Menabung Uang Receh dari Jual Daun Pisang, Mbah Painah Akhirnya Naik Haji

Kabar Haji Bersama Telkomsel

Menabung Uang Receh dari Jual Daun Pisang, Mbah Painah Akhirnya Naik Haji

Tri Aljumanto - detikHikmah
Senin, 18 Mei 2026 12:30 WIB
Painah (65), jemaah haji asal Dusun Ngedok, Wonosobo Barat, Jawa Tengah, tiba di Jeddah, Minggu (17/5/2026).
Painah (65), jemaah haji asal Dusun Ngedok, Wonosobo Barat, Jawa Tengah, tiba di Jeddah, Minggu (17/5/2026). Foto: Dok MCH 2026
Jeddah -

Kisah inspiratif datang dari jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Painah, seorang nenek berusia 65 tahun asal Dusun Ngedok, Wonosobo Barat, Jawa Tengah, akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Arab Saudi. Siapa sangka, impiannya berhaji terwujud dari hasil keringatnya menjual lembar demi lembar daun pisang selama puluhan tahun.

Painah yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) YIA 22 mendarat di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Minggu (17/5) sekitar pukul 12.00 waktu Arab Saudi (WAS). Bersama 354 jemaah dan enam petugas lainnya, ia terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-6522 dari Yogyakarta International Airport (YIA).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di balik senyum bahagianya saat tiba di bandara, ada perjuangan luar biasa yang telah ia rintis jauh-jauh hari. Saban hari, ketika orang-orang masih terlelap, Painah sudah harus terjaga demi menjemput rezeki sekaligus impiannya ke Baitullah.

"Saya itu buruh. Buruh memetik daun, setiap hari tidak pernah telat. Itu sudah lebih dari 40 tahun," ujar Painah kepada tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Bandara Jeddah.

ADVERTISEMENT

Aktivitas Painah dimulai sejak pukul 01.30 dini hari. Ia berjalan kaki menembus dinginnya malam menuju Pasar Pagi Wonosobo sambil menggendong tumpukan daun pisang yang ia petik sendiri.

"Kalau sekarang memetik, lalu dilipat, ditimbang satu kilo satu kilo, lalu dimasukkan ke karung terus dijual ke pasar. Dari itu jualan daun, tidak lain-lain," akuinya.

Harga jual daun pisang milik Painah sejatinya tak seberapa, hanya berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Penghasilannya pun sangat fluktuatif. Jika pasar sedang sepi, ia hanya mengantongi Rp 15 ribu. Namun di hari baik, ia bisa membawa pulang hingga Rp 200 ribu.

Dari pendapatan yang tidak menentu itulah, Painah dengan telaten menyisihkan uang untuk ditabung. Sang putra, Sabar Munasir (33) yang ikut mendampingi, membeberkan bahwa ibunya mendaftar haji menggunakan uang recehan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit di rumah.

"Daftar haji pakai uang receh. Uang receh dikumpulkan untuk menabung haji. Ibu sudah bertahun-tahun menabung demi untuk haji," kata Sabar.

Painah (65), jemaah haji asal Dusun Ngedok, Wonosobo Barat, Jawa Tengah, tiba di Jeddah, Minggu (17/5/2026).Painah (65), jemaah haji asal Dusun Ngedok, Wonosobo Barat, Jawa Tengah, tiba di Jeddah, Minggu (17/5/2026). Foto: Dok MCH 2026

Painah diketahui mendaftar haji pada 2012 silam. Selama 14 tahun menunggu antrean keberangkatan, kecemasan kerap menghinggapi pikirannya. Di usia yang tak lagi muda, ia sempat pasrah dan berpikir uang tabungannya mungkin hanya akan berakhir untuk biaya berobat atau pemakaman. Namun, takdir berkata lain. Garis hidup membawanya benar-benar tiba di tanah kelahiran Islam tahun ini.

"Remen sanget (senang sekali) bisa sampai Tanah Suci menjalankan ibadah haji," ungkap Painah dengan mata berkaca-kaca penuh syukur.

Di Makkah nanti, Painah yang tercatat berada di rombongan 6 akan ditempatkan di Sektor 8, tepatnya di Number One Hotel 1. Ia akan menjalani seluruh rangkaian ibadah haji ditemani Sabar, yang terbang menggantikan sang ayah karena dinyatakan tidak memenuhi syarat kesehatan (istithaah).




(alj/kri)
Kisah Haji Para Tamu Allah

Kisah Haji Para Tamu Allah

30 konten
Menunaikan ibadah haji jadi hal yang sangat ditunggu banyak umat Islam. Di balik suksesnya haji, ada cerita unik dan juga perjuangan di belakangnya.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads