Titi Wati Wanita 220 Kg, Pernah Jalani Operasi Bariatrik Sebelum 'Ngetren'

Kalimantan Flashback

Titi Wati Wanita 220 Kg, Pernah Jalani Operasi Bariatrik Sebelum 'Ngetren'

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Sabtu, 08 Agu 2026 06:01 WIB
Titi Wati muda
Foto: Titi Wati, perempuan Palangka Raya dengan berat 220kg (ist.)
Palangka Raya -

Tujuh tahun lalu, perhatian publik tertuju pada Titi Wati, perempuan berusia 37 tahun yang mengalami obesitas. Pada Januari 2019, nama Titi Wati ramai disorot media karena memiliki berat 220 kilogram (sebelumnya sempat diberitakan seberat 350 kilogram) hingga susah gerak.

Jika kini operasi bariatrik seolah menjadi 'tren' di kalangan artis, perempuan asal Palangka Raya itu sudah pernah menjalani saat prosedurnya belum kerap terdengar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Titi Wati pemilik berat 350 kgTiti Wati. (ist.)

Dalam arsip liputan BeritaKlik, Titi bercerita bahwa semua bermula saat tahun 2013 berat badannya mulai naik. Ia kemudian disebut menjadi perempuan tergemuk di Kalimantan Tengah. Titi kemudian makin kesulitan bergerak dan lebih banyak berbaring dengan posisi tengkurap.

"Saya berharap pemerintah bisa memberikan bantuan kepada saya untuk pengobatan menurunkan berat badan yang sudah mencapai sekitar 350 kilogram lebih," kata Titi Wati di rumah kontrakannya, Senin (7/1/2019).

Kala itu Titi bercerita, sudah berbagai cara dilakukannya untuk menyembuhkan obesitas atau kelebihan berat badan yang dideritanya. Salah satunya dengan mengonsumsi minuman herbal penurun berat badan. Cara itu diakuinya menunjukkan hasil karena berat badannya sempat berkurang.

Titi Wati saat usia 21 tahun (IST)Titi Wati saat usia 21 tahun (IST)

Namun, karena harga minuman herbal itu makin mahal, Titi tidak sanggup lagi membelinya, sehingga akhirnya pola makannya pun kembali membuat berat badannya naik lagi.

Segala obat dan jamu sudah dia coba, termasuk berpuasa Senin-Kamis. Namun hasilnya belum memuaskan.

"Setelah tidak mampu membeli minuman herbal penurun berat badan itu, sayapun menjalani aktivitas saya seperti orang normal. Makan dan minumpun juga tidak terkontrol lagi, sehingga berat badan saya yang saat itu sempat 167 kilogram, kini menjadi 350 kilogram lebih," katanya.

Baca selanjutnya, Keseharian Titi Saat Alami Obesitas...

Keseharian Titi Saat Alami Obesitas

evakuasi titi watiTiti Wati (ist.)

Ibu satu anak itu mengaku memang suka makan camilan setiap harinya. Bahkan minuman es dan makanan gorengan, tidak luput jadi santapannya setiap hari.

Titi kemudian berjuang dengan mengurangi porsi makan camilan karena khawatir badannya terus membesar seiring berat badannya yang terus naik.

Sebab, saat itu kondisi Titi sudah sama sekali tidak bisa berdiri karena kakinya tidak mampu untuk menahan berat badannya yang kian membesar setiap hari. Titi mengaku tidak pernah melakukan pengobatan atau memeriksa kondisi kesehatannya ke dokter dan rumah sakit.

"Setiap kali bangun tidur bagian kaki saya selalu sakit seperti keram, kemudian badan terasa sakit semua," ucap perempuan yang memiliki hobi bernyanyi tersebut.

Akibat berat badan yang berlebihan, Titi Wati kini tidak bisa duduk, apalagi berjalan. Untuk sehari-hari, ia hanya tiduran di lantai rumah dengan terus mengemil makanan.

Titi Wati mudaTiti Wati muda. (ist.)

Saat diwawancara BeritaKlik, Titi menjelaskan dia menjalani kehidupan dari tempatnya terbaring. Mandi hingga buang air besar dijalani dari atas tempat dia berbaring.

"Kalau mandi, dimandiin anak pakai selang, diguyur dari atas sampai bawah terus digosok juga sama anak kadang juga sama suami kalau di rumah," ungkap Titin.

Untuk BAB, Titin, bercerita keluarga punya pispot khusus untuk dirinya. Aktivitas yang dia lakukan semuanya berada di ruang tamu.

"BAB juga di sini (ruang tamu). Ada pispot gitu untuk saya buang air," ungkapnya.

Sedangkan untuk tidur, Titin mengaku hanya bisa 1 posisi saja yaitu tengkurap. Namun sesekali Titin tidur dengan posisi miring.

"Tidurnya tengkurap, kadang juga miring. Cuma kalau miring lama-lama sakit karena kan ketindih badan," ucapnya.

Namun Titin tetap bersyukur karena keluarga dan suaminya tetap mau membantunya. Bahkan, tetangga Titin juga memberi dukungan untuk kesembuhan dirinya.

"Alhamdulillah anak sama suami, tetangga juga pada bantu saya, pada dukung saya," tuturnya.

Edi (52), suaminya sehari-hari berprofesi sebagai pencari kayu hutan. Titi mengaku Edi selalu meminta Wati agar mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan.

"Kata suami saya, ambil hikmahnya saja dan syukuri keadaan yang sudah diberikan Tuhan. Mau bagaimana lagi kami berbuat kalau ini sudah nasib dari keluarga kami," ucap Titi menirukan perkataan suaminya.

Proses Evakuasi Titi yang Tak Mudah

Titi WatiTiti Wati Foto: Titi Wati dengan berat 350 kg (ist.)

Kondisi Titi kemudian mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Wali Kota Palangkaraya, Fairid Naparin menyatakan pihaknya akan membantu Titi Wati agar kembali sehat.

Kala itu Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Palangkaraya akan segera menghubungi Titi Wati untuk mendengar langsung keluhannya dan bantuan yang dia harapkan.

Sebelum pemeriksaan lebih lanjut, Titi harus dievakuasi terlebih dahulu dari rumah kontrakannya. Namun ini bukan hal mudah.

Dinas Kesehatan Pemprov Kalimantan Tengah (Kalteng) harus putar otak untuk mengevakuasi Titi Wati. Sebab, dengan berat badannya, Titi tidak bisa dikeluarkan hanya dari pintu rumahnya.

"Untuk evakuasi ke rumah sakit, harus membongkar pintu atau lewat jendela. Itu kalau diizinkan keluarga," ujar Kepala Dinas Pemprov Kalimantan Tengah (Kalteng) saat itu, dr Suyuti Syamsul, saat berbincang dengan BeritaKlik, Selasa (8/1/2019).

Suyuti mengatakan bahwa berat badan 350 kg yang disebutkan Titi hanyalah angka perkiraan. Titi diketahui terakhir menimbang berat badan pada tahun 2016. Untuk mendapatkan angka pasti berat Titi, dibutuhkan alat timbang khusus yang ada di rumah sakit.

Titi kemudian dijadwalkan untuk melakukan pemeriksaan di RSUD dr Doris Sylvanus. Titi ditawari untuk menjalani operasi reseksi lambung atau bariatrik. Pemprov Kalteng yang menanggung total seluruh biaya.

"Kalau Bu Titi dan keluarga setuju, rencananya RSUD Doris akan melakukan operasi reseksi lambung dengan mendatangkan ahli yang belum ada dari luar provinsi," ucap dr Suyuti.

Untuk mengangkat Titi, Pemprov Kalteng menjebol dinding dan membawanya menggunakan truk forklift. Evakuasi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Sosial Kalimantan Tengah, RSUD dr Doris Sylvanus, Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya, bekerjasama dengan Damkar dan PUPR setempat.

"Untuk mengangkatnya, kami akan siapkan forklift. Beban maksimal 1 ton, jadi saya kira kuat. Untuk membawanya ke RS, ambulans biasa tidak bisa. Jadi rencananya pakai truk pemadam kebakaran atau pikap. Dengan kondisi seperti ini, saya harap semua maklum," kata Wakil Direktur RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya, Theodorus Sapta Atmadja, setelah menjenguk Titi di rumahnya, Selasa (8/1/2019).

RSUD Doris Sylvanus Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) juga sudah menyiapkan 16 dokter untuk menangani Titi. Tim terdiri dari 6 orang tim dokter dari Bali dan sekitar 10 orang tim dokter dari Palangkaraya. Dokter yang dilibatkan di antaranya dokter bedah, anestesi, penyakit jantung, dan paru.

"Kita berharap tindakan operasi lambung ini akan menurunkan berat badan selama sebulan turun 15-20 kilogram. Operasi lambung, volume lambung akan berkurang 50 persen," kata dr Theo.

Evakuasi Titi Wati dari rumahnya menuju mobil berlangsung dramatis pada Jumat (11/1/2019). Butuh waktu hampir satu jam bagi Titi untuk diangkut oleh sedikitnya 20 orang.

Kondisi Titi yang tak mampu lagi berjalan membuatnya harus ditandu 20 petugas dari damkar dan tagana secara estafet melewati dua jendela yang dijebol untuk jalur evakuasi.

Setelah evakuasi dan perawatan, barulah diketahui bobot Titi adalah 220 kg. Alat timbangan yang digunakan untuk menimbang Titi adalah alat timbang duduk yang biasa buat menimbang beras. Perlu 20 orang untuk melakukan penimbangan itu.

Hingga akhirnya pada Selasa (15/1/2019), Titi berhasil menjalani operasi bariatrik yang saat itu prosedurnya belum umum terdengar. Operasi dilakukan di ruang bedah sentral di RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya. Operasi yang dimulai pukul 10.15 Wita itu berakhir sekitar pukul 12.45 Wita.

