Puasa Nisfu Syaban adalah amalan yang bisa dilakukan muslim saat pertengahan bulan Syaban, tepatnya 15 Syaban. Banyak umat Islam mengerjakan amalan ini dengan tujuan meraih keutamaan di baliknya.
Menurut buku Surga dengan Puasa susunan Herdiansyah Achmad, puasa Nisfu Syaban hukumnya sunnah. Pendapat lain menyebut tidak terdapat dalil shahih yang menganjurkan puasa Nisfu Syaban. Cara mengerjakan puasa ini sama seperti puasa pada umumnya, yang membedakan hanya bacaan niat.
Sementara itu, Syaban adalah bulan dalam kalender Hijriah yang sering dimanfaatkan muslim untuk mengganti puasa Ramadan yang ditinggalkan dengan puasa qadha. Lalu, bolehkah muslim melaksanakan puasa Nisfu Syaban sekaligus qadha Ramadan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hukum Puasa Nisfu Syaban Sekaligus Qadha Ramadan
Qadha Ramadan adalah puasa wajib bagi muslim yang meninggalkan puasa Ramadan tahun sebelumnya karena uzur tertentu. Menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqh As Sunnah-nya terjemahan Khairul Amru Harahap, puasa qadha Ramadan tidak harus dilakukan segera sehingga bisa kapan saja.
Qadha Ramadan bisa dilakukan bersamaan dengan puasa yang hukumnya sunnah, menurut para ulama.
Dijelaskan dalam buku Fiqih Niat karya Isnan Ansory, dua amalan yang salah satunya dihukumi wajib sementara lainnya sunnah memiliki tiga hukum yang berlaku yaitu:
1. Keduanya Sah
Niat amalan wajib dan sunnah yang digabung dihukumi sah. Ini berlaku seperti menggabungkan niat salat tahiyyatul masjid dengan salat fardhu ketika melaksanakan salat fardhu.
Kemudian jika seseorang ingin masuk masjid dan ia sudah berniat salat sunnah, tetapi salat fardhu berjamaah telah berlangsung, maka ia dapat menggabung niat salat sunnahnya dengan salat wajibnya.
2. Salah Satunya Sah dan Lainnya Batal
Hukum yang kedua salah satunya sah dan lainnya batal. Hal ini dicontohkan seperti puasa dalam satu hari dengan dua niat puasa. Misalnya puasa wajib seperti qadha Ramadan sekaligus puasa sunnah di bulan Syawal.
Pada penggabungan ini, sebagian ulama menilai yang sah hanya terbatas pada puasa yang wajib. Sementara puasa sunnahnya dihukumi batal.
Namun, ada juga ulama lain berpendapat yang sah adalah ibadah sunnahnya, sementara yang fardhu dihukumi batal. Wallahu 'alam.
3. Semuanya Dihukumi Batal
Kedua niat ibadah wajib dan sunnah yang semuanya dihukumi batal. Contoh dalam hal ini ketika seseorang membaca satu takbir dalam salat yang diniatkan untuk dua takbir.
Misalnya, takbiratul ihram yang wajib dan takbir intiqal untuk rukuk yang sunnah. Dalam kasus ini, kedua takbir tersebut dihukumi batal dan tentu saja salatnya juga ikut batal.
Mana yang Lebih Utama Dikerjakan antara Puasa Nisfu Syaban dan Qadha Ramadan?
Berdasarkan ketiga penjelasan hukum di atas, para ulama memiliki pendapat berbeda terkait menggabungkan niat amalan sunnah dengan wajib termasuk berpuasa Nisfu Syaban digabung dengan qadha Ramadan. Walau begitu, hendaknya muslim mendahului puasa qadha terlebih dahulu karena termasuk amalan wajib bukan sunnah.
Turut dijelaskan dalam buku Dakwah Kreatif: Muharram, Maulid Nabi, Rajab, dan Syaban oleh Udji Asiyah, Syaban jadi bulan kesempatan untuk meng-qadha utang puasa Ramadan yang lalu sebelumnya datangnya bulan Ramadan berikutnya. Hal ini dikatakan oleh Aisyah RA dalam haditsnya,
"Saya mempunyai tanggungan utang puasa. Saya tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Syaban." (HR Bukhari dan Muslim)
Niat Puasa Qadha Ramadan
نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى.
Nawaitu shauma ghadin 'an qadha'i fardi ramadhana lillaahi ta'Ala.
Artinya: "Saya niat berpuasa besok dari mengqadha fardu Ramadan Lillahi Ta'ala"
Niat Puasa Nisfu Syaban
نَوَيْتُ الصَّوْمَ فِى النّصفِ مِنْ شَعْبَانَ سُنَّة اللَّهِ تَعَالَى
Nawaitush shauma fin nishfi min sya'bana sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: "Saya berniat puasa sunnah pada pertengahan bulan Syaban karena Allah SWT."
Wallahu a'lam.
(aeb/kri)

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat