Dinyatakan Layak Terbang, Jemaah Tanazul Pulang Lebih Awal ke Tanah Air

Kabar Haji 2026

Dinyatakan Layak Terbang, Jemaah Tanazul Pulang Lebih Awal ke Tanah Air

Rachmatunnisa - detikHikmah
Rabu, 17 Jun 2026 08:45 WIB
Marwati Maja (kerudung hitam, depan), bersama Munarto dan Saminah (kerudung hijau, belakang) di dalam ambulans bersiap menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAIA) Jeddah, Senin (15/6/2026).
Marwati Maja (kerudung hitam, depan), bersama Munarto dan Saminah (kerudung hijau, belakang) di dalam ambulans bersiap menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAIA) Jeddah, Senin (15/6/2026). Foto: Dok. MCH 2026
Makkah -

Senyum menghiasi wajah Marwati Maja saat kursi roda yang ditumpanginya keluar dari Hotel Al Hidayah Tower 1, Aziziyah, Makkah, Senin (15/6/2026) pagi. Setelah beberapa hari menjalani perawatan, jemaah asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan itu akhirnya bisa kembali menghirup udara pagi Kota Makkah.

Dengan didampingi petugas, Marwati kemudian dibawa menuju ambulans yang akan mengantarkannya ke Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAIA) Jeddah. Dari sana, ia dijadwalkan terbang menuju Indonesia untuk bertemu kembali dengan keluarga di kampung halaman.

Namun, kepulangan Marwati berbeda dengan jemaah haji pada umumnya. Ia pulang melalui program tanazul, yaitu skema pemulangan lebih awal bagi jemaah yang memiliki kondisi medis tertentu dan telah dinyatakan aman untuk melakukan perjalanan udara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di ambulans yang sama, terdapat pasangan suami istri Munarto dan Saminah asal Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Jemaah yang tergabung dalam Kloter SOC 75 itu juga mengikuti program tanazul dan dijadwalkan pulang melalui Kloter SOC 41 pada Senin (15/6/2026) pukul 14.00 waktu Arab Saudi.

Sementara itu, Marwati yang semula tergabung dalam Kloter UPG 40 dimutasi ke Kloter UPG 21 dan dijadwalkan terbang pada sore harinya pukul 15.00 WAS.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, Penanggung Jawab (Pj) Evakuasi Tanazul Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dr Syougie SpKP, menjelaskan bahwa program tanazul diberikan kepada jemaah yang memiliki indikasi medis sehingga tidak memungkinkan menunggu jadwal kepulangan bersama kloter asal.

"Program tanazul merupakan program di mana jemaah haji atas indikasi medis itu dipulangkan lebih awal dari kloternya atau jika jemaah hajinya dirawat di rumah sakit dan kloternya telah pulang ke Indonesia itu kita pulangkan. Tapi sebelumnya kita nilai dulu apakah aman untuk penerbangan atau tidak," kata dr Syougie.

Menurutnya, setiap pengajuan tanazul harus melalui sejumlah tahapan. Jemaah akan diperiksa kondisi kesehatannya, dikonsultasikan dengan dokter spesialis sesuai penyakit yang diderita, hingga dinilai kelayakan terbangnya.

"Setelah pulang dari rumah sakit atau yang datang ke kita, itu akan kita nilai dulu stabilitasnya lalu akan kita konsulkan ke DPJP yang terkait. Contoh misalnya dia ada masalah jantung kita konsulkan ke penyakit jantung, dia paska stroke kita konsulkan ke dokter syaraf," ujarnya.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi jemaah stabil dan aman untuk penerbangan, barulah proses mutasi kloter dilakukan agar jemaah bisa segera kembali ke Tanah Air.

Hingga Senin (15/6/2026), KKHI mencatat terdapat ratusan permohonan tanazul yang masuk. Dari jumlah tersebut, lebih dari 140 jemaah telah berhasil dipulangkan lebih awal setelah dinyatakan layak terbang.

Bagi para jemaah tanazul seperti Marwati, proses panjang itu kini berakhir dengan satu hal yang paling dinantikan, pulang ke rumah. Senyum yang terus mengembang di wajahnya seolah menggambarkan rasa syukur karena perjalanan hajinya telah rampung dan akhirnya membawanya kembali ke pelukan keluarga.




(rns/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads