Tiga Tahun Berturut-turut Warga Gaza Tidak Bisa Haji dan Kurban Imbas Pembatasan Israel

Tiga Tahun Berturut-turut Warga Gaza Tidak Bisa Haji dan Kurban Imbas Pembatasan Israel

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Kamis, 28 Mei 2026 15:00 WIB
GAZA CITY, GAZA, PALESTINE - MAY 17: People carry the bodies of two Palestinians Beha Barut and Abdel Karim Nassar, who lost their lives in an Israeli drone strike, laid to rest in Sheikh Radwan Cemetery following funeral prayers at the Great White M
Suasana di Gaza (Foto: Anadolu via Getty Images/Anadolu)
Jakarta -

Selama tiga tahun berturut-turut, warga Palestina di Gaza tidak bisa melaksanakan ibadah haji atau merayakan Idul Adha imbas pembatasan dan genosida yang terus dilakukan Israel. Serangan terus terjadi meski sebelumnya sudah ada gencatan senjata.

Dilansir dari Quds News Network, sebelum Oktober 2023 ribuan warga Palestina di Gaza setiap tahun melakukan perjalanan haji. Kuota tahunan Gaza sebesar 2.500 jemaah haji, banyak di antaranya yang menunggu bertahun-tahun mendapat kesempatan bertolak ke Tanah Suci.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayangnya, pembatasan perbatasan yang dilakukan Israel kian berlanjut. Penutupan penyeberangan Gaza mencegah penduduk melakukan perjalanan haji selama tiga tahun berturut-turut.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina di gaza menyatakan lebih dari 10.000 warga Palestina telah kehilangan kesempatan melaksanakan ibadah haji sejak awal serangan Israel, termasuk puluhan orang meninggal ketika menunggu giliran mereka melakukan perjalanan ke Tanah Suci.

ADVERTISEMENT

Walaupun penyeberangan Rafah dengan Mesir sebagian dibuka kembali untuk jalur terbatas awal tahun ini, Israel masih sangat membatasi keberangkatan dan sebagian besar membetasinya untuk evakuasi medis serta kasus kemanusiaan yang disetujui melalui prosedur Israel sendiri.

Ketidakmampuan melaksanakan ibadah haji membawa penderitaan emosional dan spiritual yang mendalam bagi warga Gaza.

"Kami seharusnya berada di sana pada hari-hari suci ini," ujar salah satu warga Palestina, Najia Abu Lehia (64) kepada Reuters. Dia mengenang bagaimana dirinya dan mendang suami mempersiapkan ibadah haji sebelum perang berkecamuk dan meluluhlantahkan rencana mereka.

Sebuah studi yang diterbitkan pada Mei 2026 oleh Pusat Studi Politik Palestina (PCPS), yang ditulis oleh peneliti Khaled Abu Amer, menggambarkan kampanye Israel terhadap sektor Haji dan Umrah Gaza sebagai "genosida ekonomi struktural". Umrah adalah ziarah opsional ke Makkah yang dapat dilakukan umat Muslim kapan saja sepanjang tahun.

Studi tersebut mengungkapkan keruntuhan total dari semua 78 perusahaan perjalanan berlisensi di sektor tersebut. Mohammed al-Astal, kepala Asosiasi Perusahaan Haji dan Umrah di Gaza, mencatat sebagian besar kantor rusak atau hancur dalam konflik tersebut.

Kerusakan ini mengakibatkan kerugian modal melebihi $4 juta, bersama dengan perkiraan $2-3 juta dana beku yang dipegang oleh agen eksternal, seperti maskapai penerbangan dan hotel di Arab Saudi dan Mesir.

Sebelum perang, sektor ini menyuntikkan setidaknya $12 juta setiap tahun ke dalam ekonomi lokal. Hilangnya pendapatan ini telah berdampak pada lebih dari 1.500 pekerja langsung dan tidak langsung serta mata pencaharian mereka.

Laporan PCPS berpendapat penargetan berulang terhadap sektor ini membuktikan bahwa penghancuran tersebut merupakan kebijakan yang disengaja, bukan kerusakan tambahan yang tidak disengaja.

"Kami tidak dapat menyelenggarakan musim (haji) ini karena kami tidak diberi jaminan bahwa perbatasan akan dibuka," kata Rami Abu Staitah, Direktur Jenderal Haji dan Umrah di Kementerian Wakaf.

"Persiapan membutuhkan kontrak awal yang kompleks untuk perumahan dan transportasi, yang tidak mungkin dilakukan dalam kondisi ini," sambungnya.

Kementerian juga telah meminta komunitas internasional, Arab Saudi dan Mesir untuk campur tangan mendesak memisahkan ibadah haji dari perhitungan politik. Kekacauan di Gaza meluas, tak hanya sebatas ibadah haji.

Otoritas Palestina di Gaza mengumumkan penyembelihan hewan kurban Idul Adha tidak bisa dilakukan tahun ini. Artinya, penyembelihan hewan kurban tidak terlaksana di Gaza selama tiga tahun berturut-turut karena runtuhnya sektor peternakan dan pembatasan Israel terhadap masuknya hewan hidup ke Jalur Gaza.

Lembaga-lembaga kemanusiaan telah memperingatkan bagaimana memburuknya kondisi di Gaza. Sebagian besar penduduk masih mengungsi dan bergantung pada pengiriman bantuan yang terbatas.

Sejak awal perang, lebih dari 90 persen sektor peternakan Gaza hancur atau rusak akibat serangan Israel dan pembatasan pergerakan barang serta perlengkapan pertanian. Data ini didasarkan dari Kamar Dagang dan Industri Gaza.

Selain kehancuran produksi ternak lokal, Israel juga memblokir masuknya hewan hidup ke wilayah tersebut. Hal ini mengisolasi sektor tersebut dan memperketat rantai pasokan yang sudah rapuh.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), pada November lalu, setidaknya 80 persen domba dan 70 persen kambing di Gaza telah terbunuh atau mati selama perang.

Kini, sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza masih mengungsi, tinggal di kamp-kamp tenda dan rumah-rumah yang hancur, menewaskan sekitar 72.775 warga Palestina selama perang yang sedang berlangsung dan menuai kecaman dari seluruh dunia.




(aeb/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads