Bukit Shafa-Marwah merupakan salah satu tempat penting dalam rangkaian ibadah haji dan umrah, khususnya dalam pelaksanaan sa'i. Sa'i dilakukan dengan berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali sebagai bagian dari rukun ibadah tersebut.
Bukit Shafa-Marwah juga berkaitan dengan kisah Hajar, istri dari Nabi Ibrahim, yang berusaha mencari air untuk putranya, Nabi Ismail. Peristiwa ini kemudian menjadi dasar disyariatkannya ibadah sa'i dalam pelaksanaan haji dan umrah.
Sejarah Sa'i, Bermula dari Kisah Siti Hajar dengan Nabi Ismail
Dikutip dari buku Ayah, Bunda, Ayo Naik Haji karya Dewi Rieka, ibadah sa'i berawal dari kisah perjuangan Bunda Siti Hajar bersama putranya, Nabi Ismail. Kala itu, keduanya berada di wilayah Makkah yang masih berupa gurun tandus dan terpencil, tanpa sumber air maupun makanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kondisi sulit tersebut, Nabi Ismail menangis karena lapar dan haus, sementara air susu Siti Hajar tidak lagi mengalir. Demi menyelamatkan anaknya, Siti Hajar berusaha mencari pertolongan dengan berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Saat harapan hampir pupus, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril. Dengan izin-Nya, muncullah mata air di tengah padang pasir yang kering. Siti Hajar pun berseru, "Zamzam!" sebagai ungkapan lega dan syukur. Air itulah yang kemudian diminumkan kepada Nabi Ismail, dan menjadi sumber kehidupan di wilayah tersebut hingga kini.
Dari upaya Siti Hajar dalam mencari air dengan berlari-lari kecil di antara dua bukit tersebut kemudian ibadah sa'i disyariatkan.
Proses Sa'i di Bukit Shafa dan Marwah
Dalam buku Blusukan di Makkah dan Madinah karya Hasanudin Abdurakhman dijelaskan bahwa Bukit Shafa dan Marwah berada di sebelah timur Ka'bah. Jarak antara keduanya sekitar 500 meter, sementara jarak dari Ka'bah ke Shafa dan Marwah masing-masing kurang lebih 100 meter dan 350 meter.
Saat ini, kedua bukit tersebut sudah berada dalam bangunan tertutup. Bukit Shafa tampak seperti gundukan batu yang dilapisi kaca, sedangkan Bukit Marwah berupa hamparan batu sekitar 3 meter persegi yang permukaannya dilapisi bahan pelindung.
Keduanya dihubungkan oleh jalur berlapis marmer dengan lebar sekitar 20 meter dan terdiri dari dua lantai. Jalur ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu untuk jamaah umum yang berjalan pulang-pergi serta jalur khusus pengguna kursi roda yang lebih pendek.
Pelaksanaan sa'i dimulai dari Bukit Shafa. Sebelum berjalan, jamaah menghadap ke Ka'bah untuk berdoa, kemudian bergerak menuju Marwah. Di tengah perjalanan terdapat area yang ditandai lampu hijau, yang dikenal sebagai Bathn al-Masâ'il. Dahulu tempat ini merupakan lembah, dan pada titik ini jamaah laki-laki dianjurkan berlari kecil.
Setibanya di Bukit Marwah, jamaah berbalik arah menuju Shafa, lalu kembali melewati Bathn al-Masâ'il dan melakukan lari kecil lagi. Proses ini diulang hingga mencapai tujuh kali lintasan antara Shafa dan Marwah, bukan tujuh kali pulang-pergi, dan diakhiri di Bukit Marwah. Di sana, jamaah kembali berdoa. Sepanjang pelaksanaan sa'i, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak zikir dan doa.
(lus/lus)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan