Kakek asal Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, Suhantara (82) menyebut menanam padi menggunakan galon memiliki tantangan tersendiri, yakni serangan hama. Selain itu, sistem penanaman itu harus menyediakan air dalam jumlah besar.
Suhan, menuturkan kendala menanam padi menggunakan galon bukan pada pengumpulan galon. Pasalnya, dirinya hanya menggunakan sekitar 100 galon saja.
"Kalau tantangannya bukan pada mengumpulkan galon, karena saya kan juga pakai kaleng bekas dan ember bekas. Jadi kalau saya lebih ke penanganan hama," katanya saat ditemui di kediamannya, Susukan II, Ponjong, Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hama itu, ungkap Suhan, adalah seorang hama wereng dan tikus. Namun untuk yang dialaminya saat ini paling banyak adalah hama tikus.
"Di tempat saya hama tikus, ini (beberapa tanaman padi di galon) dimakan tikus dan akhirnya rusak. Baru malam tadi saya coba pasang perangkap tikus di sekitar pekarangan rumah," ujarnya.
Di sisi lain, dia mengungkapkan, tantangan lain dalam menanam padi menggunakan galon adalah pada pengairan. Di mana penyiraman harus sampai media tanam tenggelam atau airnya meluber.
"Menanam padi di galon itu memang tidak menyiram setiap hari tapi airnya harus banyak, karena kalau sudah kering langsung disiram lagi. Tapi untungnya kalau di tempat saya ini airnya melimpah," ucapnya.
Suhan memberikan saran bagi masyarakat yang berada di daerah sulit air dan ingin menanam padi di galon harus bisa memanen air hujan. Nantinya air tersebut digunakan menyirami tanaman padi di galon.
"Jadi menanam padi pakai galon di daerah tandus memang sangat bisa, asal airnya aman. Nah, kalau airnya tidak aman bisa memanen air hujan agar tidak keluar biaya lagi," katanya.
Diberitakan sebelumnya, seorang kakek di Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul bernama Suhantara (82) mengembangkan sawah rongsok, yakni menanam padi dengan menggunakan galon hingga kaleng bekas di pekarangannya. Bahkan, setiap galon mampu menghasilkan ratusan gram gabah kering ketika panen.
Pantauan detikJogja, tampak seorang kakek bertopi tengah sibuk mengecek tanaman padi di galon. Selain itu, kakek tersebut sesekali mengecek bibit padi yang nantinya akan dipindahkan ke media tanam berupa galon.
Suhantara menjelaskan ide awal menggunakan galon bekas sebagai tempat untuk menanam padi. Menurut Suhantara, semua itu berawal saat dirinya memanen padi di sawah pada tahun 2025.
"Lalu gabah kering saya bawa ke rumah dan ternyata ada yang tercecer di tanah. Yang gabah tercecer itu tumbuh jadi benih (padi)," katanya saat ditemui detikJogja di kediamannya, Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).
Adapun saat itu tanaman padinya menggunakan jenis Inpari-24. Selanjutnya, karena memiliki benih padi tersebut, Suhantara mengambil beberapa kaleng bekas dan mengisinya dengan tanah, pupuk dan benih padi tersebut.
"Kaleng isi benih itu saya siram dengan rutin dan ternyata bisa tumbuh baik. Nah, karena tumbuh baik terus punya ide lagi untuk memperbesar medianya, karena kalau kaleng itu kan kecil," ujarnya.
(apl/afn)

Komentar Terbanyak
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja