Khutbah Jumat bulan Syawal menjadi momen penting untuk mengingatkan kembali makna kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan. Pada bulan ini, umat Islam diharapkan mampu menjaga semangat ibadah dan meningkatkan kualitas keimanan.
Pesan yang disampaikan dalam khutbah Jumat di bulan Syawal dapat berfokus pada konsistensi amal, keikhlasan, serta pentingnya mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun selama Ramadan. Oleh karena itu, penyampaian khutbah yang menyentuh hati menjadi hal yang sangat diperlukan.
Contoh Khutbah Jumat Bulan Syawal yang Menyentuh Hati
1. Khutbah Jumat Menjaga Semangat Ibadah di Bulan Syawal
Khutbah Pertama
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
إِ ﱠن اﻟْﺣَﻣْدَ ِ ﱠِ ﻧَﺣْﻣَدُهُ وَﻧَﺳْﺗَﻌِﯾْﻧُﮫُ وَﻧَﺳْﺗَﻐْﻔِرُهُ، وَﻧَﻌُوذُ ﺑِﺎِ ﻣِنْ ﺷُرُوْرِ أَﻧْﻔُﺳِﻧَﺎ وَﻣِنْ ﺳَ ﱢﯾﺋَﺎتِ أَﻋْﻣَﺎﻟِﻧَﺎ، ﻣَنْ ﯾَﮭْدِ ُﷲ ﻓَﻼَ ﻣُﺿِ ﱠل ﻟَﮫُ وَﻣَنْ ﯾُﺿْﻠِلْ ﻓَﻼَ ھَﺎدِيَ ﻟَﮫُ. أَﺷْﮭَدُ أَ ﱠن ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ ُﷲ وَﺣْدَهُ ﻻَ ﺷَرِﯾْكَ ﻟَﮫُ وَأَﺷْﮭَدُ أَ ﱠن ﻣُﺣَ ﱠﻣدًا ﻋَﺑْدُهُ وَرَﺳُوْﻟُﮫُ
اَﻟﻠﱠﮭُ ﱠم ﺻَ ﱢل وَﺳَﻠﱢمْ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺑِ ﱢﯾﻧَﺎ وَرَﺳُوْﻟِﻧَﺎ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ ﺻَﻠﱠﻰ ا ُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ وَﻋَﻠَﻰ آﻟِﮫِ وَأَﺻْﺣَﺎﺑِﮫِ وَﻣَنْ ﺗَﺑِﻌَﮭُمْ ﺑِﺈِﺣْﺳَﺎنٍ إِﻟَﻰ ﯾَوْمِ اﻟ ﱢدﯾْنِ
ﯾَﺎ أَ ﱡﯾﮭَﺎ اﻟ ﱠﻧﺎسُ ا ﱠﺗﻘُوا رَ ﱠﺑﻛُمْ اﻟﱠذِي ﺧَﻠَﻘَﻛُمْ ﻣِنْ ﻧَﻔْسٍ وَاﺣِدَةٍ وَﺧَﻠَقَ ﻣِﻧْﮭَﺎ زَوْﺟَﮭَﺎ وَﺑَ ﱠث ﻣِﻧْﮭُﻣَﺎ رِﺟَﺎﻻً ﻛَﺛِﯾراً وَﻧِﺳَﺎءً وَاﺗ ﱠﺗﻘُوا ﱠَﷲ اﻟﱠذِي ﺗَﺗَﺳَﺎءَﻟُونَ ﺑِﮫِ وَاﻷَرْﺣَﺎمَ إِ ﱠن ﱠَﷲ ﻛَﺎنَ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ رَﻗِﯾﺑﺎً
ﯾَﺎ أَ ﱡﯾﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آَﻣَﻧُوا ا ﱠﺗﻘُوا ﱠَﷲ ﺣَ ﱠق ﺗُﻘَﺎﺗِﮫِ وَﻻَ ﺗَﻣُوﺗُ ﱠن إِ ﱠﻻ وَأَﻧْﺗُمْ ﻣُﺳْﻠِﻣُونَ
ﯾَﺎ أَ ﱡﯾﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آَﻣَﻧُوا ا ﱠﺗﻘُوا ﱠَﷲ وَﻗُوﻟُوا ﻗَوْﻻً ﺳَدِﯾدًا ، ﯾُﺻْﻠِﺢْ ﻟَﻛُمْ أَﻋْﻣَﺎﻟَﻛُمْ وَﯾَﻐْﻔِرْ ﻟَﻛُمْ ذُﻧُوﺑَﻛُمْ وَﻣَنْ ﯾُطِﻊِ ﱠَﷲ وَرَﺳُوﻟَﮫُ ﻓَﻘَدْ ﻓَﺎزَ ﻓَوْزًا ﻋَظِﯾﻣًﺎ
أَ ﱠﻣﺎ ﺑَﻌْدُ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji dan syukur marilah kita haturkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tak terhitung. Di antara nikmat terbesar adalah hidayah iman dan Islam, keamanan, kesehatan, serta rezeki yang halal dan mencukupi.
Berkat semua itu, kita dapat hadir di masjid ini dengan mudah dan selamat untuk menunaikan ibadah shalat Jumat, salah satu kewajiban dan syiar yang mulia dalam Islam. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua agar bisa mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, penutup para nabi dan pemimpin seluruh umat manusia, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh kaum Muslimin yang mengikuti ajaran beliau dengan ikhlas.
Kami juga berpesan kepada seluruh jemaah dan diri pribadi agar senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya, sesuai kemampuan kita, di mana pun berada.
Dengan ketakwaan, Allah akan memudahkan segala urusan dan mencurahkan rezeki dari arah yang tidak terduga.
Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ath-Thalaq ayat 2-3:
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
Dan dalam ayat selanjutnya (Ath-Thalaq: 4), Allah juga berfirman:
"Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya."
Saat ini kita telah memasuki bulan Syawal setelah sebulan penuh beribadah di bulan Ramadan. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita seperti puasa, shalat, sedekah, dan amal shalih lainnya.
Bulan Syawal juga merupakan bulan penuh keberkahan. Ia termasuk dalam rangkaian bulan haji, bulan untuk memperkuat ketaatan kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
"(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah Mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal."
Dalam Tafsir Ibnu Abbas, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan "bulan-bulan yang dimaklumi" adalah Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijjah, di mana seseorang diperbolehkan untuk memulai ihram haji.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid menyebutkan bahwa pernikahan sangat dianjurkan dilangsungkan di bulan Syawal. Selain itu, bagi yang ingin mengqadha i'tikaf yang tertinggal pada bulan Ramadan, maka Syawal menjadi waktu yang tepat untuk menggantinya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dikenal menjaga konsistensi dalam mengamalkan ibadah-ibadah sunnah. Salah satunya adalah i'tikaf. Beliau pernah tidak sempat beri'tikaf di bulan Ramadan, lalu menggantinya dengan i'tikaf pada bulan Syawal.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ketika Ramadan, beragam ibadah terasa ringan dilakukan karena suasana mendukung: setan dibelenggu, pahala dilipatgandakan, dan lingkungan ramai dengan kebaikan. Namun, memasuki Syawal, semangat itu sering kali memudar.
Hal ini salah satunya karena setan kembali bebas menjalankan misinya: menyesatkan manusia dan menarik mereka menuju neraka, sebagaimana jalan yang ia tempuh.
Agar semangat ibadah tetap terjaga di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya, ada beberapa hal penting yang bisa kita lakukan.
Pertama, kita harus menyadari bahwa istiqamah dalam ketaatan adalah tanda diterimanya amal. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Lail ayat 5-7:
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta meyakini adanya pahala terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan."
Tentang ayat ini, Tafsir Ibnu Katsir mengutip pandangan sebagian ulama salaf yang berkata:
"Balasan dari sebuah kebaikan adalah kebaikan sesudahnya. Dan hukuman dari sebuah keburukan adalah keburukan setelahnya."
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menyampaikan bahwa kebiasaan melanjutkan puasa sunnah setelah Ramadan menunjukkan diterimanya puasa Ramadan. Beliau berkata:
"Sesungguhnya melakukan puasa kembali setelah Ramadan merupakan sebuah tanda bagi diterimanya puasa Ramadan. Allah, jika menerima suatu amalan dari seorang hamba, maka Dia akan memberinya taufik untuk mengerjakan amal shalih sesudahnya. Sebagian ulama mengatakan: 'Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.' Maka siapa yang mengerjakan kebaikan dan melanjutkannya dengan amal baik yang lain, itu adalah tanda bahwa amal sebelumnya diterima. Sebaliknya, jika seseorang melakukan kebaikan lalu diikuti dengan perbuatan buruk, maka itu pertanda amal sebelumnya tidak diterima." (Lathaif Al-Ma'arif, hlm. 388)
Sayangnya, pemahaman ini belum banyak disadari oleh kaum Muslimin. Evaluasi terhadap perkembangan spiritual setelah Ramadan masih jarang dilakukan.
Kalau di bulan Ramadan seseorang rajin ke masjid untuk shalat lima waktu, tapi setelahnya hanya hadir saat Jumat, maka perlu ditinjau kembali niat yang dulu dibawa ketika ke masjid.
Niat yang tidak lurus, tidak semata karena Allah, bisa menyebabkan amal tidak diterima. Maka bila setelah Ramadan seseorang tak lagi mendapatkan taufik untuk ibadah, bisa jadi ini berkaitan dengan niat sebelumnya.
Demikian pula dengan puasa sunnah. Jika setelah Ramadan seseorang tidak pernah menjalankan puasa sunnah, hal ini patut diwaspadai sebagai isyarat bahwa puasanya di bulan Ramadan belum diterima.
Padahal, andai puasa Ramadan ditolak, maka semua letih dan pengorbanan selama bulan suci itu tidak akan membuahkan ganjaran di akhirat, suatu kerugian besar. Oleh karena itu, kita perlu menjaga semangat ibadah pasca-Ramadan.
Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah memilih lingkungan yang baik: berteman dengan orang-orang yang istiqamah dalam ibadah sepanjang tahun, bukan hanya ketika Ramadan.
Biasanya, mereka yang konsisten sudah memiliki motivasi internal yang kuat untuk beribadah, tanpa menunggu dorongan dari luar.
Selain itu, memperbanyak mengingat kematian juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan namun sering dilupakan. Mengingat mati bisa memperkuat semangat untuk terus taat kepada Allah.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ahmad)
Imam Abu Ali Ad-Daqaq rahimahullah pernah mengatakan:
"Barang siapa yang sering mengingat kematian, maka ia akan memperoleh tiga hal: ia akan segera bertaubat, hatinya menjadi qana'ah, dan ia akan rajin beribadah." (At-Tadzkirah, Al-Qurthubi: 4)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menguatkan kita semua untuk terus beribadah dengan istiqamah hingga akhir hayat. Aamiin.
Khutbah Kedua:
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat Asy-Syarh: 7,
ﻓَﺎِذَا ﻓَرَﻏْتَ ﻓَﺎﻧْﺻَبْۙ - ٧
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
Dalam kitab tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah yang disusun oleh sekelompok ulama dijelaskan maksud ayat ini sebagai berikut:
"Jika kamu sudah selesai dari melakukan suatu amalan berupa dakwah dan ibadah maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan mohonlah kepada Allah kebutuhanmu. Dan juga bersungguh-sungguhlah dalam beribadah.
Maksudnya, apabila kamu sudah menyelesaikan suatu amal maka beralihlah kepada amal yang lain. Dengan demikian waktumu dipenuhi dengan berbagai amalan yang bermanfaat."
Dengan demikian, bila Ramadan telah berlalu, kita tidak perlu larut dengan kesedihan atas perginya bulan yang penuh berkah tersebut. Kita diminta oleh Allah Ta'ala agar langsung menghadapkan diri kita kepada berbagai ibadah lainnya di bulan-bulan berikutnya.
Kita awali di bulan Syawal. Kita berusaha untuk menjalani berbagai ibadah yang wajib dan sunnah yang ada dengan etos amal yang tinggi. Bila hal ini sudah menjadi kebiasaan maka akan mudah bagi kita untuk menjaga stabilitas pelaksanaan amal kebaikan di bulan-bulan berikutnya dengan izin Allah.
Dengan senantiasa mengingat perintah Allah Ta'ala dalam surat Asy-Syarh yang sudah kita hafal ini, kita tidak akan pernah kehilangan semangat untuk beramal shaleh insyaallah.
Kita tidak akan banyak terpengaruh oleh situasi di luar diri kita. Fluktuasi amal itu biasa namun tidak sampai kepada tingkat futur atau malas beramal lalu meninggalkannya sama sekali.
Semoga Allah Ta'ala mengaruniakan kepada kita semua taufik untuk istiqamah beribadah kepada-Nya hingga ajal tiba.
إِ ﱠن ﱠَﷲ وَﻣَﻼَﺋِﻛَﺗَﮫُ ﯾُﺻَﻠﱡونَ ﻋَﻠَﻰ اﻟ ﱠﻧﺑِ ﱢﻲ ﯾَﺎ أَ ﱡﯾﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آﻣَﻧُوا ﺻَﻠﱡوا ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱢﻣُوا ﺗَﺳْﻠِﯾﻣﺎً
اَﻟﻠﱠﮭُ ﱠم ﺻَ ﱢل ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺻَﻠﱠﯾْتَ ﻋَﻠَﻰ إِﺑْرَاھِﯾْمَ وَﻋَﻠَﻰ آلِ إِﺑْرَاھِﯾْمَ، إِ ﱠﻧكَ ﺣَﻣِﯾْدٌ ﻣَﺟِﯾْدٌ. وَﺑَﺎرِكْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎرَﻛْتَ ﻋَﻠَﻰ إِﺑْرَاھِﯾْمَ وَﻋَﻠَﻰ آلِ إِﺑْرَاھِﯾْمَ، إِ ﱠﻧكَ ﺣَﻣِﯾْدٌ ﻣَﺟِﯾْدٌ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم اﻏْﻔِرْ ﻟِﻠْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾْنَ وَ اْﻟﻣُﺳْﻠِﻣَﺎتِ وَ اﻟْﻣُؤْﻣِﻧِﯾْنَ وَ اﻟْﻣُؤْﻣِﻧَﺎتِ اْﻷَﺣْﯾَﺎءِ ﻣِﻧْﮭُمْ وَ اْﻷَﻣْوَاتِ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم أَﻋِ ﱠز اﻹِْﺳْﻼَمَ وَ اْﻟﻣُﺳْﻠِﻣِﯾْنَ وَ أَھْﻠِكِ اْﻟﻛَﻔَرَةَ وَ اْﻟﻣُﺷْرِﻛِﯾْﻧنَ وَ دَ ﱢﻣرْ أَﻋْدَاءَكَ أَﻋْدَاءَ اﻟ ﱢدﯾْنِ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم أَﻟﱢفْ ﺑَﯾْنَ ﻗُﻠُوﺑِﻧَﺎ، وَأَﺻْﻠِﺢْ ذَاتَ ﺑَﯾْﻧِﻧَﺎ، وَاھْدِﻧَﺎ ﺳُﺑُلَ اﻟ ﱠﺳﻼَمِ، وَﻧَ ﱢﺟﻧَﺎ ﻣِنَ اﻟ ﱡظﻠُﻣَﺎتِ إِﻟَﻰ اﻟ ﱡﻧورِ، وَﺟَ ﱢﻧﺑْﻧَﺎ اﻟْﻔَوَاﺣِشَ ﻣَﺎ ظَﮭَرَ ﻣِﻧْﮭَﺎ وَﻣَﺎ ﺑَطَنَ، وَﺑَﺎرِكْ ﻟَﻧَﺎ ﻓِﻲ أَﺳْﻣَﺎﻋِﻧَﺎ، وَأَﺑْﺻَﺎرِﻧَﺎ، وَﻗُﻠُوﺑِﻧَﺎ، وَأَزْوَاﺟِﻧَﺎ، وَذُ ﱢر ﱠﯾﺎﺗِﻧَﺎ، وَﺗُبْ ﻋَﻠَﯾْﻧَﺎ إِ ﱠﻧكَ أَﻧْتَ اﻟ ﱠﺗ ﱠوابُ اﻟ ﱠرﺣِﯾﻣﯾمُ
اَﻟﻠﱠﮭُ ﱠم أَﺻْﻠِﺢْ ﻟَﻧَﺎ دِﯾْﻧَﻧَﺎ اﻟﱠذِيْ ھُوَ ﻋِﺻْﻣَﺔُ أَﻣْرِﻧَﺎ، وَأَﺻْﻠِﺢْ ﻟَﻧَﺎ دُﻧْﯾﯾَﺎﻧَﺎ اﻟﱠﺗِﻲْ ﻓِﯾْﮭَﺎ ﻣَﻌَﺎﺷُﻧَﺎ، وَأَﺻْﻠِﺢْ ﻟَﻧَﺎ آﺧِرَﺗَﻧَﺎ اﻟﻠﱠﺗِﻲْ إِﻟَﯾْﮭَﺎ ﻣَﻌَﺎدُﻧَﺎ، وَاﺟْﻌَلِ اﻟْﺣَﯾَﺎةَ زِﯾَﺎدَةً ﻟَﻧَﺎ ﻓِﻲْ ﻛُ ﱢل ﺧَﯾْرٍ، وَاﺟْﻌَلِ اﻟْﻣَوْتَ رَاﺣَﺔً ﻟَﻧَﺎ ﻣِنْ ﻛُ ﱢل ﺷَ ﱟر
رَ ﱠﺑﻧَﺎ ھَبْ ﻟَﻧَﺎ ﻣِنْ أَزْٰوَﺟِﻧَﺎ وَذُ ﱢر ﱠﯾٰـﺗِﻧَﺎ ﻗُ ﱠرةَ أَﻋْﯾُنٍ وَٱﺟْﻌَﻠْﻧَﺎ ﻟِﻠْﻣُ ﱠﺗﻘِﯾنَ إِﻣَﺎﻣًﺎ
رَ ﱠﺑﻧَﺎ ﻻَ ﺗُزِغْ ﻗُﻠُوﺑَﻧَﺎ ﺑَﻌْدَ إِذْ ھَدَﯾْﺗَﻧَﺎ وَھَبْ ﻟَﻧَﺎ ﻣِن ﻟﱠدُﻧكَ رَﺣْﻣَﺔً ۚ إِ ﱠﻧكَ أَﻧتَ اﻟْوَ ﱠھﺎبُ
رَ ﱠﺑﻧَﺎ اﻏْﻔِرْ ﻟَﻧَﺎ وَﻹِﺧْوَاﻧِﻧَﺎ اﻟﱠذِﯾْنَ ﺳَﺑَﻘُوْﻧَﺎ ﺑِﺎْﻹِﯾْﻣَﺎنِ وَﻻَﺗَﺟْﻌَلْ ﻓِﻲْ ﻗُﻠُوْﺑِﻧَﺎ ﻏِﻼًّ ﻟﱢﻠﱠذِﯾْنَ ءَاﻣَﻧُوْا رَ ﱠﺑﻧَﺎ إِ ﱠﻧكَ رَءءُوْفٌ ﱠرﺣِﯾْمٌ. رَ ﱠﺑﻧَﺎ آﺗِﻧَﺎ ﻓِﻲ اﻟ ﱡدﻧْﯾَﺎ ﺣَﺳَﻧَﺔً وَﻓِﻲ اﻵﺧِرَةِ ﺣَﺳَﻧَﺔً وَﻗِﻧَﺎ ﻋَذَابَ اﻟ ﱠﻧﺎرِ
وَ ﺻَﻠﱠﻰ ُﷲ ﻋَﻠَﻰ ﺳَ ﱢﯾدِﻧَﺎ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ وَ ﻋَﻠَﻰ آﻟِﮫِ وَ ﺻَﺣْﺑِﮫِ أَﺟْﻣَﻌِﯾْنَ. ﺳُﺑْﺣَﺎﻧَنَ رَ ﱢﺑكَ رَ ﱢب اﻟْﻌِ ﱠزةِ ﻋَ ﱠﻣﺎ ﯾَﺻِﻔُوْنَ, وَ ﺳَﻼَمٌ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻣُرْﺳَﻠِﯾْنَ, وَ اﻟْﺣَﻣْدُ ِ رَ ﱢب اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾْنَ
2. Khutbah Jumat Melanjutkan Amalan Setelah Ramadan
Khutbah Pertama
اﻟﺣﻣد ربِّ اﻟﻌﺎﻟﻣﯾن واﻟْﻌﺎﻗِﺑَﺔُ ﻟِﻠْﻣُﺗﱠﻘﯾن وﻻ ﻋُدْوانَ إ ﱠﻻ ﻋَﻠﻰ اﻟ ﱠظﺎﻟﻣِﯾن وأﺷﮭد أنْ ﻻ إﻟﮫ إﻻﷲ وﺣده ﻻ ﺷرﯾك ﻟﮫ ر ﱠب اﻟْﻌﺎﻟﻣﯾن وإﻟَﮫَ اﻟﻣُرْﺳﻠﯾن وﻗَﯾﱡوْمَ اﻟ ﱠﺳﻣواتِ واﻷَرَﺿِﯾن وأﺷﮭد أن ﻣﺣﻣدا ﻋﺑده ورﺳوﻟﮫ اﻟﻣﺑﻌوثُ ﺑﺎﻟﻛﺗﺎبِ اﻟﻣُﺑﯾن اﻟﻔﺎرِقِ ﺑَﯾْنَ اﻟﮭُدى واﻟ ﱠﺿﻼلِ واﻟْﻐَﻲِّ واﻟ ﱠرﺷﺎدِ واﻟ ﱠﺷكِّ وَاﻟْﯾَﻘِﯾن واﻟ ﱠﺻﻼةُ واﻟ ﱠﺳﻼمُ ﻋَﻠﻰ ﺣَﺑِﯾْﺑِﻧﺎ و ﺷَﻔِﯾْﻌِﻧﺎ ﻣُﺣ ﱠﻣدٍ ﺳَﯾِّدِ اﻟﻣُرْﺳﻠﯾن و إﻣﺎمِ اﻟﻣﮭﺗَدﯾن و ﻗﺎﺋِدِ اﻟﻣﺟﺎھدﯾن وﻋﻠﻰ آﻟﮫ وﺻﺣﺑﮫ أﺟﻣﻌﯾن
ﻓﯾﺎأﯾﮭﺎ اﻟﻣﺳﻠﻣون أوﺻﯾﻛم وإﯾﺎي ﺑﺗﻘوى ﷲ ﻋز وﺟل واﻟﺗﱠﻣَ ﱡﺳكِ ﺑﮭذا اﻟدِّﯾن ﺗَﻣَ ﱡﺳﻛًﺎ ﻗَوِﯾ ﺎ. ﻓﻘﺎل ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻛﺗﺎﺑﮫ اﻟﻛرﯾم، أﻋوذ ﺑﺎ ﻣن اﻟﺷﯾطﺎن ، اﻟرﺟﯾم "ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آَﻣَﻧُوا اﺗﱠﻘُوا ﱠَ ﺣَ ﱠﻖ ﺗُﻘَﺎﺗِﮫِ وَﻻَ ﺗَﻣُوﺗُ ﱠن إِ ﱠﻻ وَأَﻧْﺗُمْ ﻣُﺳْﻠِﻣُونَ
ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﻧﱠﺎسُ اﺗﱠﻘُوا رَﺑﱠﻛُمُ اﻟﱠذِي ﺧَﻠَﻘَﻛُمْ ﻣِنْ ﻧَﻔْسٍ وَاﺣِدَةٍ وَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻧْﮭَﺎ زَوْﺟَﮭَﺎ وَﺑَ ﱠث ﻣِﻧْﮭُﻣَﺎ رِﺟَﺎﻻً ﻛَﺛِﯾرًا وَﻧِﺳَﺎءً وَاﺗﱠﻘُوا ﱠَ اﻟﱠذِي ﺗَﺳَﺎءَﻟُونَ ﺑِﮫِ وَاﻷَْرْﺣَﺎمَ إِ ﱠن ﱠَ ﻛَﺎنَ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ رَﻗِﯾﺑًﺎ
ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آَﻣَﻧُوا اﺗﱠﻘُوا ﱠَ وَﻗُوﻟُوا ﻗَوْﻻً ﺳَدِﯾدًا ﯾُﺻْﻠِﺢْ ﻟَﻛُمْ أَﻋْﻣَﺎﻟَﻛُمْ وَﯾَﻐْﻔِرْ ﻟَﻛُمْ ذُﻧُوﺑَﻛُمْ وَﻣَنْ ﯾُطِﻊِ ﱠَ وَرَﺳُوﻟَﮫُ ﻓَﻘَدْ ﻓَﺎزَ ﻓَوْزًا ﻋَظِﯾﻣًﺎ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang telah memberikan kita nikmat kehidupan, nikmat iman, dan nikmat kesempatan untuk bertemu dengan hari yang mulia ini, hari Jumat. Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Dalam kehidupan seorang Muslim, setiap waktu adalah kesempatan untuk beramal baik dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun, sering kali kita merasa kehilangan semangat setelah menyelesaikan suatu ibadah atau bulan penuh berkah, seperti Ramadan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam Surat Asy-Syarh ayat 7:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
Artinya: "Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),"
Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak berdiam diri setelah selesai melaksanakan suatu amal. Dalam tafsir yang disebutkan dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah yang disusun oleh para ulama, dijelaskan bahwa setelah seseorang menyelesaikan suatu amalan, baik itu dakwah, ibadah, atau hal-hal lain yang mendekatkan diri kepada Allah, kita dianjurkan untuk terus melanjutkan dengan amal yang lainnya. Sehingga, waktu kita senantiasa dipenuhi dengan kegiatan yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun bagi orang lain.
Ramadan telah berlalu, dan sering kali kita merasa kehilangan energi untuk terus beribadah. Namun, Allah Ta'ala mengajarkan kita untuk tidak terlarut dalam kesedihan atau penyesalan. Kita harus segera beralih dan mengisi waktu kita dengan amal-amal baik lainnya.
Saat ini, kita memasuki bulan Syawal, bulan yang penuh dengan keberkahan. Marilah kita menyambut bulan ini dengan semangat yang tinggi untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, dengan penuh keikhlasan dan ketekunan.
Jika kita dapat menjadikan kebiasaan ini dalam hidup kita, maka insyaAllah kita akan lebih mudah menjaga konsistensi ibadah kita di bulan-bulan berikutnya. Kita harus menyadari bahwa menjaga semangat beramal tidak hanya berlaku pada bulan tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menghadapi berbagai tantangan dan godaan yang bisa membuat kita lelah atau merasa malas. Namun, dengan selalu mengingat perintah Allah Ta'ala dalam Surat Asy-Syarh ini, kita diingatkan untuk tidak pernah berhenti berusaha, meskipun terkadang kondisi di luar diri kita berubah.
Amal itu memang berfluktuasi, namun kita tidak boleh membiarkan diri kita terjatuh pada rasa malas yang membuat kita meninggalkan amal sama sekali.
Khutbah Kedua
Saudaraku yang dirahmati Allah, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk tetap istiqomah dalam beribadah kepada-Nya. Semoga setiap amal yang kita lakukan senantiasa diterima dan membawa manfaat yang berkelanjutan, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nanti.
Mengakhiri khutbah Jumat Syawal ini, marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
إِ ﱠن ﱠَ وَﻣَﻼَﺋِﻛَﺗَﮫُ ﯾُﺻَﻠﱡونَ ﻋَﻠَﻰ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آَﻣَﻧُوا ﺻَﻠﱡوا ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠِّﻣُوا ﺗَﺳْﻠِﯾﻣًﺎ
اَﻟﻠﱠﮭُ ﱠم ﺻَلِّ ﻋَﻠﻰَ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ وَﻋَﻠﻰَ آلِ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ ﻛَﻣﺎَ ﺻَﻠﱠﯾْتَ ﻋَﻠﻰَ إِﺑْرَاھِﯾْمَ وَﻋَﻠﻰَ آلِ إِﺑْرَاھِﯾْمَ إِﻧـﱠكَ ﺣَﻣِﯾْدٌ ﻣَﺟِﯾْدٌ اَﻟﻠﱠﮭُ ﱠم ﺑﺎَرِكْ ﻋَﻠﻰَ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ وَﻋَﻠﻰَ آلِ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ ﻛَﻣﺎَ ﺑﺎَرَﻛْتَ ﻋَﻠﻰَ إِﺑْرَاھِﯾْمَ وَﻋَﻠﻰَ آلِ إِﺑْرَاھِﯾْمَ إِﻧـﱠكَ ﺣَﻣِﯾْدٌ ﻣَﺟِﯾْدٌ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم اﻏْﻔِرْ ﻟِﻠْﻣُؤْﻣِﻧِﯾْنَ وَاﻟْﻣُؤْﻣِﻧَﺎتِ، وَاﻟْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾْنَ وَاﻟْﻣُﺳْﻠِﻣَﺎتِ، اﻷَﺣْﯾَﺎءِ ﻣِﻧْﮭُمْ وَاﻷَﻣْوَاتِ، إِﻧﱠكَ ﺳَﻣِﯾْﻊٌ ﻗَرِﯾْبٌ ﻣُﺟِﯾْبُ اﻟ ﱡدﻋَﺎءِ رَﺑﱠﻧَﺎ اﻏْﻔِرْ ﻟَﻧَﺎ وَﻹِِﺧْوَاﻧِﻧَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ ﺳَﺑَﻘُوﻧَﺎ ﺑِﺎﻹِْﯾﻣَﺎنِ وَﻻَ ﺗَﺟْﻌَلْ ﻓِﻲ ﻗُﻠُوﺑِﻧَﺎ ﻏِ ﻼ ﻟِﻠﱠذِﯾنَ آَﻣَﻧُوا رَﺑﱠﻧَﺎ إِﻧﱠكَ رَءُوفٌ رَﺣِﯾمٌ
رَﺑﱠﻧَﺎ ﻻَ ﺗُزِغْ ﻗُﻠُوﺑَﻧَﺎ ﺑَﻌْدَ إِذْ ھَدَﯾْﺗَﻧَﺎ وَھَبْ ﻟَﻧَﺎ ﻣِنْ ﻟَدُﻧْكَ رَﺣْﻣَﺔً إِﻧﱠكَ أَﻧْتَ اﻟْوَ ﱠھﺎبُ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم اﺟْﻌَلْ ﺟَﻣْﻌَﻧَﺎ ھَذَا ﺟَﻣْﻌًﺎ ﻣَرْﺣُوْﻣًﺎ، وَاﺟْﻌَلْ ﺗَﻔَ ﱡرﻗَﻧَﺎ ﻣِنْ ﺑَﻌْدِهِ ﺗَﻔَ ﱡرﻗًﺎ ﻣَﻌْﺻُوْﻣًﺎ، وَﻻ ﺗَدَعْ ﻓِﯾْﻧَﺎ وَﻻ ﻣَﻌَﻧَﺎ ﺷَﻘِﯾ ﺎ وَﻻ ﻣَﺣْرُوْﻣًﺎ اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم إِﻧﱠﺎ ﻧَﺳْﺄَﻟُكَ اﻟْﮭُدَى وَاﻟﺗﱡﻘَﻰ وَاﻟﻌَﻔَﺎفَ وَاﻟﻐِﻧَﻰ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم أَﻋِ ﱠز اﻹِﺳْﻼَمَ وَاﻟْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾْنَ، وَوَﺣِّدِ اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم ﺻُﻔُوْﻓَﮭُمْ، وَأَﺟْﻣِﻊْ ﻛَﻠِﻣَﺗَﮭُمْ ﻋَﻠَﻰ اﻟﺣَﻖِّ، وَاﻛْﺳِرْ ﺷَوْﻛَﺔَ اﻟ ﱠظﺎﻟِﻣِﯾنَ، وَاﻛْﺗُبِ اﻟ ﱠﺳﻼَمَ وَاﻷَﻣْنَ ﻟِﻌِﺑﺎدِكَ أَﺟْﻣَﻌِﯾنَ اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم أَﻧْزِلْ ﻋَﻠَﯾْﻧَﺎ ﻣِنْ ﺑَرَﻛَﺎتِ اﻟ ﱠﺳﻣَﺎء وَأَﺧْرِجْ ﻟَﻧَﺎ ﻣِنْ ﺧَﯾْرَاتِ اﻷَرْضِ، وَﺑَﺎرِكْ ﻟَﻧَﺎ ﻓﻲ ﺛِﻣَﺎرِﻧَﺎ وَزُرُوْﻋِﻧَﺎ وﻛُلِّ أَرزَاﻗِﻧَﺎ ﯾَﺎ ذَا اﻟْﺟَﻼَلِ وَاﻹِﻛْرَامِ
رَﺑﱠﻧَﺎ آﺗِﻧَﺎ ﻓﻲ اﻟ ﱡدﻧْﯾَﺎ ﺣَﺳَﻧَﺔً وَﻓﻲ اﻵﺧِرَةِ ﺣَﺳَﻧَﺔً وَﻗِﻧَﺎ ﻋَذَابَ اﻟﻧﱠﺎرِ
ﻋِﺑَﺎدَ ِﷲ :إِ ﱠن َﷲ ﯾَﺄْﻣُرُ ﺑِﺎﻟْﻌَدْلِ وَاﻹِﺣْﺳَﺎنِ وَإِﯾْﺗَﺎءِ ذِي اﻟﻘُرْﺑَﻰ وَﯾَﻧْﮭَﻰ ﻋَنِ اﻟْﻔَﺣْﺷَﺎءِ وَاﻟْﻣُﻧْﻛَرِ وَاﻟْﺑَﻐْﻲِ ﯾَﻌِظُﻛُمْ ﻟَﻌَﻠﱠﻛُمْ ﺗَذَ ﱠﻛرُوْنَ
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
3. Khutbah Jumat Tema "Hakikat Kemenangan di Bulan Syawal"
الْحَمدُ لِلّٰهِ الَّذِى وَعَدَ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً مُعْتَرِفٍ بِالْعَجْزِ و َالْاصْرَارِ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالرِّسَالَةِ الْمُنِيْرَةِ إِلَى جَمِيْعِ الْخَلَائِقِ وَالبَشَرِ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نُوْرِ الْأَنْوَارِ وَسِرِّ الْأَسْرَارِ، وَتِرْيَاقِ الْأَغْيَارِ وَمِفَتَاحُ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الْمُخْتَارِ عَلَى اࣤلِهِ الأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقَرَارِ
أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَ الْإِخْوَانِ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Pada kesempatan yang mulia ini, tidak lupa, saya berpesan kepada kita sekalian. Marilah kita tetap dan selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, terlebih lagi setelah kita selesai melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Di mana inti tujuannya adalah membentuk manusia yang bertakwa.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Kini kita tengah berada di bulan Syawal. Ramadan meninggalkan kita. Tidak ada kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa dengannya, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya, ataukah justru Allah SWT telah memanggil kita.
Kita juga tidak pernah tahu apakah ibadah kita selama Ramadan diterima oleh Allah SWT. Dua hal yang belum pasti inilah yang membuat sebagian besar ulama terdahulu berdoa selama enam bulan sejak Syawal hingga Rabiul Awal agar ibadahnya selama bulan Ramadan diterima, lalu dari Rabiul Awal hingga Syaban berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadan berikutnya.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Secara etimologi, arti kata 'Syawal' adalah peningkatan. Hal itu merupakan target ibadah puasa.
Pasca Ramadan, diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat ketakwaan, seorang muslim yang terlahir kembali seperti kertas yang masih bersih. Sehingga di bulan Syawal ini kualitas keimanannya mengalami peningkatan.
Tidak hanya kualitas ibadah tetapi juga kualitas pribadinya, yang selama di bulan Ramadan dilatih secara lahir batin. Tentunya kita tidak ingin ibadah yang kita lakukan dengan susah payah di bulan suci tidak membuahkan apa-apa yang bermanfaat untuk diri kita.
Kita semua mengharapkan adanya perubahan yang signifikan, sekarang dan seterusnya. Menjadi orang-orang yang selalu taat dan patuh kepada Allah SWT dan meninggalkan semua larangan-Nya. Bukankah kemuliaan seseorang itu tergantung pada ketaqwaannya?
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ
Artinya: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa." (QS Al-Hujurat: 13)
Akan tetapi, fenomena yang kita lihat di masyarakat justru sebaliknya. Syawal, seakan-akan bulan yang ditunggu-tunggu agar terlepas dari belenggu dan bebas melakukan kegiatan apa saja seperti sediakala.
Di antara indikatornya yang sangat jelas, adanya perayaan Idul Fitri dengan pesta atau dengan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, dibukanya kembali tempat-tempat hiburan yang sebulan sebelumnya ditutup. Kemaksiatan seperti itu justru langsung ramai sejak hari pertama bulan Syawal. Na'udzubillah!
Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jemaah salat lima waktu. Lantunan ayat suci Al-Qur'an juga tidak lagi terdengar, yang ada justru umpatan, luapan emosional, dan kemarahan kembali membudaya.
Bukankah ini semua bertolak belakang dengan arti Syawal? Bukankah ini seperti mengotori kain putih yang tadinya telah dicuci dengan bersih kembali penuh noda.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Apa yang terjadi sekarang ini juga menunjukkan kepada kita, bahwa ibadah puasa yang dijalankan selama sebulan penuh jelas gagal. Karena tidak mampu mengantarkan seseorang meraih derajat ketakwaan dan mengubah menjadi muslim sejati yang menjadi tujuan utama puasa.
Padahal banyak sekali pelajaran berharga yang bisa kita jadikan ukuran seberapa tinggi nilai prestasi ibadah kita. Kata para ulama keberhasilan seseorang di bulan Ramadan itu diukur dengan amal perbuatannya setelah bulan Ramadan.
Orang yang berhasil mendapat ampunan dan mendapatkan pahala yang besar akan semakin rajin beribadah dan semakin baik akhlaknya.
Sebaliknya orang yang tidak mendapatkan ampunan akhlak perbuatannya tidak akan berubah bahkan mengalami kerugian di bulan Ramadan.
Banyak orang yang mengatakan, ketika kita masuk bulan Syawal berarti kita menuju kemenangan dalam melawan hawa nafsu. Kita dikatakan kembali suci. Namun, benarkah kita meraih kemenangan tersebut? Benarkah kita kembali suci setelah beribadah puasa sebulan penuh?
Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan tersebut kembali kepada diri kita, apakah selama bulan Ramadan kita betul-betul tulus dalam beribadah, apakah puasa yang kita jalankan betul-betul atas dasar iman dan semata-mata hanya mencari ridha Allah SWT? Jika kita tidak demikian, maka kita termasuk orang-orang yang gagal dalam meraih kemenangan bulan Ramadan.
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Di bulan Syawal ini, marilah kita introspeksi diri dan melakukan evaluasi amal ibadah, dengan tujuan agar setelah Ramadan berlalu kita menjadi lebih baik daripada sebelum Ramadan.
Alangkah naifnya kita ini, sudah diberi kesempatan di bulan suci yang penuh ampunan dan rahmat, masih saja tidak berubah atau mungkin lebih parah. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Kegagalan masa lalu harus kita jadikan pelajaran berharga dan tidak akan kita ulangi lagi.
Kita harus ingat peringatan Rasulullah SAW dalam sabdanya: "Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia."
Kemudian apa yang mesti kita lakukan untuk memulai lembaran baru di bulan Syawal ini?
Berangkat dari kaidah umum dari hadits Nabi SAW tersebut, dan mengingat makna bulan Syawal, maka yang harus kita lakukan adalah istiqamah yaitu menetapi agama Allah SWT dan berjalan lurus di atas ajarannya. Sebagaimana yang diperintahkan:
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ - ١١٢
Artinya: "Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS Hud: 112)
Bentuk istiqamah dalam amal ibadah adalah dengan mengerjakan secara terus-menerus. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi SAW, bahwa beliau SAW bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ
Artinya: "Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah SWT adalah yang terus menerus (kontinu) meskipun sedikit." (HR Bukhari & Muslim)
Istiqamah berarti berpendirian teguh atas jalan yang lurus. Berpegang pada akidah Islam dan melaksanakan syariat dengan teguh. Tidak mudah goyah dalam keadaan bagaimana pun. Sifat yang mulia ini menjadi tuntutan Islam seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
"Katakanlah (Wahai Muhammad), 'Sesungguhnya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepada Aku bahwa Tuhan kamu hanyalah Tuhan yang satu; maka hendaklah kamu teguh di atas jalan yang betul lurus (yang membawa kepada mencapai keredhaan-Nya)." (QS Fushilat:6)
Istiqamah merupakan daya kekuatan yang diperlukan sepanjang hayat manusia dalam melaksanakan tuntutan Islam, mulai dari amalan hati, amalan lisan dan anggota tubuh badan. Jelasnya, segala amalan yang dapat dirumuskan dalam pengertian ibadah baik fardhu 'ain atau fardhu kifayah keduanya memerlukan istiqamah.
Istiqamah juga merupakan sikap jati diri yang teguh dan tidak berubah oleh pengaruh apapun. Sikap ini akan memotivasi seseorang untuk terus berusaha dalam mencapai kesuksesan di segala bidang. Bidang agama, politik, ekonomi, pendidikan, penyelidikan, perusahaan perniagaan, dan lain-lain.
Istiqamah dalam meneguhkan iman dan melaksanakan kebajikan akan mendatangkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Seperti yang dinyatakan di dalam Al-Qur'an.
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata,
"Tuhan kami adalah Allah SWT," kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), "Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu." Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (surga) kamu akan memperoleh apa yang kamu sukai dan apa yang kamu minta. (Semua itu) sebagai karunia (penghormatan bagimu) dari (Allah SWT) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Fussilat: 30-32)
Hadirin Jemaah Jumat rahimakumullah,
Jika demikian halnya maka amal-amal yang telah kita biasakan di bulan Ramadan, hendaknya tetap dipertahankan selama bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya.
Membaca Al-Qur'an setiap hari, salat malam yang sebelumnya kita lakukan dengan Tarawih, di bulan Syawal ini hendaknya kita tidak meninggalkan salat Tahajud dan Witirnya. Infak dan sedekah yang telah kita lakukan juga kita pertahankan.
Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat di bulan Ramadan. Kita tak takut lapar dan sakit karena kita bergantung pada Allah SWT selama puasa Ramadan. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah SWT (ma'iyatullah).
Kita juga dibiasakan berlaku ikhlas dalam puasa tanpa perlu mengumumkan puasa kita pada siapapun. Nilai keimanan yang meliputi keyakinan, ma'iyatullah, keikhlasan, dan lainnya ini hendaknya tetap ada dalam bulan Syawal dan seterusnya. Bukan malah menipis kemudian hilang seketika!
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Memang tidak banyak amal khusus di bulan Syawal dibandingkan bulan-bulan lainnya. Akan tetapi, Allah SWT telah memberikan kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini berupa puasa Syawal. Ini juga bisa dimaknai sebagai tolok ukur dalam rangka meningkatkan ibadah dan kualitas diri kita di bulan Syawal ini.
Dan keistimewaan puasa sunnah ini adalah, kita akan diganjar dengan pahala satu tahun jika kita mengerjakan puasa enam hari di bulan ini setelah sebulan penuh kita berpuasa Ramadan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامُ الدَّهْرِ
Artinya: "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun." (HR Muslim)
Bagaimana pelaksanaannya? Apakah puasa Syawal harus dilakukan secara berurutan atau boleh tidak?
Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Dan tidak ada keutamaan cara pertama atas cara kedua.
Sedangkan menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal.
Jadi, tidak ada madzhab yang tidak membolehkan puasa Syawal di hari selain tanggal 2 sampai 7, selama masih di bulan Syawal. Ini artinya, bagi kita yang belum melaksanakan puasa Syawal, masih ada kesempatan mengerjakannya.
Akan tetapi, hendaknya kita tidak berpuasa khusus di hari Jumat tanpa mengiringinya di hari Kamis atau Sabtu karena adanya larangan Rasulullah SAW yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Demikianlah khutbah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga menjadi spirit bagi kita semua untuk lebih meningkatkan mutu ibadah, baik ibadah spiritual maupun ibadah sosial.
Kita memohon kepada Allah SWT, semoga keberkahan Ramadan terus menyertai kita, meskipun kita telah meninggalkannya. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ ، أَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ .
(inf/inf)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan