Daerah rumah pensiun Presiden RI ke-7 Joko Widodo, yakni Colomadu, kini bukan kecamatan biasa di Karanganyar. Kawasannya sudah berkembang dengan nilai tanah yang melejit dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data dari Rumah123, median harga tanah di Colomadu tembus Rp 3,83 juta per meter persegi pada akhir Mei 2026 dari yang sebelumnya Rp 3,58 juta per meter persegi.
"Angka ini menempatkan Colomadu sebagai kawasan dengan harga tanah tertinggi di seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar," kata Marisa Jaya selaku Head of Research Rumah123 kepada BeritaKlik pada Sabtu (6/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga tanah ini ternyata mirip dengan kisaran median harga tanah di daerah satelit Jakarta. Beberapa daerah di Bekasi dan Cikarang, median harga tanahnya saat ini juga tembus Rp 3,40-3,70 juta per meter persegi.
Lalu, harga median tanah di kawasan Sawangan, Depok juga sudah mencapai Rp 3,80 juta per meter persegi dan Gunung Putri di Bogor Rp 3,80 juta per meter persegi.
Harga tanah tersebut mungkin masih rendah jika dibandingkan dengan nilai tanah di Jakarta. Namun, mengingat Colomadu ini hanya sebuah kecamatan, peningkatan nilai tanah ini adalah sebuah rekor.
"Dengan median harga tanah Rp 3,83 juta per meter persegi per Mei 2026, Colomadu saat ini sangat setara dengan kawasan suburban Jabodetabek kelas menengah," beber Marisa.
Bisa Menjadi Kota Satelit Solo
Kota satelit merupakan sebutan bagi daerah penunjang pusat kota. Umumnya pekerja kelas menengah apabila tidak bisa membeli rumah di kota besar, mereka akan mencari ke kota pinggiran.
Sebagai contoh Jakarta memiliki beberapa kota satelit, seperti Depok, Bekasi, Bogor, hingga Tangerang.
Peningkatan harga tanah dan kondisi di Colomadu saat ini dilihat oleh Rumah123 bisa menjadi kota satelit bagi kota besar didekatnya, yakni Solo.
Harga Rumah di Colomadu Sudah Tembus Miliaran
Rumah123 menemukan bukan hanya tanah, harga rumah di sana juga sudah tembus miliaran. Marisa mengatakan ada beberapa segmen bahwa pasar di Colomadu. Pertama segmen rumah seharga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliaran yang dimiliki oleh sekitar 42 persen dari total pasokan rumah di Colomadu. Sementara rumah Rp 1-2 miliaran 31 persen dari total pasokannya. Sisanya 27 persen adalah rumah di bawah Rp 500 juta atau di atas Rp 2 miliar.
"Jika diakumulasikan, hampir 75 persen penawaran hunian di kawasan ini berada di rentang Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar. Menariknya, hunian dengan harga di atas Rp 1 miliar berkontribusi sebesar 48 persen dari total suplai di Colomadu. Porsi ini tergolong sangat signifikan untuk ukuran wilayah tingkat kabupaten. Bahkan, untuk segmen premium di atas Rp 5 miliar, sudah tercatat ada 57 listing," ungkap Marisa.
Pertumbuhan nilai properti yang pesat ini menjadikan Colomadu sebagai penyumbang pasokan rumah terbesar di Kabupaten Karanganyar, sekitar 56 persen.
Dilihat dari demografi usia pembeli rumah di Colomadu, terbanyak dari kalangan Gen Z dan milenial yang usianya berkisar 25-34 tahun. Jumlah pembeli di rentang usia ini sekitar 38 persen.
"Kelompok terbesar yang merupakan first-time home buyers (pembeli rumah pertama). Kelompok inilah yang menggerakkan tingginya enquiry (permintaan) pada hunian di bawah Rp 1 miliar," beber Marisa.
Kalangan Gen Z berusia 18-24 tahun juga turut menjadi kelompok usia pembeli rumah terbesar ketiga, yakni sekitar 30 persen.
Lalu, kelompok usia mapan, sekitar 45-54 tahun juga banyak yang memiliki rumah di sini, tetapi bukan rumah pertama. Mereka membeli sebagai investor yang mengincar produk properti premium di atas Rp 1 miliar.
Daya Tarik Colomadu
1. Bandara Adi Soemarmo
Akses ke Bandara Adi Soemarmo dari Colomadu kini makin mudah. Berkat ada bandara ini area komersialnya juga berkembang pesat dan jadi motor penggerak utama bagi aktivitas logistik, industri perhotelan, dan mobilitas bisnis.
2. Tol Trans-Jawa Ruas Solo-Ngawi
Jalan ini membuka gerbang distribusi yang terhubung dengan sisi barat Karanganyar.
3. Tol Solo-Yogyakarta
Tol yang sedang dalam tahap pembangunan ini nantinya akan tembus ke Colomadu dan memberikan akses ke arah Yogyakarta sehingga jarak tempuhnya makin cepat dan mudah.
"Colomadu pun sukses bertransformasi menjadi hub atau titik simpul strategis antara Solo, Yogyakarta, dan Semarang (Joglosemar)," jelasnya.
(aqi/aqi)










































