Kisah Raja-raja Keraton Jogja terdahulu menjadi warisan yang sarat akan budaya dan menarik untuk diketahui hingga generasi sekarang. Tidak terkecuali Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VI yang naik takhta sebagai pemimpin Keraton Jogja di masa lampau. Lantas, bagaimana kisahnya?
Munculnya Keraton Jogja tidak terlepas dengan adanya Kerajaan Mataram Islam. Dulunya, Kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya atau Panembahan Senopati. Meskipun sempat menikmati masa-masa gemilangnya, Mataram Islam akhirnya mengalami kemunduran.
Seperti halnya dijelaskan dalam buku 'The Pakubuwono Code' tulisan Agung Prabowo, Mataram Islam akhirnya terbagi menjadi dua. Pembagian ini dikenal dengan nama Palihan Nagari yang diambil dari kata palihan atau sepalin (separuh) dan nagari yang bermakna negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut menyusul Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram Islam menjadi Keraton Kesultanan Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kasunanan Surakarta adalah kekuasaan Pakubuwono II.
Seiring berjalannya waktu, Keraton Kesultanan Yogyakarta mengalami peralihan raja. Dari masa ke masa hingga akhirnya tiba di tangan Sri Sultan HB VI. Naiknya takhta Sri Sultan HB VI ternyata merupakan warisan dari sang kakak yang meninggal secara tiba-tiba. Untuk lebih jelasnya, berikut ulasan kisahnya.
Poin Utamanya:
- Sultan HB VI bernama asli Gusti Raden Mas Mustojo, lahir pada 10 Agustus 1821, putra Sultan Hamengku Buwono IV dan adik kandung Sultan HB V yang awalnya bukan putra mahkota.
- Sultan HB VI naik takhta pada usia 24 tahun setelah wafatnya Sultan HB V, menjalin hubungan erat dengan Pemerintah Kolonial Belanda, namun pemerintahannya diwarnai gejolak internal serta gempa bumi besar yang merusak Keraton Yogyakarta dan sekitarnya.
- Sultan HB VI wafat pada 20 Juli 1887 dalam usia 55 tahun. Lalu digantikan oleh sang putra sulung yang bernama Gusti Raden Mas Murtejo dengan gelar Sultan HB VII.
Siapa Itu Sultan HB VI?
Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VI memiliki nama asli Gusti Raden Mas Mustojo. Melalui buku 'Takhta Raja-raja Jawa' tulisan Dwi Lestari, Gusti Raden Mas Mustojo yang nantinya bakal naik takhta dengan gelar Sultan HB VI, lahir pada tanggal 10 Agustus 1821.
Sosoknya adalah putra dari Hamengku Buwono IV dan lahir dari ibu bernama Gusti Kanjeng Kencono. Sebagai putra dari seorang raja, Gusti Raden Mas Mustojo bukanlah seorang putra mahkota. Sebab, sang kakak yang bernama Gusti Raden Mas Gathot Menol yang nantinya bergelar Sultan HB V adalah penerus takhta.
Menurut buku 'Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi' oleh B Sularto, jarak usia antara Gusti Raden Mas Gathot Menol dan Gusti Raden Mas Mustojo hanya terpaut 1 tahun saja. Ini lantaran Gusti Raden Mas Gathot Menol lahir pada 24 Januari 1820.
Setelah Sultan HB IV mangkat, takhta Kesultanan Jogja jatuh pada putra pertamanya, yaitu Gusti Raden Mas Gathot Menol yang diberi gelar sebagai Sultan HB V. Suksesi Sultan HB V terbilang cukup mendadak, sebab Sultan HB IV mangkat juga tak kalah tiba-tiba.
Dikatakan dalam buku tersebut, ayah dari Gusti Raden Mas Gathot Menol dan Gusti Raden Mas Mustojo ini tutup usia saat masih 19 tahun. Dirinya wafat saat sedang melakukan perjalanan di tanggal 6 Desember 1823 silam. Pada saat itu, kedua putranya masih berusia sangat muda.
Gusti Raden Mas Gathot baru berusia 3 tahun, sedangkan Gusti Raden Mas Mustojo 2 tahun. Sebagai seorang putra mahkota, Gusti Raden Mas Gathot naik takhta saat masih berusia 3 tahun. Hal inilah yang membuat pemerintahan Keraton Jogja pada saat itu masih berada di bawah Dewan Perwalian.
Barulah setelah Sultan HB V cukup dewasa, Dewan Perwalian dihapuskan. Sayangnya, masa pemerintahan Sultan HB V harus berakhir secara tiba-tiba. Sultan HB V mangkat di tanggal 5 Juni 1855 dalam kondisi belum memiliki putra.
Kisah Suksesi Sultan HB VI yang Gantikan Sang Kakak
Sepeninggal sang kakak, Gusti Raden Mas Mustojo secara otomatis mendapatkan warisan takhta. Sebagai adik kandung dari Sultan HB V, Gusti Raden Mas Mustojo menjalani suksesi untuk mengisi kekosongan takhta di Keraton Jogja.
Joko Darmawan dalam bukunya 'Mengenal Budaya Nasional: Trah Raja-raja Mataram di Tanah Jawa' menyebut saat Gusti Raden Mas Mustojo naik takhta, sudah berusia 24 tahun. Artinya, dirinya sudah memiliki usia yang cukup untuk memerintah sebagai raja bagi Keraton Jogja yang membawanya mendapatkan gelar sebagai Sultan HB VI.
Lebih lanjut, dikatakan sebelumnya Gusti Raden Mas Mustojo cukup menentang kebijakan yang dilakukan oleh sang kakak selama memimpin Keraton Jogja. Terutama berkaitan soal kerja sama dengan Hindia Belanda. Namun, saat sudah naik takhta dan bergelar Sultan HB VI, dirinya menunjukkan perubahan yang cukup drastis.
Sultan HB VI menjalin hubungan yang cukup baik dengan Pemerintah Kolonial. Tindakan inilah yang memicu gejolak di dalam lingkup internal. Kendati begitu, berkat dukungan penuh yang diberikan oleh Pemerintah Kolonial, maka pemberontakan atau perlawanan yang ditunjukkan oleh anggota keraton lainnya bisa diredam sementara.
Tak hanya dihadapkan pada gejolak internal, masa pemerintahan Sultan HB VI juga diwarnai dengan cobaan yang berasal dari bencana alam. Masih dijelaskan dalam sumber yang sama, saat Sultan HB VI masih bertakhta di Keraton Jogja, wilayah Jogja mengalami gempa bumi yang begitu dahsyat.
Saking dahsyatnya gempa bumi yang terjadi, bangunan Keraton Jogja porak-poranda. Menurut buku 'Ngeteh di Patehan: Kisah di Beranda Belakang Keraton Yogyakarta' tulisan Galuh Ambar Sasi, dkk., tidak hanya wilayah Keraton Jogja yang merasakan dampak dari gempa bumi besar yang terjadi di masa pemerintahan Sultan HB VI.
Namun, juga beberapa area fiskal lainnya di Jogja. Sebut saja Taman Sari, Masjid Gede Keraton, Tugu Golong Gilig, Loji Kecil hingga bangunan lainnya. Inilah yang membuat Sultan HB VI dihadapkan pada usaha agar Keraton Jogja melakukan pemugaran dari masifnya kerusakan akibat gempa bumi.
Berakhirnya Masa Pemerintahan Sultan HB VI
Lantas, bagaimana berakhirnya masa pemerintahan Sultan HB VI? Sultan HB VI mangkat di tanggal 20 Juli 1887 pada usia 55 tahun. Setelah Sultan HB VI wafat, takhta Keraton Jogja diisi oleh putra sulungnya yang bernama Gusti Raden Mas Murtejo yang nantinya mendapatkan gelar sebagai Sultan HB VII.
Sebelum wafat, Sultan HB VI sempat meninggalkan warisan budaya yang menjadi ciri khas dari Keraton Jogja. Mengacu dari buku 'Teh: Sejarah dan Tradisi Minum Teh, Cara Benar Menyeduh dan Menikmati Teh, Khasiat Teh' oleh Murdijati Gardjito dan Dimas Rahadian AM, di masa pemerintahan Sultan HB VI terdapat ciri khas dalam penyajian minuman teh di acara makan keluarga.
Salah satunya peralatan teh yang digunakan. Cara minum teh di Keraton Jogja pada masa Sultan HB VI dilakukan dengan menggunakan teko yang terbuat dari porselen. Menariknya, teko yang digunakan berbahan emas 18 karat.
Tidak hanya teko yang terlihat mewah, cangkir yang digunakan juga tak kalah berkualitas bagus. Cangkir untuk minum teh juga terbuat dari porselen yang warnanya merah muda. Bahan yang digunakan untuk membuat cangkir ini juga berasal dari emas 18 karat. Nampan emas juga disediakan guna menempatkan gula dan sendok kecil untuk mengaduk tehnya.
Mengenal lebih dekat kisah-kisah raja di Keraton Jogja diharapkan dapat menambah wawasan baru. Semoga informasi tadi bermanfaat, ya.
FAQ
Siapa kakak Sultan HB VI?
Kakak Sultan HB VI adalah raja ke-5 Keraton Jogja bernama Gusti Raden Mas Gathot Menol yang bergelar Sultan HB V.
Kenapa Sultan HB VI naik takhta?
Sultan HB VI naik takhta setelah sang kakak, Sultan HB V, mangkat di usia yang tergolong muda. Saat tutup usia Sultan HB V belum memiliki anak, sehingga takhta diwariskan pada adiknya, yaitu Sultan HB VI.
Bagaimana cara minum teh di Keraton Jogja?
Ciri khas minum teh di acara makan keluarga Keraton Jogja pada masa Sultan HB VI menggunakan teko, cangkir, dan nampan yang terbuat dari porselen dengan lapisan emas 18 karat.
(sto/ams)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja