Kisah Mbah Painah Sampai ke Ka'bah Setelah Menabung 18 Tahun

Kabar Haji Bersama Kahf

Kisah Mbah Painah Sampai ke Ka'bah Setelah Menabung 18 Tahun

Rachmatunnisa - detikHikmah
Senin, 08 Jun 2026 20:47 WIB
Kisah Mbah Painah Sampai ke Kabah Setelah Menabung 18 Tahun
Mbah Painah, jemaah haji asal Wonosobo ditemani putra bungsunya di hotel wilayah Misfalah, Makkah, Minggu (7/6/2026). Foto: Media Center Haji 2026
Makkah -

Tidak semua jalan menuju Baitullah dibangun dari penghasilan besar. Ada pula yang terbentang dari lembar demi lembar daun pisang, dari langkah kaki yang tak pernah lelah menyusuri kampung, dan dari tabungan kecil yang dikumpulkan dengan sabar selama bertahun-tahun.

Itulah kisah Painah, jemaah haji asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang akhirnya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci setelah menabung selama 18 tahun dari hasil berjualan daun pisang. Di tengah jutaan jemaah yang memadati Makkah, sosok Mbah Painah terlihat sederhana. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan perjuangan panjang yang membuat banyak orang terharu.

Sehari-hari, perempuan yang akrab disapa Mbah Painah itu mencari nafkah dengan menjual daun pisang. Sudah lebih dari 35 tahun ia menjalani rutinitas yang sama. Setiap hari ia bangun sekitar pukul 01.30 dini hari untuk berjualan hasil tani di pasar pagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepulang dari pasar, pekerjaannya belum selesai. Ia masih harus mengantarkan pesanan daun pisang ke berbagai pelanggan. Yang menarik, semua itu dilakukan tanpa kendaraan. "Jalan kaki saya," tuturnya kepada tim Media Center Haji.

Sabar, anaknya yang mendampingi berhaji menceritakan, sang ibu terbiasa berjalan dari satu kampung ke kampung lain untuk mengantar pesanan daun pisang. Dalam sehari, rutenya bahkan bisa melewati lima desa.

ADVERTISEMENT

Karena terbiasa berjalan jauh setiap hari, Mbah Painah punya jawaban yang membuat keluarganya tertawa saat diminta berlatih jalan kaki menjelang keberangkatan haji. "Sudah cukup jalan-jalannya (sambil) jualan," ucapnya ringan.

Meski demikian, kalimat sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang kerja keras yang dijalaninya selama puluhan tahun. Dari hasil berjualan daun pisang itulah Mbah Painah membesarkan keluarga, menyekolahkan anak-anak, sekaligus menyisihkan sebagian rezekinya untuk mewujudkan impian berhaji.

Tidak ada investasi besar atau usaha yang menghasilkan keuntungan berlipat. Ia hanya menabung sedikit demi sedikit melalui tabungan PKK dan arisan kampung. "Kalau ada sisa ya saya kumpulkan," katanya.

Saat ditanya berapa uang yang biasa ia sisihkan setiap bulan, jawabannya kembali membuat banyak orang takjub. "Tidak banyak, paling dua ratus ribu."

Jumlah yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang itu ternyata mampu mengantarkannya ke Baitullah setelah dikumpulkan secara konsisten selama 18 tahun.

Menariknya, keinginan berhaji justru bukan berasal dari dirinya. Mbah Painah mengaku sempat enggan ketika sang suami pertama kali mengajaknya mendaftar haji. Ia merasa lebih nyaman tinggal di rumah bersama anak-anak. Namun sang suami terus meyakinkannya hingga akhirnya mereka mendaftar bersama.

Takdir Allah kemudian berjalan dengan cara yang tak pernah mereka sangka. Ketika waktu keberangkatan semakin dekat, sang suami justru tidak dapat berangkat karena tidak memenuhi syarat kondisi kesehatan. Alhasil, porsi haji tersebut akhirnya dilimpahkan kepada anak mereka yang kini mendampingi Mbah Painah di Tanah Suci.

"Yang ngajak dulu malah tidak berangkat," ujar Sabar menimpali cerita Mbah Painah.

Di Tanah Suci, ketangguhan Mbah Painah kembali terlihat. Meski sudah lanjut usia, ia menjalani rangkaian ibadah dengan berjalan kaki. Tawaf dilakukan sendiri, begitu pula sa'i dan lempar jumrah.

Saat ditanya petugas apakah dirinya lelah, jawaban Mbah Painah kembali mengundang senyum. "Tidak," singkatnya.

Bagi perempuan yang setiap hari berjalan melintasi desa-desa untuk berdagang, perjalanan dari Shafa ke Marwah mungkin bukan sesuatu yang asing. Kesederhanaannya juga terlihat ketika pertama kali menyaksikan Ka'bah. Alih-alih mengungkapkan perasaan dengan kalimat panjang, ia hanya menjawab singkat, "Senang, biasa-biasa saja."

Namun di balik jawaban sederhana itu, tersimpan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sebab ketika berada di hadapan Ka'bah, yang dipikirkannya bukan dirinya sendiri. Ia justru memanjatkan doa untuk anak, cucu, dan keluarganya.

"Saya memohon anak-anak dan cucu-cucu sehat walafiat," katanya.

Di Arafah pun, doa yang ia panjatkan tak jauh berbeda. Ia berharap anak sulungnya menjadi pribadi yang patuh kepada orang tua. Kini, seluruh rangkaian ibadah haji hampir selesai dijalaninya. Namun Mbah Painah sudah memikirkan aktivitas yang akan kembali dilakukan sesampainya di kampung halaman, berjualan daun pisang.

Usaha itu memang berhenti sementara selama ia berada di Tanah Suci. Tetapi setelah pulang nanti, ia berencana kembali menyusuri kampung-kampung seperti biasa untuk mengantar pesanan para pelanggan.

Ketika ditanya apa harapannya setelah menyandang gelar hajjah, Mbah Painah sempat menjawab sambil tertawa, "Kaya."

Jawaban itu langsung mengundang tawa orang-orang di sekitarnya. Tak lama kemudian, ia menambahkan kalimat yang terasa begitu dalam maknanya. "Yang penting kaya (dan) sehat."

Mungkin itulah rahasia kebahagiaan Mbah Painah selama ini. Bukan tentang banyaknya harta yang dimiliki, melainkan kesehatan, keluarga yang harmonis, dan kesempatan memenuhi panggilan Allah ke Baitullah.

Dari tabungan Rp200 ribu per bulan dan langkah-langkah kecil yang ditempuh setiap hari, Allah akhirnya mengantarkannya sampai ke depan Ka'bah. Sebuah pengingat bahwa jalan menuju Tanah Suci bisa datang dari arah yang tak pernah disangka.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads