Momen Ngeri Banjir Lumpur Hantam Pedukuhan Jono Gunungkidul

Momen Ngeri Banjir Lumpur Hantam Pedukuhan Jono Gunungkidul

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Rabu, 18 Feb 2026 13:06 WIB
Rumah warga Jono, Tancep, Ngawen, Gunungkidul penuh dengan material longsoran berupa lumpur, pohon dan bebatuan, Rabu (18/2/2026).
Rumah warga Jono, Tancep, Ngawen, Gunungkidul penuh dengan material longsoran berupa lumpur, pohon dan bebatuan, Rabu (18/2/2026). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja)
Gunungkidul -

Banjir lumpur menghantam rumah-rumah warga Pedukuhan Jono, Tancep, Ngawen, Gunungkidul. Warga menceritakan momen air tiba-tiba mengalir deras dari bukit dan masuk ke rumah-rumah.

Salah satu warga Jono, Agus Wiyanto (40), mengatakan awalnya terjadi hujan deras, Selasa (17/2) siang. Hujan semakin deras hingga pukul 16.00 WIB.

"Kemarin itu awalnya hujan dan semakin deras tapi tidak ada angin," katanya kepada detikJogja di Jono, Tancep, Ngawen, Gunungkidul, Rabu (18/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus melanjutkan, memasuki pukul 16.30 WIB, tiba-tiba muncul aliran air dari perbukitan. Air tersebut, kata Agus, berwarna cokelat dan disertai batu.

"Jam 4 sore tidak ada gemuruh hanya ada aliran air dan tidak ada suara apapun. Nah, aliran air yang membawa batu dan kayu itu awalnya pelan lalu semakin besar, tidak ada lima menit kok," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Agus, kejadian itu berlangsung hingga waktu salat Maghrib. Sedangkan warga langsung melakukan pengalihan aliran air agar tidak menghantam langsung ke rumah

"Kejadian sampai Maghrib, tapi untungnya aliran air bisa dialihkan ke kanan kiri jalan," ucapnya.

Akibat kejadian tersebut, Agus mengaku atap teras rumahnya rusak. Selain itu, material longsoran sempat memenuhi bagian depan dan belakang rumah.

"Kerusakan atap teras dan tanah masuk ke dalam, baru pertama kali terjadi seperti ini. Biasanya itu tidak sampai ke bawah (aliran air)," katanya.

Warga Jono lainnya, Suyoto (58) mengaku saat kejadian terjadi kebetulan sedang tidak berada di rumah. Pasalnya saat itu Suyoto sedang berjualan angkringan di depan PKU Muhamadiyah Gamping, Sleman.

"Saya tidak ada di rumah saat kejadian, terus tiba-tiba saya dikabari dan langsung pulang. Sampai rumah kok di bagian depan sudah penuh lumpur, batu dan pohon-pohon," ujarnya.

Suyoto melanjutkan, bahwa rumahnya berada di paling atas atau paling dekat dengan perbukitan. Beruntung saat itu anaknya tidak mengalami luka karena sudah berhasil keluar dari rumah.

"Kalau dampaknya ya kerusakan rumah, itu rumah bagian belakang hancur tertimpa material longsoran dan di dalam juga ada yang rusak seperti kasur dan perabotan basah dan penuh lumpur," ucapnya.

Di sisi lain, Suyoto mengaku bersyukur terdapat pohon bambu di sekitar bukit. Menurutnya keberadaan pohon bambu mengurangi laju aliran air yang membawa material longsoran.

"Rumah saya kan di dekat bukit jadi ya jelas kena, tapi untung ada pohon bambu ini jadi tidak rusak parah," katanya.




(aku/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads