Nabung 21 Tahun Mulai Rp 10 Ribu, Penjual Es Keliling Akhirnya Naik Haji

Nabung 21 Tahun Mulai Rp 10 Ribu, Penjual Es Keliling Akhirnya Naik Haji

Devteo Mahardika - detikHikmah
Jumat, 17 Apr 2026 16:15 WIB
Ili (62) penjual es mung-mung asal Cirebon
Ili (62) penjual es mung-mung asal Cirebon yang dijadwalkan berangkat haji pada 19 Mei 2026. Foto: Devteo Mahardika/detikJabar
Jakarta -

Di tengah panasnya cuaca dan suara khas denting bel es keliling, sosok Ili (62) menjalani hari-harinya seperti pedagang kecil pada umumnya. Ia mendorong gerobak es mung-mung, berkeliling menyusuri gang-gang sempit di Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.

Namun siapa sangka, di balik rutinitas sederhana itu tersimpan perjalanan panjang penuh kesabaran. Kini, usaha yang ia jalani selama puluhan tahun mengantarkannya pada satu titik yang membahagiakan: berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Saat ditemui di kediamannya di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Sumber, suasana rumah Ili tampak sederhana namun hangat. Berbagai perlengkapan haji seperti kain ihram, tas, dan kebutuhan pribadi sudah tertata rapi. Sang istri, Yayah (49), terlihat setia mendampingi sekaligus membantu mempersiapkan keberangkatan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di halaman rumahnya, terparkir motor dengan gerobak es berwarna mencolok. Alat sederhana itu bukan sekadar sarana mencari nafkah, tetapi juga saksi perjalanan hidup Ili yang penuh perjuangan.

Menabung Rp 10 Ribu hingga Rp 20 Ribu

Es mung-mung yang dijual Ili merupakan jajanan tradisional khas pesisir Jawa. Terbuat dari bahan sederhana seperti santan, gula, dan tepung, es ini diolah secara manual menggunakan tabung berisi es batu dan garam. Dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000, jajanan ini menjadi favorit banyak kalangan.

ADVERTISEMENT

Namun bagi Ili, es mung-mung bukan sekadar dagangan. Dari sanalah ia merangkai mimpi besarnya sedikit demi sedikit.

"Datang ke Cirebon dulu tidak bawa apa-apa, susah sekali. Ikut kakak. Tapi alhamdulillah bisa nabung sedikit demi sedikit, dari Rp 10.000 sampai Rp 20.000 dari sisa dagang," tutur Ili.

Keinginan untuk berhaji mulai tumbuh sejak 2005. Sejak saat itu, ia mulai disiplin menyisihkan sebagian penghasilannya, meski jumlahnya tidak selalu sama setiap hari.

"Kalau ada lebih, Rp 50.000 disisihkan. Kadang musim hujan cuma Rp 30.000, kalau ramai bisa sampai Rp 500.000," katanya.

Perjalanan tersebut tentu tidak mudah. Sebagai pedagang keliling, ia harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu serta penghasilan yang sering kali naik turun.

"Kalau musim hujan sedih, kadang untuk makan saja susah. Tapi tetap diniatkan, alhamdulillah selalu ada jalan," ujarnya.

Kerja keras Ili tidak berhenti pada sekadar bertahan hidup. Ia berhasil mengembangkan usahanya hingga sempat memiliki 19 karyawan pada 2010. Perubahan juga terlihat dari cara berjualan, dari yang awalnya menggunakan gerobak dorong, kini ia memanfaatkan motor agar dapat menjangkau lebih banyak pelanggan.

Dari ribuan porsi es mung-mung yang terjual selama bertahun-tahun, akhirnya ia mendapatkan nomor porsi haji pada 2013. Penantian panjang itu kini terbayar, karena Ili dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 19 Mei 2026.

Rasa haru dan bahagia jelas terpancar dari wajahnya saat menceritakan momen tersebut.

"Bahagia sekali, seperti orang-orang lain, seperti bos-bos. Padahal saya cuma jualan es," ucapnya sambil tersenyum.

Ia pun menyimpan harapan besar agar keberangkatannya membawa keberkahan bagi orang-orang terdekatnya.

"Mudah-mudahan anak cucu, keluarga, dan teman-teman juga bisa ke Baitullah," harapnya.

Artikel ini telah tayang di detikJabar dengan judul Cerita Tukang Es Keliling Pergi Haji, Awalnya Nabung Rp 10 Ribu, baca selengkapnya di sini.




(dvs/kri)
Kisah Haji Para Tamu Allah

Kisah Haji Para Tamu Allah

30 konten
Menunaikan ibadah haji jadi hal yang sangat ditunggu banyak umat Islam. Di balik suksesnya haji, ada cerita unik dan juga perjuangan di belakangnya.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads