Perayaan Idul Fitri tahun ini terasa berbeda bagi warga Palestina. Pembatasan ketat di Yerusalem dan kondisi ekonomi yang memburuk di Gaza membuat momen yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi penuh keterbatasan, baik secara spiritual maupun sosial.
Di Yerusalem Timur, akses ke kompleks Masjid Al Aqsa dibatasi secara ketat oleh otoritas Israel. Banyak warga Palestina tidak diizinkan memasuki kawasan tersebut, bahkan untuk melaksanakan salat Idul Fitri. Akibatnya, sebagian jamaah terpaksa menunaikan ibadah di jalanan sekitar.
Seorang warga, Rmeleh, menggambarkan situasi ini,
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kota Tua tetap ditutup ketat, dengan akses masuk hanya diperbolehkan bagi penduduk yang terdaftar. Hal ini mencegah banyak warga Palestina mengunjungi kerabat selama Idul Fitri, waktu yang secara religius dan tradisional didedikasikan untuk berkumpul bersama keluarga dan menjaga ikatan kekerabatan," ujarnya kepada Middle East Eye, Jumat (20/3/2026).
Pembatasan ini juga berdampak pada hubungan sosial dan keluarga. Tradisi silaturahmi yang menjadi inti perayaan Idul Fitri tidak dapat dijalankan secara normal.
Jurnalis Latifeh Abdellatif turut mengalami langsung pembatasan tersebut.
"Meskipun saya adalah penduduk Kota Tua, saya mengalami kesulitan untuk kembali ke lingkungan saya dan hanya diizinkan masuk setelah menunjukkan identitas. Anggota keluarga yang mencoba mengunjungi saya selama Idul Fitri ditolak masuk," jelas Latifeh.
Sementara itu, di Gaza, persoalan yang dihadapi berbeda namun sama beratnya. Krisis ekonomi akibat konflik berkepanjangan menyebabkan harga kebutuhan, termasuk mainan anak-anak, melonjak drastis. Hal ini membuat banyak keluarga tidak mampu memberikan kebahagiaan sederhana bagi anak-anak mereka saat Lebaran.
Al Jazeera (21/3/2026) melaporkan harga kebutuhan rekreasi seperti mainan semakin melambung tinggi, imbas krisis ekonomi akibat perang di Gaza.
Rania (43 tahun) seorang warga asal Shujaya di barat Gaza menggambarkan kondisi ini dengan getir, "Liburan Idul Fitri adalah untuk kegembiraan anak-anak, dan anak-anak senang dengan mainan dan hiburan. Tetapi anak-anak kita justru kehilangan segalanya," ujarnya.
"Boneka ini dulunya harganya tidak lebih dari 15 shekel ($5) sebelum perang; sekarang harganya 60 shekel ($20). Ini adalah sesuatu yang tidak mampu saya beli. Semuanya mahal dan harganya terlalu tinggi." kata Rania dengan frustrasi.
Akibat harga mainan yang melambung tinggi, banyak orang tua tidak mampu memenuhi harapan anak-anak mereka.
"Anak-anak perempuan saya tidak akan senang pada Idul Fitri kali ini. Saya ingin menebusnya dengan membelikan mereka boneka, tetapi itu pun tidak mungkin," keluhnya.
Keterbatasan pasokan juga memperparah situasi. Ahmed, seorang pedagang, menjelaskan bahwa mainan kini sangat sulit didapat.
"Sebelum perang, saya bekerja di pameran mainan besar. Sekarang mainan jarang masuk, dan kami sering harus menyelundupkannya, terkadang disembunyikan di dalam pakaian atau barang lainnya," ujarnya dikutip Al Jazeera pada Minggu (22/3/2026).
Ia menambahkan bahwa sebagian besar mainan yang beredar hanyalah stok lama yang dijual dengan harga tinggi karena kelangkaan. Bahkan, harga mainan meningkat hingga tiga hingga empat kali lipat: mobil mainan kecil yang sebelumnya 40 shekel kini mencapai 150 shekel, bola kecil dari 3 shekel menjadi 30 shekel, sementara balok susun hampir tidak tersedia dan boneka bisa melebihi 70 shekel.
(inf/erd)

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat