Kisah Mila Alumni UGM, Modal 5 Kambing Kini Raup Cuan Ratusan Juta

Kisah Mila Alumni UGM, Modal 5 Kambing Kini Raup Cuan Ratusan Juta

Tim detikJogja - detikJogja
Selasa, 30 Jun 2026 13:35 WIB
Ilustrasi Kambing Kurban
Ilustrasi Kambing. Foto: Patrice Schoefolt/Pexels
Jogja -

Alumni Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Mila (27) sukses mengelola usaha peternakan modern kambing dan domba hingga beromzet ratusan juta rupiah. Ia lebih berfokus pada peningkatan kualitas dan genetika ternak yang terbukti memberikan nilai tambah signifikan.

Peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1-3 yang dikelola Mila dan suaminya kini dikenal luas hingga berbagai daerah di Jawa Timur.

Bersama sang suami, Sahroni, Mila mengembangkan usaha kambing dan domba yang kini memiliki berbagai lini bisnis, mulai dari penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keluarga Sempat Ragu

Keluarga Mila yang berlatar belakang pengusaha kayu sempat ragu saat dia memutuskan menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan UGM. Namun, hal itu justu memotivasi dirinya untuk membuktikan bahwa bidang peternakan itu menjanjikan.

"Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan," kata Mila saat ditemui di kandang Kerabat Ternak, Tuban, Jawa Timur, Senin (29/6), dikutip detikJogja dari situs resmi UGM pada Selasa (30/6/2026).

ADVERTISEMENT

Untuk diketahui, Mila tumbuh dengan karakter pekerja keras dan terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Ketertarikannya pada dunia peternakan sudah muncul sejak remaja. Saat masih SMA kelas 2 pada 2014, ia mulai memelihara 5 ekor domba sebagai langkah awal menekuni usaha.

Usai menyelesaikan pendidikan di Fapet UGM pada 2020, Mila memutuskan untuk fokus menekuni usaha peternakan. Berbekal ilmu yang diperoleh selama kuliah menjadi pondasi penting dalam menjalankan bisnisnya.

"Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha," ujarnya.

Selama kuliah, Mila aktif memperkaya pengetahuannya dengan belajar langsung melalui para dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah.

"Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan," katanya.

Pernah Rugi Akibat Ternak Mati

Perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus. Mila pernah mengalami kerugian akibat kematian ternak yang ia pelihara. Namun, setiap kejadian kematian hewan ternak selalu dijadikan bahan evaluasi melalui observasi sebagai bahan pembelajaran.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami manajemen kesehatan ternak, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang kambing dan domba.

Saat ini Kerabat Ternak 1-3 berkembang menjadi usaha peternakan yang tidak hanya berfokus pada jumlah populasi, tetapi juga fokus menjaga kualitas ternak dan kenyamanan hewan.

Selain menjaga kebersihan kandang, ia juga mengelola pakan secara optimal dengan memanfaatkan lahan hijauan seluas sekitar 1,5 hektare yang dipadukan dengan pakan tambahan, seperti ampas tahu dan kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

Alih-alih fokus mengejar jumlah populasi, Mila lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas dan genetika ternak. Strategi itu terbukti berhasil memberikan nilai tambah yang sangat signifikan.

Harga Kambing Tembus Rp 23 Juta

Untuk kambing kualitas unggul, harga jual bisa mencapai Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sementara untuk kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta.

Selain menyediakan ternak untuk kebutuhan hewan kurban dan akikah, Kerabat Ternak juga mengembangkan usaha penjualan sapronak, mulai dari susu cempe, vitamin, hingga berbagai perlengkapan peternakan yang telah dipasarkan ke sejumlah wilayah di Jawa Timur.

Momentum Idul Adha menjadi salah satu puncak usaha Mila dan suami. Dalam dua bulan menjelang musim kurban tahun 2024, omzet Kerabat Ternak disebut mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta.

Sedangkan pada hari biasa, usaha akikah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah bisnis sarana produksi ternak sekitar Rp75 juta. Jangkauan pemasarannya pun terus berkembang hingga Lamongan, Bojonegoro, dan berbagai wilayah lain di Jawa Timur.

Aktif Bagikan Ilmu

Mila juga aktif berbagi pengetahuan kepada masyarakat melalui media sosial sejak tahun 2023 melalui media sosial TikTok. Beragam konten edukatif yang diunggah menjadi media untuk memperkenalkan praktik peternakan modern.

Keberadaan Kerabat Ternak juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini, Mila dan suaminya mempekerjakan dua orang karyawan serta aktif membangun kelompok ternak bersama masyarakat.

Salah satunya dirasakan oleh Erma, anggota kelompok ternak binaan. Menurutnya, keberadaan Kerabat Ternak sangat membantu peternak kecil, terutama dalam hal pemasaran susu kambing dan peningkatan pengetahuan mengenai peternakan.

"Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak," ujarnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Agung Setiawan, siswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. Ia mengaku memperoleh banyak pengetahuan serta pengalaman selama menjalani PKL di Kerabat Ternak.

"Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini," katanya.

Menurut Mila, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan semata, melainkan juga dari kemampuan menghadirkan ruang belajar dalam memberdayakan masyarakat serta menciptakan sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Halaman 2 dari 2
(dil/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads