Belasan tahun lalu, Agung Sulistyo menghabiskan malam-malamnya di pos satpam sambil mengerjakan tugas kuliah. Kini, pria yang pernah bekerja sebagai tenaga keamanan itu resmi menyandang gelar doktor dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Agung Sulistyo diwisuda dalam prosesi wisuda Program Doktor Manajemen UMY di Sportorium UMY, Kamis (11/6). Perjalanan akademiknya terbilang tidak biasa. Ia harus menempuh pendidikan tinggi di tengah keterbatasan ekonomi dan tuntutan pekerjaan.
"Sebagai satpam, saya tidak pernah membayangkan bisa sampai di titik ini," kata Agung dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Jumat (12/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lahir dari keluarga sederhana di Tangerang, Agung merupakan anak dari pasangan buruh. Setelah lulus STM jurusan Teknik Gambar Bangunan pada 2002, ia sempat mengikuti seleksi TNI dan Polri sesuai harapan ayahnya. Namun, jalan hidup membawanya ke arah lain.
Pada 2005, Agung datang ke Jogja sebagai relawan. Tiga tahun kemudian, ia diterima bekerja sebagai satpam di Harian Kedaulatan Rakyat.
Di tengah pekerjaannya sebagai petugas keamanan, Agung memutuskan melanjutkan pendidikan. Pada 2009, ia mendaftar kuliah kelas karyawan di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi di Jogja.
Keputusan itu bukan tanpa tantangan. Dengan gaji yang terbatas, ia harus menyisihkan penghasilannya setiap bulan untuk membayar biaya kuliah.
"Tantangan terbesar waktu itu adalah membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan mengerjakan tugas. Kalau sedang jaga malam, setelah kuliah saya langsung ke tempat kerja, lalu mengerjakan tugas di pos satpam sampai pagi," kenangnya.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil. Agung berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2013. Dua tahun berselang, ia merampungkan studi magister.
Perjalanan hidupnya mulai berubah setelah menikah pada 2014. Agung mengaku sang istri menjadi sosok yang mendorongnya untuk berani bermimpi lebih besar, termasuk menjadi dosen.
"Saya tidak pernah membayangkan menjadi pengajar. Tapi istri saya terus mendorong dan membuka cara pandang baru tentang masa depan," ujarnya.
Kesempatan itu datang pada 2015 ketika ia diterima sebagai dosen di salah satu sekolah tinggi pariwisata di Jogja. Dari yang semula bertugas menjaga keamanan, Agung beralih menjadi pendidik yang membimbing mahasiswa.
Tak berhenti di situ, ia kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral di UMY. Menurutnya, pengalaman hidup yang penuh keterbatasan justru membentuk mental pantang menyerah.
"Orang tua saya mendidik dengan disiplin yang tinggi. Mungkin itu yang membentuk mental saya untuk tidak mudah menyerah," katanya.
Bagi Agung, pendidikan bukan sekadar mengejar gelar. Sejak masih menjadi satpam, ia selalu berdoa agar dapat meningkatkan derajat hidup melalui ilmu pengetahuan.
Kini doa itu terwujud. Ia berhasil meraih gelar doktor sekaligus mengabdikan diri di dunia pendidikan.
Agung pun berpesan kepada generasi muda agar tidak takut memiliki mimpi besar meski berasal dari keluarga sederhana.
"Saya selalu bilang kepada mahasiswa, jangan takut bermimpi tinggi. Kalau pun jatuh, kita tidak akan jatuh terlalu jauh dari apa yang kita impikan," ujarnya.
Menurutnya, kesabaran dan ketekunan menjadi kunci untuk melewati berbagai keterbatasan. "Sabar, kuatkan mental, semua akan ada waktunya. Saya pernah menjadi satpam dan tidak tahu masa depan saya seperti apa. Tapi ternyata usaha-usaha baik yang terus dilakukan akan menemukan jalannya sendiri," tutupnya.
(aku/dil)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja