detikBali
Klungkung

Keluarga Man Colik Mecaru di TKP, Berharap Pelaku Segera Tertangkap

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026
Klungkung

Keluarga Man Colik Mecaru di TKP, Berharap Pelaku Segera Tertangkap


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Keluarga Man Colik, korban pembunuhan di Klungkung melakukan ritual Mecaru di lokasi kejadian, Senin (6/7/2026).
Keluarga Man Colik, korban pembunuhan di Klungkung melakukan ritual Mecaru di lokasi kejadian, Senin (6/7/2026). (Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Keluarga I Wayan Cita (50) alias Man Colik, korban pembunuhan di Klungkung, Bali, menggelar ritual mecaru di tempat kejadian perkara (TKP) di Sungai Bubuh, Desa Adat Lepang, Kecamatan Banjarangkan, Senin (6/7/2026) pagi. Upacara tersebut dilakukan untuk memanggil arwah korban yang dipercaya belum kembali, sekaligus memohon agar pelaku pembunuhan segera tertangkap.

Sejak pukul 09.00 Wita, puluhan anggota keluarga korban dipimpin seorang mangku mengikuti rangkaian ritual. Prosesi diawali dengan menyiapkan sesajen di lokasi yang diduga menjadi tempat terakhir Man Colik mengembuskan napas. Setelah doa bersama dipanjatkan, ritual diakhiri dengan melarungkan seekor bebek hitam beserta sesajen ke Sungai Bubuh.

Adik kandung korban, I Ketut Buda Ana, mengatakan ritual tersebut merupakan rangkaian upacara Nebusin, Ngulapin, dan Mecaru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kita melakukan Nebusin, Ngulapin, dan Mecaru. Nebusin bertujuan untuk memanggil arwah (atma) agar kembali ke roh kasarnya. Mecaru untuk menetralkan tempat ini agar tidak terjadi kembali kejadian seperti ini," jelas Buda Ana.

ADVERTISEMENT

Selain itu, keluarga juga memanjatkan doa agar pelaku pembunuhan segera terungkap. Harapan tersebut turut disampaikan dalam prosesi pemanggilan roh korban yang dipercaya dapat kembali ke tubuh kasarnya sehingga kasus pembunuhan bisa segera terungkap.

"Semua keluarga juga berdoa agar kasusnya cepat terungkap. Agar cepar diketahui siapa yang membunuh kakak saya ini," ujar Buda Ana.

Ritual mecaru dipercaya umat Hindu sebagai upacara penyucian lingkungan sekaligus penetral energi negatif atau Bhuta Kala agar kembali menjadi kekuatan positif. Keyakinan itulah yang melandasi keluarga Man Colik menggelar ritual tersebut.

Buda Ana menegaskan keluarga menyerahkan sepenuhnya proses pengungkapan kasus kepada kepolisian. Ia berharap polisi segera menuntaskan penyelidikan dan menangkap pelaku pembunuhan terhadap kakaknya.

Selain di TKP, ritual mecaru juga akan kembali digelar hingga menjelang prosesi ngaben. Menurut Buda Ana, upacara tersebut dilakukan untuk menetralisir kematian Man Colik yang dianggap tidak wajar.

"Sebelum ngaben kita upacarakan dulu, biar matinya ini namanya salah pati, biar menjadi mati normal," pungkasnya.

Polisi Periksa 13 Saksi

Sebelumnya, kematian Man Colik, warga Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, menggegerkan warga. Pedagang lawar godel itu ditemukan tewas mengapung di Sungai Bubuh pada Kamis (2/7) sekitar pukul 08.00 Wita. Saat ditemukan, tubuh korban mengalami sejumlah luka tusukan. Kalung emas yang dikenakannya juga dilaporkan hilang.

Hingga kini, Satreskrim Polres Klungkung masih melakukan serangkaian penyelidikan. Polisi telah melakukan olah TKP, memeriksa sejumlah saksi, mengumpulkan barang bukti, serta memeriksa rekaman CCTV dan sejumlah pedagang emas.

Kasi Humas Polres Klungkung Iptu I Dewa Nyoman Alit Purnawibawa mengatakan hasil autopsi menemukan empat luka tusukan di tubuh korban. Polisi juga telah memeriksa 13 saksi untuk mengungkap kasus tersebut.

"Perkembangan terkini, berupa hasil autopsi ditemukan ada empat luka tusukan. Kami juga sudah memeriksa total 13 saksi," ujar Alit.




(dpw/dpw)










Hide Ads