Menteri PPPA: Haji Ramah Perempuan dan Lansia Cerminan Bangsa Beradab

Menteri PPPA: Haji Ramah Perempuan dan Lansia Cerminan Bangsa Beradab

Rachmatunnisa - detikHikmah
Kamis, 29 Jan 2026 10:15 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (28/1).
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (28/1). Foto: MCH PPIH 2026
Jakarta -

Penyelenggaraan haji yang ramah perempuan, lansia, dan disabilitas dinilai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi bukan sekadar urusan teknis pelayanan, tetapi mencerminkan tingkat peradaban sebuah bangsa.

Menurut Arifah, kualitas layanan haji menunjukkan sejauh mana negara hadir melindungi warganya, khususnya kelompok rentan, saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.

"Ini mencerminkan kita memberikan layanan yang baik. Layanan yang baik itu berarti menunjukkan bahwa pemerintah hadir untuk memberikan perhatian khusus untuk para masyarakatnya yang sedang menunaikan haji di Tanah Suci," ujarnya, ditemui media usai memberikan materi pembekalan petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (28/1) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menekankan bahwa kondisi di Arab Saudi sangat berbeda dengan Indonesia, baik dari sisi cuaca, suhu, maupun lingkungan sosial, sehingga memerlukan pendekatan pelayanan yang sensitif dan manusiawi.

"Karena Tanah Suci ini kan secara demografi, secara geografis, itu jauh berbeda dengan di Indonesia. Jadi kayak cuaca, suhu, itu juga menjadi perhatian kita," katanya.

ADVERTISEMENT

Arifah memberi pesan khusus kepada para petugas haji perempuan agar benar-benar memahami kebutuhan spesifik jemaah, terutama lansia perempuan. Ia mencontohkan pengaturan kamar yang seharusnya tidak seluruhnya diisi jemaah lansia.

"Dalam kamar yang lansia, kami juga mengusulkan jangan semuanya lansia sekamar itu. Tetapi ada juga yang mungkin masih muda-muda, sehingga bisa saling membantu," jelasnya.

Ia juga menyinggung kebutuhan khusus perempuan lainnya, mulai dari kesiapan perlengkapan pribadi hingga pemahaman soal kesehatan reproduksi.

"Penggunaan pampers, persiapan barang-barang spesifik untuk perempuan. Kemudian tentang reproduksi, itu kan memang perempuan yang ngerti ya," ujarnya.

Arifah berharap, ke depan kebijakan penyelenggaraan haji semakin memperkuat perspektif keadilan dan kemanusiaan, sehingga ibadah haji tidak hanya sah secara ritual, tetapi juga aman, bermartabat, dan menenteramkan bagi seluruh jemaah.




(rns/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads