detikBali

Mengapa Pemain Sepakbola Gandeng Anak-anak Saat Masuk Lapangan?

Terpopuler Koleksi Pilihan

Mengapa Pemain Sepakbola Gandeng Anak-anak Saat Masuk Lapangan?


Fahri Zulfikar - detikBali

BRASILIA, BRAZIL - JUNE 26: Cristiano Ronaldo of Portugal speaks to a player escort prior to the 2014 FIFA World Cup Brazil Group G match between Portugal and Ghana at Estadio Nacional on June 26, 2014 in Brasilia, Brazil.  (Photo by Adam Pretty/Getty Images)
Foto: Megabintang Portugal, Cristiano Ronaldo, berbincang dengan Player Escort pada Piala Dunia 2022. (Getty Images/Adam Pretty)
Denpasar -

Piala Dunia 2026, kompetisi sepakbola paling bergengsi antarnegara, telah bergulir di Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat (AS) sejak Jumat (12/6/2026). Kamera menyorot berbagai hal, termasuk ketika para pemain baru memasuki lapangan. Saat itu, para pemain terlihat menggandeng anak-anak.

Anak-anak yang mendampingi pemain saat memasuki lapangan dikenal dengan istilah player escort atau maskot anak. Dilansir dari detikEdu, mereka juga sering disebut sebagai pendamping pemain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Maskot Anak

Pemain sepakbola, sebelum era 1990-an, masuk ke lapangan tanpa pendamping. Maskot anak mulai muncul pada pertengahan 1990-an, salah satunya dalam pertandingan antara Liverpool melawan Everton. Anak-anak saat itu berdiri di dekat wasit dan kapten tim saat sesi foto.

Salah satu maskot Everton kala itu adalah Wayne Rooney muda, sosok yang kelak menjadi legenda Manchester United dan Tim Nasional (Timnas) Inggris. Meski demikian, kehadiran maskot anak saat itu belum menjadi standar di setiap pertandingan.

Tradisi ini kemudian meluas setelah FIFA dan UNICEF berkolaborasi dalam kampanye "Say Yes For Children" pada Piala Dunia 2002. Kampanye tersebut bertujuan mempromosikan dan melindungi hak anak atas rekreasi yang sehat serta pendidikan dasar yang berkualitas.

Tujuan dan Seleksi

Kehadiran anak-anak di lapangan memiliki simbolisme kuat. Selain menunjukkan sepak bola merupakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan, keberadaan mereka menjadi simbol dukungan agar pemain menjunjung tinggi sportivitas dan tidak bermain kasar. Kampanye ini sekaligus mengajak masyarakat untuk membela hak hidup anak yang layak.

Seiring waktu, peran maskot anak pun berkembang. Sistem pemilihan player escort biasanya tergantung pada kebijakan klub dan penyelenggara kompetisi. Beberapa klub menjalin kerja sama dengan sekolah lokal atau tim junior untuk menyeleksi anak-anak yang akan terlibat. Di beberapa negara, terdapat persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh calon pendamping pemain, tergantung pada klub yang didukung.

Artikel ini telah tayang di detikEdu. Baca selengkapnya di sini!




(iws/iws)











Hide Ads