Titi Wati kemudian masih perlu dirawat selama satu bulan setelah menjalani operasi bariatrik. Kondisi Titi terus dipantau oleh tim dokter.

Baca selanjutnya, Hidup Titi Wati Pascaoperasi...

Hidup Titi Wati Pascaoperasi

Titi Wati mudaTiti Wati muda. (ist.)

Pada Selasa (21/1/2019), Titi Wati diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Perempuan itu pulang menggunakan mobil pikap yang semula mengantarnya ke rumah sakit setempat. Sebab, tidak ada ambulans yang muat.

Dalam pengantaran terhadap perempuan itu ke kediamannya, pihak rumah sakit sama sekali tidak ada kendala. Namun, untuk mengangkut yang bersangkutan tentunya memerlukan jumlah tenaga banyak.

Kondisi fisik Titi Wati (37) kemudian berangsur mengalami kemajuan setelah menjalani operasi bariatrik. Tim dokter ahli asal Sanglah, dr Gede Eka Rusdi A, MARS, Sp B-KBD mengatakan Titi sudah bisa duduk.

"Sekarang astungkara, dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa, Titi yang bertahun-tahun telungkup sekarang sudah bisa duduk, syukurlah," katanya, Rabu (23/1/2019).

Rusdi menerangkan kondisi Titi juga masih terus dipantau oleh nutrisionis dan juga rehab medik. Kondisi fisik Titi juga dilaporkan semakin membaik.

Berangsur-angsur Titi juga sudah bisa duduk hingga berdiri sendiri, meski tidak lama kurang lebih 10 menit.

"Berdiri 10 menit. Dokter bilang harus dilatih kakinya, gerakkan segala tangan, tapi kalau dipaksain nggak bisa juga. Tiap hari memang ada belajar berdiri," ujar Titi, Rabu (30/1/2019).

Adapun untuk duduk, ia sudah bisa bertahan hingga setengah jam. Setelah itu, ia tiduran lagi karena pinggangnya pegel.

"Seneng. Sudah bisa bolak-balik badan. Miring-miring," tutur Titi dengan riang.

Guna menggenjot berat badannya turun, ia menyetop berbagai kegemaran buruknya. Seperti ngemil dan makan gorengan.

"Sudah nggak mau gorengan. Nggak kepingin lagi. Nggak tahu kalau lihat deh," ujar Titi dengan bercanda lepas.

Sebagai makan besar, ia kini makan ikan gabus tanpa garam dan vetsin. Selain itu, ia minum yogurt dan susu Nutrijel.

"Kalau untuk menu sudah bisa makan bubur sama ikan kukus. Sebelumnya cuma telur putih sama tahu, agar-agar, sama susu. Sekarang sudah bisa makan bubur, buburnya juga cuma 2 sendok. Cuma bubur nasi saja nggak dikasih rasa-rasa, sudah hampir semingguan ini," tutur Titi.

Wanita penderita obesitas bernama Titi Wati (40) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) meninggal dunia karena komplikasi usai dirawat di rumah sakit (RS) dr. Doris Sylvanus Hairil Anwar.Wanita penderita obesitas bernama Titi Wati (40) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) meninggal dunia karena komplikasi usai dirawat di rumah sakit (RS) dr. Doris Sylvanus Hairil Anwar. Foto: Wanita penderita obesitas bernama Titi Wati (40) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) meninggal dunia. (dok.istimewa)

Namun sayang, takdir menetapkan usia Titi tak panjang meski kondisinya sudah berangsur membaik. Tepat empat tahun kemudian, Senin (30/1/2023), Titi menghembuskan napas terakhirnya.

Ia meninggal dunia karena komplikasi usai dirawat di rumah sakit (RS) dr. Doris Sylvanus. Titi dibawa ke rumah sakit karena kehilangan kesadaran.

"Betul, pasien dinyatakan meninggal pagi tadi sekitar pukul 06.15 WIB dan telah dilakukan pemulasaran siang tadi Pemakaman Sabaru, Kereng Bengkirai," ujar Kepala Bidang Hukum dan Humas RSUD dr. Doris Sylvanus, Hairil Anwar kepada BeritaKlik, Senin (30/1/2023).

Hairil menjelaskan hasil pemeriksaan laboratorium, Titi didiagnosa mengalami Diabetes Melitus (DM) dan mengalami infeksi saluran kencing. Saat tiba di rumah sakit kondisi Titi sudah dalam keadaan koma.

"Tadi malam sekitar pukul 02.19 WIB, dini hari pasien tersebut masuk rumah sakit memang sudah tak sadarkan diri, iya (koma)," terangnya.

"Memang beberapa kali dilakukan perawatan di rumah sakit Doris. Setelah yang bersangkutan dinyatakan sehat dan sembuh maka bisa untuk pulang. Tapi semalam kami terima laporan dari keluarga jika bu Titi kesadaran menurun sehingga kami evakuasi ke rumah sakit," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3
(aau/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads