Isra Miraj Itu Peristiwa Apa? Ini Penjelasan Sejarahnya

Isra Miraj Itu Peristiwa Apa? Ini Penjelasan Sejarahnya

Arum Sekar Pertiwi - detikJogja
Rabu, 07 Jan 2026 13:26 WIB
Poster Isra Miraj 2026
Ilustrasi Isra Miraj. Foto: Canva
Jogja -

Tahun ini, tanggal 27 Rajab 1447 H yang menjadi hari peringatan Isra Miraj jatuh pada 16 Januari 2026. Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang juga berkaitan dengan perintah shalat 5 waktu yang dijalankan umat muslim.

Menurut artikel Studi Analisis Peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad Menurut Al-Qur'an dan Hadits oleh Aceng Zakaria, Isra Miraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW di suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, hingga naik ke langit sampai ke tempat tertinggi untuk bertemu Allah SWT. Peristiwa ini pun menjadi salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang juga menjadi wujud penghormatan dan pelipur lara selepas kepergian paman dan istri beliau. Peristiwa ini juga menjadi penghibur bagi Nabi Muhammad SAW setelah beliau mengalami perlakuan yang tidak bersahabat dari penduduk Thaif.

Lantas, peristiwa apa saja yang terjadi dalam perjalanan Isra Miraj dan bagaimana penjelasan sejarahnya? Simak pembahasan tentang Isra Miraj yang dirangkum dari artikel Studi Analisis Peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad Menurut Al-Qur'an dan Hadits oleh Aceng Zakaria dan Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya oleh Yuyun Yunita di bawah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian dan Sejarah Isra Miraj

Peristiwa Isra Miraj terdiri dari 2 peristiwa, yaitu peristiwa Isra' dan Mi'raj. Peristiwa Isra' merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Adapun Miraj merujuk pada peristiwa naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha ke langit menuju Sidratul Muntaha.

ADVERTISEMENT

Dalam Al-Quran, dalil mengenai Isra Miraj tercantum dalam Surat Al-Isra' ayat 1.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Arti: "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesunggunya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dapat melakukan perjalan Isra' dan Mi'raj bukan atas kekuatan beliau sebagai manusia biasa, melainkan atas kekuatan atau kebesaran dari Allah SWT.

Selain ayat tersebut, peristiwa ini juga disebutkan dalam Surat An-Najm ayat 13-18.

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ ۝١٣ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى ۝١٤ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ ۝١٥ اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ ۝١٦ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى ۝١٧ لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى ۝١٨

Arti: "Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya). Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar."

Firman Allah tersebut menjelaskan peristiwa Mi'raj, yaitu naiknya Nabi Muhammad SAW ke langit hingga Sidratul Muntaha. Pada peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW melihat malaikat Jibril dalam wujud aslinya dan bertemu Allah SWT.

Selain dikisahkan dalam Al-Quran, peristiwa Isra Miraj juga disebutkan dalam puluhan hadis. HR Ahmad yang diriwayatkan dari Anas R.A., misalnya, menjelaskan tentang peristiwa Isra' dan buraq yang menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa ini. Menurut hadis ini, buraq merujuk pada hewan putih yang lebih besar dari himar dan lebih kecil dari keledai. Nabi Muhammad SAW mengendarai Buraq hingga ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) untuk melaksanakan sholat 2 raka'at.

Setelah keluar dari masjid, beliau bertemu dengan Malaikat Jibril yang membawa satu wadah berisi khamr dan satu wadah berisi susu. Nabi Muhammad SAW pun memilih susu yang kemudian disebut Malaikat Jibril sebagai pilihan yang sesuai fitrah. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW pun melanjutkan perjalanan Mi'raj hingga ke langit tertinggi.

Berbeda dengan perjalanan Isra', sarana yang digunakan dalam perjalanan Mi'raj tidak diketahui dengan jelas karena disebutkan dengan fi'il majhul (kata kerja pasif). Akan tetapi, menurut Ibnu Katsir, Mi'raj merujuk pada tangga. Jadi, Nabi Muhammad SAW menaiki tangga menuju langit, bukan dengan buraq.

Adapun detail peristiwa Mi'raj disebutkan dalam HR Al-Bukhari, Muslim, hingga Anas bin Malik. Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW dibawa naik melewati beberapa langit dan bertemu dengan nabi-nabi lain. Di langit dunia, beliau bertemu dengan Nabi Adam AS, di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS, di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf AS, di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris AS, di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun AS, di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa AS, dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim AS yang sedang bersandar pada Baitul Ma'mur.

Dari langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW naik ke Sidratul Muntaha yang berada di langit tertinggi. Di tempat inilah beliau bertemu dengan Allah SWT yang memerintahkan beliau dan umatnya untuk menunaikan sholat 50 waktu. Namun, ketika beliau melakukan perjalanan kembali dari Mi'raj, Nabi Musa AS meminta Nabi Muhammad SAW untuk menghadap Allah SWT lagi dan meminta keringanan terkait perintah shalat tersebut. Setelah mendapat keringanan, Nabi Musa AS kembali menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk meminta keringanan lagi.

Pada akhirnya, Allah memberikan keringanan berupa shalat 5 waktu. Ketika mendengar perintah ini, Nabi Musa AS kembali menyarankan permohonan keringanan, tetapi Nabi Muhammad SAW merasa malu. Kemudian, terdengar suara, "Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku."

Pada esok hari setelah peristiwa Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW menemui warga Mekkah dan menyampaikan peristiwa yang beliau alami. Banyak orang yang mencemooh dan menganggap beliau berdusta. Beliau bahkan ditantang untuk menggambarkan Baitul Maqdis. Allah pun memperlihatkan detail Baitul Maqdis di hadapan Nabi Muhammad SAW, seakan beliau berdiri di depan bangunannya.

Keraguan warga Mekkah membuat mereka mendatangi Abu Bakar untuk menanyakan pendapat beliau tentang peristiwa ini. Abu Bakar kemudian membenarkan peristiwa ini dengan tegas. Beliau pun menjadi orang pertama yang membela dan membenarkan peristiwa ini. Hal inilah yang membuat beliau mendapat gelar Ash-Shiddiq yang berarti membenarkan.

Demikian penjelasan tentang pengertian dan sejarah Isra Miraj. Semoga peristiwa ini bisa menjadi pengingat umat Islam tentang perjuangan dan mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(par/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads