Begini Cara Sahabat Nabi Jaga Kemurnian Al-Qur'an Sebelum Jadi Mushaf

Begini Cara Sahabat Nabi Jaga Kemurnian Al-Qur'an Sebelum Jadi Mushaf

Kristina - detikHikmah
Minggu, 28 Jun 2026 08:00 WIB
Memasuki 10 hari terakhir bulan suci ramadan, banyak orang berlomba-lomba mengejar pahala. Salah satunya kala ia menyambut Nuzulul Quran. Inilah potretnya. 

Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya Al-Quran dalam menyempurnakan ajaran Islam sebagai petunjuk umat manusia. Momen ini diperingati saat memasuki hari ke -17 Bulan Suci Ramadan.
Ilustrasi Al-Qur'an (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Umat Islam hari ini mengenal Al-Qur'an sudah dalam bentuk kitab yang dibukukan atau mushaf. Jauh sebelum itu, wahyu Allah SWT hanya tersimpan dalam hafalan atau ditulis di atas pelepah kurma, batu, tulang, hingga potongan kulit secara terpisah.

Proses pembukuan wahyu memerlukan proses panjang hingga akhirnya cetakannya seragam dan utuh. Pengumpulan ini dilakukan pada masa Khulafaur Rasyidin.

Dijelaskan dalam buku Ulumul Quran susunan Gunawan, pada masa Rasulullah SAW, setiap wahyu yang turun langsung diajarkan kepada para sahabat. Sebagian dari sahabat memilih menghafalkan langsung dari Rasulullah SAW, sementara sebagian yang lain mencatat apa yang mereka dengarkan. Mereka mencatatnya di berbagai media tradisional seperti kulit hewan, tulang, pelepah kurma, batu, hingga lembaran papirus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengumpulan ayat-ayat Al-Qur'an ini bersifat informal dan tidak ada satu buku atau manuskrip tunggal yang memuatnya. Para sahabat mempelajari dan menghafal ayat-ayat yang diturunkan, tetapi saat itu tak ada panduan urutan atau penempatan ayat.

Zaid bin Tsabit RA menjadi salah satu sahabat yang terkenal sebagai penghafal Al-Qur'an top. Dia punya peran penting dalam menyimpan setiap wahyu yang turun.

ADVERTISEMENT

Meskipun para sahabat menghafal atau menulis ayat-ayat yang mereka dengar dari Rasulullah SAW, tapi tak ada usaha sistematis untuk mengumpulkannya dalam satu naskah. Rasulullah SAW hanya mengingatkan agar setiap wahyu dicatat dan diajarkan tetapi beliau tidak menekankan untuk menyusun dalam satu buku.

Alasan tak dilakukan pengumpulan pada masa Rasulullah SAW salah satunya karena sifat wahyu itu sendiri. Wahyu diturunkan secara bertahap dan dalam konteks yang berbeda. Para sahabat juga memprioritaskan memahami dan mengamalkan daripada sekadar mengumpulkan teks.

Pengumpulan Al-Qur'an pada Masa Sahabat

Setelah Rasulullah SAW wafat, kekacauan terjadi di kalangan umat Islam ketika banyak sahabat penghafal Al-Qur'an gugur dalam berbagai peperangan. Perang Yamamah menjadi tonggak awal pengumpulan Al-Qur'an.

Banyaknya penghafal Al-Qur'an yang gugur memunculkan kekhawatiran akan hilangnya ayat-ayat Al-Qur'an. Mengumpulkan dan membukukan Al-Qur'an kemudian menjadi sesuatu yang sangat mendesak pada saat itu.

Umar bin Khattab RA mengusulkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq RA--yang kala itu menjabat sebagai khalifah--agar Al-Qur'an dibukukan menjadi satu mushaf. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menolak karena hal ini tidak dilakukan pada masa Rasulullah SAW. Hingga akhirnya setelah melewati berbagai pertimbangan, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pun setuju.

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA memerintahkan Zaid bin Tsabit RA memimpin pengumpulan Al-Qur'an. Dia mengumpulkan hafalan para sahabat dan catatan-catatan wahyu yang ditulis era Rasulullah SAW. Semuanya dilakukan dengan teliti. Zaid hanya menerima ayat Al-Qur'an yang disaksikan dua orang, baik secara hafalan maupun tertulis.

Setelah semuanya selesai, mushaf kemudian disimpan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan diwariskan kepada Umar bin Khattab RA. Umar RA kemudian menyerahkan mushaf tersebut kepada putrinya, Hafsah, yang juga istri Nabi SAW. Mushaf tersebut dijaga dengan baik hingga sampai era Khalifah Utsman bin Affan RA.

Pada masa Utsman bin Affan RA, mushaf Al-Qur'an mengalami sejarah baru. Islam kala itu sudah menyebar luas hingga Persia, Syam, dan Mesir. Di wilayah tersebut ternyata ada perbedaan variasi bacaan Al-Qur'an cukup signifikan. Hal ini karena perbedaan dialek bahasa Arab dan cara menghafal serta menulis Al-Qur'an. Keputusan untuk membuat mushaf standar pun diambil.

Zaid bin Tsabit kembali memimpin proyek besar penyeragaman Al-Qur'an. Tugas mereka menyalin dan menyusun Al-Qur'an berdasarkan standar baku yang memperhatikan urutan surat dan ayat sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Setelah selesai, salinan Al-Qur'an didistribusikan ke wilayah-wilayah penting seperti Makkah, Madinah, Basrah, Kufah, dan Syam. Adapun semua naskah yang tidak sesuai dengan mushaf baku dibakar atas perintah Khalifah Utsman RA. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian Al-Qur'an.




(aeb/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads