya.

Oleh sebab itu, De Britto tetap mempertahankan bentuk kelas tersebut hingga saat ini. Namun, Danang mengungkapkan jika sebagai gantinya De Britto akan membangun gedung baru.

"Makanya kita mau membuat gedung baru yang tidak mengubah ini, tapi di sebelah timur sana. Karena yang kita butuhkan bukan kelas yang ber-AC, tapi yang kita butuhkan adalah bagaimana kita itu bisa berbagi tadi, berbagi dengan alam dan berbagi terhadap sesama tadi," katanya.




(ahr/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads