Cerita Surdi Perantau Banten Jadi Sopir Bus Shalawat, Sudah 4 Kali Haji

Kabar Haji Bersama Telkomsel

Cerita Surdi Perantau Banten Jadi Sopir Bus Shalawat, Sudah 4 Kali Haji

Rachmatunnisa - detikHikmah
Jumat, 08 Mei 2026 12:30 WIB
Surdi sudah 10 tahun tinggal di Arab Saudi dan menjadi sopir bus Shalawat.
Surdi sudah 10 tahun tinggal di Arab Saudi dan menjadi sopir bus Shalawat. Foto: Dok MCH 2026
Makkah -

Senyum Muhammad Surdi nyaris tak lepas sejak awal wawancara. Dengan logat Banten yang masih kental, pria berusia 45 tahun itu menyapa hangat setiap jemaah yang naik dan turun dari bus Shalawat yang dikemudikannya.

Di tengah teriknya cuaca Makkah, Surdi tetap terlihat riang. Tangannya sigap membantu menurunkan barang bawaan milik jemaah, sambil tak berhenti mengingatkan para penumpangnya agar berhati-hati saat naik dan turun dari bus.

Pria asal Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, itu sudah tinggal di Arab Saudi sejak 2015 sebagai mukimin. Sejak saat itu pula, ia rutin menjadi sopir bus Shalawat setiap musim haji.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alhamdulillah, dari 2015," ujar Surdi ditemui tim Media Center Haji di sela-sela ia sedang bertugas.

Awalnya, kehidupan di Arab Saudi tidak mudah baginya. Bahasa menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi. Belum lagi cuaca panas yang sangat berbeda dengan Indonesia.

ADVERTISEMENT

"Dukanya, awal-awal pertama belum paham bahasa, jalan juga, ya gitu," katanya sambil tertawa kecil.

Surdi juga sempat kesulitan beradaptasi dengan udara panas dan kering khas Arab Saudi, membuat tubuhnya cukup ringkih.

"Pertama kali dulu sakit-sakitan terus, kadang-kadang batuk, soalnya panas, kan beda (cuacanya)," kenangnya.

Namun, setelah bertahun-tahun tinggal di sana, Surdi kini mulai terbiasa dengan kondisi cuaca ekstrem. Bahkan menurutnya, musim haji tahun ini sebenarnya terasa lebih sejuk dibanding sebelumnya.

"Tapi tahun ini, hajian yang ini, adem sekarang, Alhamdulillah," katanya.

Di balik pekerjaannya sebagai sopir bus Shalawat yang mengantar jemaah menuju Masjidil Haram, Surdi menyimpan kebahagiaan tersendiri karena bisa membantu sesama orang Indonesia selama berada di Tanah Suci.

"Senangnya ya ini, melayani jemaah Indonesia," ujarnya.

Pekerjaan itu pula yang memberinya keberkahan berupa kesempatan menunaikan ibadah haji berkali-kali.

"Saya mungkin udah 10 tahun mungkin, alhamdulillah bisa empat kali haji," ucapnya penuh syukur.

Sebagai pekerja syarikah, Surdi memiliki dokumen lengkap untuk operasional haji, mulai dari tasreh hingga Kartu Nusuk. "Kalau mau hajian, saya tinggal hajian," ujarnya sambil tersenyum lebar.

Setiap hari selama musim haji, Surdi bekerja mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan sebaliknya. Ia memahami banyak jemaah khawatir dengan jarak pemondokan yang cukup jauh. Namun ia menghibur para jemaah dengan mengingatkan bahwa layanan bus Shalawat siaga sepanjang hari.

"Jemaah Indonesia jangan khawatir, walaupun jauh tempat menginapnya, tapi kan pelayanannya 24 jam," katanya.

Ia sendiri bekerja mulai siang hingga malam demi memastikan jemaah tetap bisa beribadah dengan nyaman. "Saya kerja dari jam 11 siang sampai malam," ujarnya.

Pria berusia 45 tahun ini juga mengingatkan jemaah agar menjaga kondisi tubuh selama berada di Arab Saudi, terutama dengan memperbanyak minum air putih agar tidak dehidrasi. "Biar jemaah tetap bugar staminanya harus minum yang banyak," pesannya.

Meski sudah lama tinggal di Arab Saudi, kerinduan terhadap kampung halaman tetap dirasakan Surdi. Setelah musim haji selesai dan seluruh jemaah pulang ke Indonesia, Surdi juga berencana 'mudik' ke Tanah Air.

"Insyaallah, pulang habis hajian ini. Kalau jemaah semuanya sudah beres, mereka pulang, saya juga pulang," tutupnya.




(rns/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads