Jika saat ini jemaah haji Indonesia bisa tiba di Jeddah hanya dalam hitungan jam dengan pesawat modern, bayangkan bagaimana suasana keberangkatan jemaah haji di abad ke-19.
Tanpa embarkasi resmi dan jadwal yang pasti, jemaah haji harus bertaruh nyawa menyeberangi samudra menggunakan kapal layar selama berbulan-bulan.
Lantas, bagaimana alur perjalanan haji Indonesia sebelum adanya sistem embarkasi seperti saat ini? Kota mana saja yang pernah menjadi pintu gerbang menuju Makkah di masa lalu?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simak ulasan sejarah perjalanan haji Indonesia abad ke-19 yang dirangkum detikHikmah berikut ini.
Transformasi Embarkasi Jemaah Haji Nusantara
Sejak permulaan haji hingga akhir abad ke-19, umat Islam yang berangkat ke Hijaz untuk melaksanakan ibadah haji, belum melalui pelabuhan embarkasi tertentu.
Pada abad ke-16 dan ke-17, para jemaah mengunjungi Tanah Suci berangkat melalui suatu pelabuhan perdagangan di Nusantara menuju Pasai dan Malaka.
Akan tetapi, karena Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada 1511, maka Pasai menjadi satu-satunya pintu gerbang menuju Makkah. Pada abad 18, Pasai tidak lagi menjadi pelabuhan embarkasi haji. Hal ini terjadi seiring kemunduran perdagangan Aceh.
Pada abad ke-19, perjalanan haji dimulai dari Batavia (Jakarta), Padang, Singapura, dan Penang. Sampai dengan tahun 1870, pemerintah Hindia Belanda belum menetapkan pelabuhan tertentu sebagai embarkasi jemaah haji.
Dari pelabuhan embarkasi di Nusantara dan Singapura itulah jemaah haji Nusantara berangkat ke Jeddah.
Ketika masih menggunakan kapal layar dan kapal dagang, perjalanan ke Jeddah melewati pelabuhan-pelabuhan tertentu di Samudra Hindia dan Laut Merah, baik untuk sekadar transit maupun transfer.
Tidak terdapat jalur tertentu yang harus dilalui untuk menuju ke Tanah Suci. Penetapan pelabuhan transit atau transfer oleh nahkoda kapal sangat tergantung pada keadaan angin dan pasar bagi komoditas yang diangkut atau diperlukan.
Kisah Pelayaran Ibadah Haji Abdullah Munsyi
Salah satu perjalanan ibadah haji pada abad ke-19 merujuk pada kisah sastrawan Melayu bernama Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dalam karyanya yang berjudul Kisah Pelayaran Abdullah yang dikutip dari buku Historiografi Haji Indonesia karya M. Shaleh Putuhena.
Abdullah berangkat dari Singapura pada 29 Jumadil Awwal 1273 H/1854 M dengan menggunakan kapal Subulassalam. Setelah beberapa hari berlayar, mereka tiba di kota Alfiah, sebuah kota yang sebagian penduduknya adalah muslim dan sebagian lagi Hindu. Di kota ini, Abdullah harus berganti kapal.
Setelah menunggu selama enam hari, Abdullah dan jemaah haji lainnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal haji Atia Rahma yang telah tiba dari Kalkatah. Dalam perjalanan ke Jeddah, kapal ini menyinggahi Kalikut, Mokha, dan Hudaidah.
Sehari sebelum sampai Jeddah, kapal menghentikan kecepatannya di Yalamlam agar jemaah haji berkesempatan untuk memakai pakaian ihram. Sebagaimana diketahui, Yalamlam adalah miqat makani bagi jemaah haji dari Nusantara.
Perjalanan haji dengan menggunakan kapal layar yang dialami Abdullah, selain memakan waktu lama juga menghadapi kondisi alam yang buruk. Beberapa kondisi seperti itu pernah dialami oleh Abdullah, sebagaimana yang ditulis olehnya:
"Tiadalah dapat hendak dikabarkan bagaimana kesusahannya, dan bagaimana besar gelombangnya, melainkan Allah yang amat mengetahuinya. Rasanya hendak masuk ke dalam perut ibu kembali. Gelombang dari kiri lepas ke kanan dan yang di kanan lepas ke kiri. Maka segala barang-barang dan peti-peti dan tikar bantal berplantingan. Maka sampailah ka dalam kurong air bersemboran, habislah basah kuyup. Maka masing-masing dengan halnya, tiadalah lain lagi dalam pikiran melainkan mati. Maka hilang-hilanglah kapal sebesar itu dihempaskan gelombang. Maka rasanya gelombang itu lebih tinggi daripada pucok tiang kapal. Maka sembahyang sambil dudok berpegang...pada ketika itu hendak menangis pun tiadalah berair mata, melainkan menangis keringlah bibir. Maka berbagailah berteriak akan nama Allah dan Rasul."
Pengalaman Abdullah saat itu, pasti sering dialami pula oleh jemaah haji yang menggunakan kapal layar. Meskipun demikian, hal tersebut tidak melunturkan semangat mereka yang akan pergi menunaikan ibadah haji.
(inf/inf)











































Komentar Terbanyak
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan