Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya peran pondok pesantren dalam membangun karakter bangsa. Menag menyebut sistem pendidikan pesantren di Indonesia bahkan mendapat pengakuan dari pakar pendidikan internasional sebagai lembaga pendidikan yang paling modern dan berorientasi ke depan.
Sistem boarding school atau sekolah berasrama yang kini diadopsi banyak sekolah unggulan dunia, sejatinya telah lama diterapkan oleh pesantren. Melalui sistem ini, santri terlindungi dari kontradiksi moral di lingkungan luar.
"Sekolah yang paling aman dunia akhirat itu adalah pesantren. Rusaknya anak remaja kita saat ini sering kali karena kontradiksi di dalam kehidupan. Namun, kalau anak itu di-boarding-kan, apa yang dipelajari, itu pula yang diamalkan. Itulah yang nanti akan membentuk mereka menjadi anak-anak yang saleh dan salehah," ujar Nasaruddin Umar dalam keterangan persnya, dikutip dari laman Kemenag, Senin (6/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan itu disampaikan Menag saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Nasaruddin menjelaskan bahwa pesantren tidak hanya hadir sebagai lembaga pendidikan keagamaan semata, melainkan juga ruang pembinaan akhlak, kemanusiaan, dan kerukunan sosial yang melampaui batas-batas identitas keagamaan.
"Pesantren itu bukan hanya mendidik umat Islam, kehadiran pondok pesantren juga untuk membina kemanusiaan. Ini bukan hanya membahagiakan anak-anak umat Islam, tapi membahagiakan anak manusia di sini," jelasnya.
Ia mengungkapkan, relevansi sistem pesantren di era modern ini turut diperkuat oleh hasil riset akademisi luar negeri. Format asrama dinilai menjadi jawaban paling tepat untuk menghadapi tantangan psikologis dan moral remaja saat ini.
"Baru-baru ini ada profesor dari Inggris, pakar pendidikan, yang meneliti pondok pesantren di Indonesia. Kesimpulannya, lembaga pendidikan paling modern dan berperspektif ke depan adalah pondok pesantren," tegas Menag.
Lebih lanjut, Menag memaparkan bukti nyata keberhasilan pesantren dalam melahirkan generasi yang unggul, baik secara intelektual maupun spiritual. Ia mencontohkan adanya alumni pesantren yang mampu berprestasi sebagai sarjana teladan di Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an 30 juz.
Tak kalah penting, lingkungan pesantren juga terbukti menanamkan rasa bakti yang tinggi dari anak kepada orang tua mereka.
"Insyaallah, dengan memasukkan anak kita di pondok pesantren, terasa akhlaknya berubah total. Mereka terbiasa mencium tangan bapak-ibunya, hingga membangunkan orang tuanya untuk salat subuh. Sudah ada tanda-tanda surga yang dimiliki oleh para santri dan santriwati kita," tuturnya.
Menag pun mengajak para orang tua, pemerintah daerah, dan masyarakat luas untuk memberikan dukungan penuh kepada pesantren-pesantren yang memiliki legalitas jelas. Ia mengimbau masyarakat agar tidak ragu lagi menjadikan pesantren sebagai pilar utama pendidikan demi mencetak generasi penjaga kerukunan dan toleransi di masa depan.
(hnh/lus)

Komentar Terbanyak
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat