Juli Jadi Bulan Terpanas di Arab Saudi, Data Iklim 40 Tahun Ungkap Tren Suhu Ekstrem

Juli Jadi Bulan Terpanas di Arab Saudi, Data Iklim 40 Tahun Ungkap Tren Suhu Ekstrem

Devi Setya - detikHikmah
Kamis, 25 Jun 2026 10:59 WIB
Jamaah calon haji menutup kepala menggunakan kain usai shalat zuhur di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, Selasa (6/6/2023). Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jamaah untuk menjaga kesehatan dan tidak memaksakan diri dalam menjalankan ibadah sunah atau program ziarah terkait suhu di Mekah mencapai 45 derajat celsius. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.
Foto: ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A
Jakarta -

Arab Saudi kini memasuki puncak musim panas tahunan. Berdasarkan data iklim jangka panjang yang dianalisis oleh Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (National Center for Meteorology/NCM), Juli menjadi bulan terpanas sepanjang tahun di berbagai wilayah Kerajaan.

Dilansir dari Saudi Gazette, Kamis (25/6/2026) dalam analisis yang mencakup periode 1985 hingga 2025 menunjukkan bahwa Juli memiliki suhu rata-rata mencapai 33,1 derajat Celsius. Sementara itu, suhu maksimum rata-rata pada bulan tersebut berada di angka 40,3 derajat Celsius. Di sisi lain, curah hujan pada Juli relatif rendah dengan rata-rata hanya 3,34 milimeter berdasarkan standar iklim periode 1991-2020.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data NCM menunjukkan bahwa suhu tertinggi selama Juli umumnya terjadi di Provinsi Timur dan sebagian besar wilayah tengah Arab Saudi. Di sejumlah daerah, suhu maksimum rata-rata bahkan melampaui 44 derajat Celsius.

Sebaliknya, kawasan dataran tinggi di wilayah barat daya menjadi daerah yang lebih sejuk dibandingkan wilayah lainnya. Beberapa daerah seperti Asir, Al-Baha, dan Taif tercatat memiliki suhu terendah selama bulan Juli berkat letaknya yang berada di kawasan pegunungan.

ADVERTISEMENT

Rekor Suhu Maksimum

Dalam rentang 2016 hingga 2025, tahun 2017 tercatat sebagai tahun dengan suhu maksimum rata-rata tertinggi pada bulan Juli, yakni mencapai 42,01 derajat Celsius. Sementara itu, suhu maksimum rata-rata terendah selama periode yang sama terjadi pada tahun 2022 dengan angka 39,66 derajat Celsius.

Data tersebut menunjukkan bahwa suhu musim panas di Arab Saudi tetap berada pada tingkat yang sangat tinggi dari tahun ke tahun.

Beberapa wilayah di Arab Saudi juga mencatat suhu ekstrem yang melampaui 50 derajat Celsius.

Al-Ahsa menjadi lokasi dengan suhu Juli tertinggi yang pernah tercatat di antara stasiun pemantauan cuaca, yakni mencapai 51,3 derajat Celsius pada 12 Juli 2024.

Rekor suhu tinggi lainnya meliputi:

Rafha: 51,1 derajat Celsius pada 30 Juli 2020.
Dammam: 50,8 derajat Celsius pada 12 Juli 2024.
Al-Qaisumah: 50,6 derajat Celsius pada 16 Juli 2010 dan kembali tercatat pada 31 Juli 2020.

Selain mencatat suhu puncak yang sangat tinggi, beberapa wilayah juga mengalami durasi panas ekstrem yang panjang.

Berdasarkan rata-rata jangka panjang, Al-Ahsa mengalami suhu 45 derajat Celsius atau lebih tinggi selama sekitar 24 hari dalam bulan Juli. Jumlah ini menjadi yang tertinggi di antara seluruh stasiun pemantauan cuaca di Arab Saudi.

Sementara itu Dammam rata-rata mengalami 18 hari dengan suhu di atas 45 derajat Celsius, kemudian Al-Qaisumah juga mencatat rata-rata 18 hari panas ekstrem dan Wadi Al-Dawasir mengalami sekitar 13 hari per bulan dengan suhu melebihi 45 derajat Celsius.

Curah Hujan Terkonsentrasi di Wilayah Pegunungan

Meski dikenal sebagai negara dengan iklim gurun yang kering, beberapa wilayah Arab Saudi tetap menerima hujan selama Juli. Curah hujan umumnya terkonsentrasi di daerah pegunungan bagian barat daya dan selatan.

Wilayah yang paling banyak menerima hujan meliputi Asir, Jazan, dan Al-Baha.

Di antara seluruh stasiun pemantauan cuaca, Khamis Mushait mencatat rata-rata curah hujan tertinggi pada Juli, yakni 22,5 milimeter. Angka tersebut diikuti oleh Abha: 22,0 milimeter dan Jazan: 16,4 milimeter.

Sebaliknya, sebagian besar wilayah tengah, utara, dan timur Arab Saudi hampir tidak menerima hujan sama sekali selama bulan tersebut.

Data NCM juga menunjukkan variasi curah hujan yang cukup besar setiap tahunnya.

Dalam satu dekade terakhir, tahun 2020 menjadi tahun dengan rata-rata curah hujan Juli tertinggi, yaitu mencapai 15,12 milimeter. Sebaliknya, tahun 2023 menjadi salah satu periode paling kering dengan rata-rata curah hujan hanya 0,12 milimeter.

Selain suhu ekstrem, laporan tersebut juga mencatat sejumlah kejadian hujan lebat yang pernah terjadi pada bulan Juli.

Rekor curah hujan harian tertinggi tercatat di Jazan dengan total 67,2 milimeter pada 26 Juli 1995.

Gambaran Musim Panas Arab Saudi

Data iklim selama empat dekade terakhir memperlihatkan bahwa Juli secara konsisten menjadi bulan paling panas di Arab Saudi. Wilayah timur dan tengah mendominasi daftar daerah dengan suhu tertinggi, bahkan beberapa kali mencatat temperatur di atas 50 derajat Celsius.

Di sisi lain, kawasan pegunungan barat daya seperti Asir, Al-Baha, dan Taif menawarkan kondisi yang relatif lebih sejuk serta menerima curah hujan lebih banyak dibanding wilayah lain.




(dvs/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads