Perjuangan luar biasa ditunjukkan oleh Juweni Suberi Porejo, jemaah haji berusia 77 tahun asal Purwodadi, Jawa Tengah. Meski fisiknya sempat drop hingga harus dilarikan ke rumah sakit, semangat pantang menyerah Juweni dan bakti sang anak membuatnya sukses menuntaskan ibadah haji hingga kembali ke Tanah Air.
Misbachul Munir Djuweni, putra pertama Juweni, menceritakan betapa besarnya tekad sang ayah. Terutama saat menghadapi puncak haji di Armuzna hingga pelaksanaan tawaf ifadah yang menguras fisik.
"Bapak memang lansia, tapi semangatnya luar biasa. Beliau tetap ingin menjalani semua proses ibadah sendiri," ujar Misbachul kepada tim Media Center Haji.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, melihat kondisi medan dan faktor usia, pihak keluarga dan petugas medis akhirnya memutuskan agar Juweni menggunakan kursi roda. "Karena pertimbangan medis dan kondisi fisik, akhirnya harus dibantu menggunakan kursi roda," lanjutnya.
Kondisi fisik Juweni yang terus dipaksa beribadah akhirnya mencapai batasnya. Usai menyelesaikan rangkaian ibadah, ia mengalami sesak napas akut dan harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit King Faisal, Makkah.
Di masa-masa sulit itu, Misbachul menjelma menjadi pelindung utama sang ayah. Ia enggan beranjak sedetik pun dari ruang perawatan.
"Bapak sering memanggil saya, sehingga saya harus terus mendampingi beliau setiap saat, mulai dari proses ibadah sampai ketika dirawat di rumah sakit," ungkap Misbachul dengan nada haru. Ia mengaku tak tega membiarkan ayahnya berjuang sendirian.
Perjuangan ayah dan anak ini berbuah manis. Setelah mendapatkan penanganan medis yang maksimal, tim dokter RS King Faisal dan dokter Sektor 5 Ar-Raudhah akhirnya memberikan lampu hijau bagi Juweni untuk pulang.
Saat ditemui di ruang transit Bandara Jeddah menjelang kepulangan, wajah Juweni tampak ceria dan sumringah. Rasa syukur tak henti dipanjatkannya karena ia bisa pulang sesuai jadwal bersama rombongan Kloter 31 Embarkasi Solo (SOC 31).
Tidak hanya didampingi sang anak, di bandara Juweni tampak dikelilingi oleh keluarga dan saudara satu rombongan yang terus memberikan support. Kisah Juweni menjadi potret ketangguhan jemaah lansia dan indahnya bakti seorang anak di tanah suci.
(lus/lus)

Komentar Terbanyak
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan
DPR RI Dukung Desakan MUI Tindak Tegas Pelaku LGBT
Dukung MBG, Muhammadiyah Dorong Penguatan Tata Kelola