detikBali

Iring-Iringan Ngodak Sesuhunan Warga Klungkung Jadi Tontonan Turis di Ubud

Terpopuler Koleksi Pilihan

Iring-Iringan Ngodak Sesuhunan Warga Klungkung Jadi Tontonan Turis di Ubud


Aryo Mahendro - detikBali

Iring-Iringan 13 simbol suci dari Klungkung dalam ritual Ngodak Sesuhunan jadi tontonan para turis di Jalan Raya Ubud, Gianyar, Kamis (18/6/2026). (Aryo Mahendro/detikBali).
Foto: Iring-Iringan 13 simbol suci dari Klungkung dalam ritual Ngodak Sesuhunan jadi tontonan para turis di Jalan Raya Ubud, Gianyar, Kamis (18/6/2026). (Aryo Mahendro/detikBali).
Gianyar -

Ratusan warga Desa Adat Pau, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali, baru saja menyelesaikan ritual ngodak sesuhunan di Puri Agung Ubud, Kabupaten Gianyar. Iring-iringan tanda ritual itu sudah selesai jadi tontonan budaya dadakan bagi para turis di perempatan Pasar Seni Ubud dan Puri Agung Ubud.

Ngodak Sesuhunan (Ngodakin) adalah ritual sakral dalam tradisi Hindu di Bali yang bertujuan untuk memperbaiki, merawat, atau memperbarui simbol suci atau wujud manifestasi Tuhan (pelawatan). Simbol suci itu adalah, barong, rangda, atau arca.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini namanya mendak pelawatan Ida atau wujud dari sesuhunan kami di Desa Adat Pau dalam bentuk barong. Jadi, kami habis ngodakin," kata Ketua Panitia Ngodakin Pralingga Ida Bathara Surya Wirawan ditemui detikBali saat iring-iringan di Jalan Raya Ubud, Kamis (18/6/2026).

Surya mengatakan ada 13 simbol suci yang diritualkan di Puri Agung Ubud. Ritualnya yakni perbaikan dan pembuatan ulang simbol suci berupa barong, rangda, dan ancangan iringan atau anak buahnya rangda.

ADVERTISEMENT

Seusai dibuat baru, 13 simbol suci itu lalu dipulangkan ke Banjar Pau, Klungkung. Belasan simbol suci itu rencananya akan diupacarakan lagi pada 20 Juni 2026.

"Setelah sampai di Klungkung diupacarai lagi. Tanggal 20 ini upacaranya," kata Surya.

Surya menyebut ritual itu sejatinya bukan dalam rangka umanis Galungan. Hanya, hari baik dalam pelaksanaan ritual itu bertepatan dengan umanis Galungan.

"Pada umanis Galungan ini kami diberi hari baik untuk menjemput beliau-beliau (13 simbol suci) ini," katanya.

Pantauan detikBali, iring-iringan itu terdiri dari perwakilan 270 warga Desa Adat Pau. Mereka berbaris keluar dari Puri Agung Ubud di sisi utara dan berjalan ke utara di Jalan Raya Ubud, pukul 17.30 Wita.

Para turis yang sedang wara-wiri di sekitaran perempatan, sontak dikejutkan dengan iring-iringan ratusan orang itu. Tak hanya tradisi mapeed atau barisan perempuan membawa gebogan, alunan gamelan baleganjur yang memancing perhatian para turis.

Semua turis merapat ke trotoar. Tak lupa, para turis menyalakan kamera di ponselnya untuk mengabadikan momen langka itu.

Selain iringan Ngodak Sesuhunan dari Klungkung, para turis yang berlalu lalang di Ubud juga dihibur dengan suguhan budaya lain. Tradisi ngelawang atau menari dengan barong babi tiap umanis Galungan yang dilakukan remaja dan anak banjar adat, jadi tontonan para turis di Ubud hingga malam, pukul 19.00 Wita.




(nor/nor)










Hide Ads