10 Ceramah Ramadan 2026 Singkat dan Mudah Dihafal untuk Dakwah di Bulan Puasa

10 Ceramah Ramadan 2026 Singkat dan Mudah Dihafal untuk Dakwah di Bulan Puasa

Nur Umar Akashi - detikJogja
Senin, 23 Feb 2026 12:25 WIB
Ceramah Ramadan 2026
Ceramah Ramadan 2026. (Foto: Ebahir/Pexels)
Jogja -

Sejak hari pertama Ramadan, para pendakwah bakal disibukkan dengan kegiatan ceramah di mana-mana. Ceramah biasanya digelar menjelang buka puasa, setelah sholat Isya, dan setelah sholat Subuh.

Tema yang dapat dibawakan untuk mengisi ceramah awal Ramadan sangat bervariasi. Pembelajaran-pembelajaran fikih ibadah-ibadah Ramadan menjadi pilihan menarik sebagai bekal mengarungi bulan kesembilan Hijriah ini. Di samping itu, persoalan akidah dan sejarah bisa diangkat.

Ceramah Ramadan biasanya dibawakan dalam waktu singkat, sekitar 7 menit saja, sehingga biasanya disebut juga dengan kultum (kuliah tujuh menit). Karena pendek, poin-poin penting ceramah sangat mungkin untuk dihafalkan sehingga membantu penyampaian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Butuh contoh? Berikut beberapa ceramah Ramadan 2026 yang singkat dan mudah dihafal!

ADVERTISEMENT

Kumpulan Ceramah Ramadan 2026 Singkat dan Mudah Dihafal

Diambil dari buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan terbitan Tim Layanan Syariah Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag, buku Kultum Ramadhan dengan Pribahasa Sehari-hari oleh Lucky Juniardi Abu Yusuf al-Id al-Ma'muri, buku Kumpulan Kultum Terlengkap Sepanjang Tahun tulisan Dr Hasan el-Qudsy, buku Materi Ceramah Ramadhan karya Dedy Novriadi MPdI, dan laman NU Online, di bawah ini 10 ceramah awal Ramadhan 2026:

Ceramah Awal Ramadan 2026 #1: Mengawali Ramadan dengan Senyuman

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang Dirahmati Allah
Dalam Islam, ketika kita bertemu atau bersama orang lain, maka kita sangat dianjurkan untuk menampakkan wajah ceria dan senantiasa tersenyum. Sebaliknya, kita dilarang menampakkan wajah cemberut. Hal ini tentu juga berlaku saat kita menyambut dan bertemu kembali dengan Ramadan. Senyum merupakan simbol kebahagiaan.

Saat mengawali Ramadan sudah seyogianya seorang muslim dan muslimah bahagia bertemu dengannya. Kita dapat membayangkan bahwa Ramadan itu bagaikan tamu agung yang akan berkunjung ke rumah kita. Laiknya tamu agung, kita pun perlu mempersiapkan jamuan yang pantas atas kedatangan tamu agung yang ditunggu-tunggu itu. Jamuan yang pantas kita sajikan untuk Ramadan berupa amal-amal ibajiah, baik yang individual maupun sosial.

Bapak Ibu yang Dimuliakan Allah
Ibadah individual dapat dilakukan dengan cara konsisten menjalankan shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, melakukan ibadah umrah pada bulan Ramadan bila memungkinkan, dan terus berupaya memperbaiki diri. Sementara itu, ibadah sosial selama Ramadan dapat ditingkatkan dengan cara menyiapkan takjil untuk masyarakat yang membutuhkan, berderma kepada yang tidak mampu, dan menyantuni anak yatim, duafa, dan para janda.

Jamaah yang Dirahmati Allah
Saat Ramadan sudah dipastikan karena sudah terlihatnya hilal, sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagia, Rasulullah saw. pun memanjatkan doa kepada Allah sebagaimana riwayat dari Thalhah bin Ubaidillah.

عن طلحة بن عُبَيْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الهلال قَالَ: «اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاليُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ الله»: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ»

"Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw. itu ketika telah melihat hilal Ramadan, beliau berdoa; Allahumma ahillahu 'alaina bil yumni wal imani was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah (Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Hadis ini merupakan hadis hasan Gharib (HR Tirmidzi).

Jamaah rahimakumullah
Saking banyak keberkahan di bulan Ramadan terdapat sebuah riwayat dari Ibnu Mas'ud sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ مَسْعُود لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانَ السَّنَةِ كُلَّهَا

"Kalau para hamba Allah tahu (secara kasat mata) keberkahan dalam bulan Ramadan, pasti umatku akan berharap supaya setahun penuh itu bulan Ramadan semua." (HR Ibn Abi al-Dunya, nomor 22)

Jamaah yahfazhukumllah
Rasulullah selalu mengabarkan kepada para sahabatnya mengenai datangnya Ramadan sebagaimana riwayat Abu Hurairah berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ الله - صلى الله عليه وسلم - : "قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكَ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ". (رواه أحمد)

"Dari Abu Hurairah yang menyampaikan bahwa Rasulullah saw. pernah berpesan, "Ramadan itu sungguh telah datang.

Ia merupakan bulan berkah. Allah mewajibkan puasa Ramadan kepada kalian. Saat Ramadan tiba, pintu surga teriluka, pintu neraka tertutup, dan para setan pun terikat. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tak memperoleh kebaikannya itu tak memperoleh apa-apa." (HR Ahmad; Nomor 7148)

Hadirin yang dimuliakan Allah
Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma'arif mengatakan:

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمٍ رَمَضَانَ

Nabi Muhammad saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan Ramadan

قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: هَذَا الْحَدِيثُ أَصْل فِي تَهْنِئَةِ النَّاسِ بَعْضَهُمْ بَعْضًا بِشَهْرِ رَمَضَان

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis ini (hadis yang ketiga dalam tulisan ini) menjadi dasar dalam mengucapkan "selamat menyambut kedatangan bulan Ramadan" di antara satu sama lain ketika menjelang bulan Ramadan.

Di Indonesia tahniah tersebut biasanya diungkapkan dengan kalimat "ahlan wa sahlan ya ramadan". Kegembiraan dan kebahagiaan dalam menyambut bulan Ramadan harus ditampakkan satu sama lain.

Semoga kita dapat mengawali Ramadan dengan penuh senyum, suka-cita dan kegembiraan sehingga kita dapat melaksanakan anjuran-anjuran Nabi dan para ulama mengenai memperbanyak ibadah bulan Ramadan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #2: Sedia Payung Sebelum Hujan

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang semoga Allah berkahi kita semua, tema kita pada saat ini adalah "Sedia payung sebelum hujan."

Kira-kira apa makna pribahasa tersebut di atas?

Maknanya adalah sebelum sesuatu tiba atau datang maka kita sudah bersiap-siap menghadapinya.

Menyiapkan untuk apa? Bukankah sebentar lagi kita akan kedatangan tamu yang istimewa? Dan tamu itu adalah bulan suci Ramadhan.

Nah, sebelum tamu agung itu datang, hendaknya kita siapkan untuk menyambutnya, kita sediakan/siapkan payungmu sebelum hujan benar-benar turun.

Apa saja yang kita siapkan?

Hadirin kaum muslim dan muslimat, yang perlu kita siapkan sebelum Ramadhan tiba, di antaranya adalah:

1. Ilmu
Semuanya pasti perlu ilmu. Kalau kita hendak ke suatu kota yang belum pernah kita datangi, maka selayaknya bagi kita terlebih dahulu mengetahui ilmunya. Bagaimana supaya bisa sampai ke kota yang mau kita tuju dan jalan yang mana yang harus dilalui supaya tidak salah haluan.

Begitu pula dalam masalah agama, khususnya masalah ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Sudah sepantasnya bagi kita mengetahui ilmu yang berkaitan dengannya.

Imam Bukhori rahimahullah mengatakan,

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

"Berilmu dahulu sebelum berkata dan beramal" (Shohih Bukhori, pembahasan kitabul ilmu, bab ke 10)

Harusnya kita mengetahui ilmu seputar bulan Ramadhan, rukun-rukun puasa, sunnah-sunnah puasa, pembatal-pembatal puasa, adab-adab puasa, keutamaannya, tentang shalat tarawih dan lain sebagainya.

2. Latihan
Apa saja yang berat akan terasa ringan kalau sering latihan. Seorang atletik lari jarak jauh tidak mampu kalau dia tidak pernah latihan lari dimulai dari jarak yang pendek.

Begitu pula ibadah di bulan Ramadhan, perlu adanya latihan untuk pemanasan seperti memperbanyak membaca al-Qur'an, shalat malam, sedekah, berdo'a dan amalan kebaik an lainnya. Nah, diantaranya pula adalah puasa sunnah di bulan Sya'ban, sebagaimana yang dikatakan Aisyah Ummul Mukminim radiyallahu 'anha,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

"Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya'ban" (HR. Bukhari: 1969 dan Muslim: 1156)

3. Semangat
Tentunya semangat yang kuat adalah bekal untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Dengan semangat kita bisa mengatur jadwal, menyusun agenda-agenda kegiatan yang positif, sehingga di bulan tersebut kita bisa beribadah dengan maksimal dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

4. Mengganti puasa yang tertinggal
Bagi yang tahun lalu puasanya tertinggal (ada hari yang tidak puasa) karena ada udzur syar'i sehingga tidak bisa puasa, dan belum di qodho' (ganti), maka bulan Sya'ban inilah kesempatan untuk menggantinya.

Aisyah radiyallahu 'anha berkata, "Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar hutang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya'ban" (HR. Bukhari: 1950 dan Muslim: 1146)

5. Berdo'a
Persiapan yang tidak kalah pentingnya untuk kita siapkan dalam rangka menyambut bulan yang mulia adalah bedo'a ke-pada Allah, supaya Allah mempertemukan lagi antara kita dengan bulan Ramadhan, memudahkah kita semua untuk mengisi hari-harinya dengan amal sholeh, menyehatkan badan kita dan memberikan kita kekuatan supaya senantiasa istiqomah di atas jalan yang haq.

Sebagaimana yang dilakukan oleh para salaf zaman dahulu, mereka (para salaf) berdo'a kepada Allah ta'ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdo'a kepadaNya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Allah menerima (amal-amal sholeh) yang mereka kerjakan" (Lihat "Latha-iful Ma'harif: 1/232 karya Ibnu Rajab)

Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang semoga Allah berkahi kita semua, dengan menyiapkan bekal-bekal di atas, semoga di tahun ini kita bisa memaksimalkan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan yang banyak keberkahannya.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبَّ الْعَالَمِينَ

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #3: Marhaban Ya Ramadhan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِصِيَامِ رَمَضَانَ، وَنَزَّلَ لَنَا بِالْقِيَامِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِنَا وَ صَاحِبِ الْبُرْهَانِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْفُرْقَانِ أَمَّا بَعْدُ:

Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Beberapa hari lagi, insya Allah kita akan kedatangan tamu agung, tamu yang diagungkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tamu agung itu tiada lain adalah bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat bagi umat Islam di muka bumi ini. Bahkan bagi seluruh alam semesta, karena di bulan itu diturunkan kitab suci Al-Qur'an yang menjadi petunjuk kehidupan bagi seluruh manusia. Tamu ini datangnya hanya satu tahun sekali, dan kalau sudah datang ia tidak akan kembali lagi. Karena yang hadir setahun berikutnya adalah bulan Ramadhan yang baru dengan lembaran amalan baru pula. Oleh karean itu, para salafus saleh selalu mendambakan kedatangan bulan Al-Qur'an ini dan menyambutnya dengan berbagai persiapan agar mereka berhasil meraih banyak keberkahan dalam bulan puasa ini.

Rasulullah sendiri selama tiga bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan telah mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Hal ini terlihat dari doa yang beliau baca mulai sejak dari Bulan Rajab. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik, bahwa ketika memasuki Bulan Rajab, Rasulullah berdoa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا فِي رَمَضَانَ

"Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan." (HR. ath-Thabarâni, dengan sanad lemah).

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Bagi para salafus saleh, bulan Ramadhan adalah bulan training dan pendidikan, karena di dalamnya terjadi sebuah proses di mana sorang muslim dituntut untuk lebih baik daripada bulan-bulan lainnya. Para ulama salaf menjadikan bulan puasa sebagai bulan penempaan dan pembekalan diri untuk menghadapi hari-hari di luar bulan Ramadhan. Maka tidak aneh kita mendengar dari riwayat mereka yang menuturkan, bagaimana mereka berhasil mengkatamkan Al-Qur'an beberapa kali dalam satu bulan, dan tidak pernah meninggalkan qiyamul lail setiap malamnya. Mereka betul-betul memahami nilai keagungan bulan suci Ramadhan, sehingga mereka berusaha menggunakan setiap detik yang ada untuk diinvestasikan dalam amal kebaikan.

Sebagai contoh adalah Imam Bukhari yang dikenal sebagai ahli hadis. Beliau mempunyai aktivitas unik selama bulan Ramadhan, yaitu mengumpulkan para sahabatnya dan mengajak shalat berjamaah. Bersama para sahabatnya, beliau mengkatamkan Al-Qur'an selama tiga malam. Dipilihnya waktu sahur sebagai waktu kataman. Sedang di siang harinya, setiap hari beliau mengkatamkan Al-Qur'an.

Ma`asyiral muslimin, rahimakumullah,
Pertanyaan yang muncul adalah, apa yang harus kita persiapkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan ini? Tentu banyak hal yang perlu kita persiapkan, baik secara fisik maupun mental. Namun beberapa hal yang perlu kita persiapkan sejak dini, di antaranya adalah:

1. Tobat nashuha dari segala dosa
2. Menjaga hati dari berbagai penyakit yang bisa merusak-nya
3. Tekad sepenuh hati untuk berubah menjadi insan yang bertakwa
4. Memahami karakter Ramadhan yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya
5. Mempelajari hukum-hukum puasa

Di samping itu, agar puasa kita tidak sia-sia, maka harus kita hindari perbuatan-perbuatan yang merusak nilai-nilai puasa. Seperti melakukan dosa walaupun kecil, menghabiskan waktu di depan TV, berlebihan dalam buka dan sahur, berlebihan tidur terutama di siang hari. Karena hakikat puasa bukan hanya menahan diri dari makan, minum, dan nafsu, namun juga harus mampu menahan mulut, pandangan, hati, dan semua anggota tubuh dari perbuatan yang tidak diridhai Allah. Rasulullah bersabda, "Barang siapa tidak mampu meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong, maka Allah tidak sudi untuk membalas lapar dan dahaganya." (HR. Bukhari)

Demikianlah beberapa persiapan yang perlu kita siapkan dalam menyambut tamu agung. Semoga Allah selalu menolong kita dalam menjalankan ibadah puasa dan mengisinya hari-harinya dengan berbagai amal saleh. Amin.

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #4: Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang semoga Allah rahmati kita semua, tema kita pada saat ini adalah "Pucuk dicinta ulam pun tiba."

Kira-kira apa makna pribahasa itu?

Maknanya adalah "Mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang diharapkan" atau "Sebuah harapan yang terkabulkan "atau mendapatkan sesuatu yang diperlukan."

Kita sadar bahwa secara manusiawi, orang senang mengerjakan sesuatu yang seringan-ringannya tetapi mau mendapatkan keuntungan atau penghasilan yang sebesar-besarnya, betul?

Para hadirin yang berbahagia, ternyata di bulan Ramadhan mimpi itu bisa kita raih, atau kalau boleh kita pribahasakan "pucuk dicinta ulam pun tiba." mengapa demikian?

1. Karena bulan Ramadhan kita dimudahkan untuk beramal, pintu-pintu kemaksiatan di tutup, dan setan pun tidak bebas menggoda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتَّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفَدَتِ الشَّيَاطِينُ

"Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu" (HR. Muslim: 1079]

2. Karena di siang harinya kita puasa, yang mana pahalanya berlimpah ruah,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari: 38 dan Muslim: 760)

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

"Semua amalan bani Adam (manusia) akan dilipatgandakan, satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman, "Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan aku yang akan membalasnya" (HR. Muslim: 1151)

3. Karena malam harinya kita shalat tarawih, mendapatkan pahala yang banyak,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Muslim: 759)

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامَ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

"Barang siapa yang shalat (tarawih dan witir) bersama imam sampai selesai, maka diberi pahala baginya seperti shalat semalam penuh" (HR. Tirmidzi: 806)

4. Karena di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan
Artinya kalau beribadah di malam itu maka pahalanya lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan (83 tahun 4 bulan).

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan" (QS. al-Qadr: 3]

Dan tentunya masih banyak keutamaan-keutamaan yang lainnya.

Para hadirin yang dimuliakan Allah, oleh sebab itu, mari kita semangat dan memaksimalkan bulan yang penuh berkah ini dengan amal ibadah; puasa, tarawih, membaca al-qur'an, sedekah, menghadiri majlis ta'lim, dan menjaga hal-hal dari sesuatu yang mengurangi pahala puasa kita.

Ingat "pucuk di cinta ulam pun tiba."

Jangan sia-siakan Ramadhan tahun ini datang dan pergi begitu saja, karena kita tidak tahu apakah bisa bertemu lagi atau tidak.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #5: Keutamaan Menyiapkan Makan Sahur

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ الْقُرْآنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي خُلُقُهُ الْقُرْآنُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِي الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. أَمَّا بَعْدُ

Hadirin yang dimuliakan Allah
Ibadah puasa harus dijalankan dengan penuh ketulusan. Sebagai bentuk ketulusan tersebut, kita harus mempersiapkan ibadah dengan sebaik-baiknya. Persiapan ini dapat berarti persiapan sebelum memasuki bulan puasa. Atau ketika sudah berada di bulan puasa.

Islam mengajarkan agar kita menyiapkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa dengan melakukan makan sahur. Makan sahur tidak hanya merupakan persiapan yang bersifat lahiriah, untuk menyimpan energi selama menjalankan puasa. Tetapi, ada nilai keutamaan tersendiri di luar manfaat jasadiyah. Nilai-nilai itu telah dijelaskan dalam sejumlah hadis Nabi SAW dan penjelasan para ulama terhadap hadis tersebut.

Jamaah yang dimuliakan Allah

Dalam konteks menjelaskan nilai keutamaan sahur ini, Rasulullah SAW menyabdakan:

تَسَخَّرُوا؛ فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

"Makan sahurlah. Karena, dalam makan sahur terdapat keberkahan." (HR. al-Bukhari).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari. Karenanya, kesahihan hadis tersebut tidak perlu dipertanyakan. Berdasarkan perintah dalam hadis tersebut, para ulama bersepakat disunnahkannya makan sahur. Imam al-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim, jilid 7 halaman 206, mengatakan;

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ

"Para ulama bersepakat akan kesunnahan makan sahur, dan bahwa makan sahur bukan perkara yang diwajibkan."

Bapak Ibu yang Dirahmati Allah
Arti keberkahan dalam hadis adalah ia mengandung banyak sekali kebaikan. Di antara bentuk kebaikan makan sahur adalah ia dapat membuat orang kuat menjalankan ibadah puasa dan membuat lebih bersemangat. Dengan seperti itu, berpuasa menjadi terasa lebih ringan dijalankan. Ketika puasa terasa ringan, ada keinginan untuk berpuasa lagi. Berbeda dengan orang yang tidak makan sahur, ia akan merasa berat menjalankan puasa. Mungkin ia akan menganggapnya sebagai ibadah yang berat. Demikian penjelasan Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Jamaah Hafidzakumullah
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menulis beragam bentuk keberkahan makan sahur:

البركة في السحور تَحْصُلُ بِجَهَاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ ، وَهِيَ : اتَّبَاعُ السُّنَّةِ ، وَمُخَالَفَهُ أَهْلِ الْكِتَابِ ، وَالتَّقْوَى بِهِ عَلَى الْعِبَادَةِ ، وَالزَّيَادَةُ فِي النَّشَاطِ ، وَمُدَافَعَةُ سُوءِ الخُلُقِ الَّذِي يُثِيرُهُ الْجُوعُ ، وَالتَّسَببُ بِالصَّدَقَةِ عَلَى مَنْ يَسْأَلُ إِذْ ذَاكَ ، أَوْ يَجْتَمِعُ مَعَهُ عَلَى الْأَكْلِ ، وَالتَّسَببُ لِلذِكْرِ وَالدُّعَاءِ وَقتَ مَظِنَّةِ الإِجَابَةِ ، وَتَدَارُكَ نِيَّةِ الصَّوْمِ لِمَنْ أَغْفَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ

"Berkah dalam sahur dapat diperoleh dengan beberapa bentuk; mengikuti sunnah Nabi, menyelisihi ahli kitab, mengambil kekuatan untuk ibadah, menambah semangat, menolak perilaku buruk yang timbul akibat rasa lapar, mendorong sedekah kepada orang yang meminta sahur pada waktu sahur, berkumpul untuk makan sahur bersama, mendorong dilaksanakannya zikir dan doa pada waktu yang mustajab, membaca niat bagi orang yang lupa membaca niat sebelum tidur." (Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, jilid 4, halaman 140)

Hadirin yang dimuliakan Allah
Ada poin yang menarik dalam penjelasan Imam Ibnu Hajar di atas. Yaitu, sahur menjadi sebab kita berbagi sedekah kepada orang lain yang membutuhkan makan sahur pada waktu sahur. Poin ini penting, tidak hanya bagi orang yang bersahur, tetapi bagi orang yang mau menyediakan makan sahur bagi orang lain. Poin ini sering dilupakan masyarakat kita. Memberi atau menyiapkan makan sahur untuk orang lain adalah suatu amalan yang utama.

Amalan menyiapkan makan sahur untuk orang lain sering dianggap remeh. Padahal, ia merupakan amalan sosial yang utama. Karena, amalan tersebut merupakan ibadah sosial yang dilakukan di bulan Ramadan untuk membantu orang yang akan menjalankan kewajiban agama.

Dalam sebuah kaidah fikih dikatakan, al-muta'addi afdhalu min al-qashir. Artinya, ibadah yang dapat bermanfaat untuk orang lain lebih utama dibanding ibadah yang hanya kembali kepada pelakunya. Menyiapkan makan sahur adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Al-Qur'an mengatakan, wa ta'awanu 'ala al-birri wa at-taqwa (saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan).

Tidak diragukan lagi bahwa menolong orang lain yang akan menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah bentuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan. Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan, afdhalu as-shadaqah shadaqah fi Ramadan. Artinya, sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan. Berbagi makan sahur atau menyiapkan makan sahur merupakan bentuk sedekah di bulan Ramadan.

Sampai di sini, dapat kita pahami bahwa makan sahur memiliki banyak kebaikan. Salah satu kebaikan itu adalah memberi kesempatan orang berbuat baik kepada orang lain dengan cara berbagi atau menyiapkan makan sahur.

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #6: Bulan Puasa, Waktu Terbaik untuk Saling Memaafkan

Memperbaiki hubungan dengan sesama, terutama di bulan Ramadhan, adalah salah satu tujuan utama dalam memperdalam makna ibadah dan memperkuat tali persaudaraan. Bulan Ramadhan, sebagai bulan penuh berkah, bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, baik itu dengan keluarga, teman, tetangga, atau bahkan orang yang mungkin pernah kita berselisih dengannya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 9:

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِۖ فَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Artinya: "Jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, perangilah (golongan) yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), damaikanlah keduanya dengan adil. Bersikaplah adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil."

Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya jilid 22, halaman 293, menjelaskan uraian ayat ini:

ذَلِكَ هُوَ الْإِصْلَاحُ بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ

Artinya, "Yaitu mendamaikan di antara mereka dengan cara yang adil."

Penjelasan ini selaras dengan semangat Ramadhan, bulan yang dikaruniakan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah SWT. Salah satu wujud perbaikan diri adalah menata kembali hubungan dengan sesama. Allah SWT juga berfirman dalam Surah Al-Araf ayat 199 terkait pentingnya saling memaafkan:

Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan ampunan, menjadikannya waktu yang tepat untuk saling memaafkan. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa memaafkan orang lain adalah jalan untuk meraih ampunan dari Allah SWT. Ketika kita menghadapi masalah atau perselisihan, Ramadhan mengajak kita untuk membuka hati dan melepaskan dendam. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 178:

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: "Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih."

Berdasarkan ayat di atas, Imam Ibrahim An-Nakha'i pernah menjelaskan sifat pemaaf yang dimiliki oleh orang beriman, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Asyur dalam at-Tahrir wat Tanwir jilid 25 halaman 114:

كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَكْرَهُونَ أَنْ يُسْتَذَلُّوا، وَكَانُوا إِذَا قَدَرُوا عَفَوْا

Artinya: "Karakter orang-orang beriman tidak suka jika dihina, namun ketika mereka bisa memilih, mereka memilih untuk memaafkan."

Selain itu, dalam rangka menjaga hubungan dengan sesama, kita dianjurkan untuk banyak berbagi, baik dalam bentuk materi maupun non-materi. Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, seperti menyediakan makanan berbuka puasa bagi mereka yang kurang mampu, menjadi salah satu cara efektif untuk mempererat tali persaudaraan. Tindakan ini mencerminkan kepedulian dan kasih sayang, yang pada akhirnya memperkuat hubungan antarumat manusia.

Bulan Ramadhan juga mengajarkan kita untuk bersabar, baik dalam menghadapi cobaan hidup maupun dalam berinteraksi dengan orang lain. Alih-alih cepat menghakimi, kita diajak untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk berubah dan memperbaiki diri. Sikap sabar ini akan menciptakan lingkungan yang harmonis, di mana setiap individu merasa dihargai dan diterima.

Semakin kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah melalui ibadah yang lebih berkualitas, semakin baik pula hubungan kita dengan sesama. Keikhlasan dalam beribadah melahirkan sikap positif yang tercermin dalam interaksi sehari-hari. Sikap tersebut, yang terwujud dalam tindakan nyata, akan memperbaiki dan memperdalam hubungan kita dengan orang lain.

Mari manfaatkan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan sesama. Dengan menjadi lebih sabar, pemaaf, peduli, serta menjaga lisan, kita dapat membangun hubungan yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya, "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, bagaikan satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota lainnya akan ikut merasakan susah tidur dan demam."

Semoga Allah memberi kekuatan agar kita benar-benar menghayati bahwa hubungan antarsesama laksana satu tubuh, sehingga kita senantiasa menjaga kebaikan dengan orang di sekitar. Mari pererat tali persaudaraan, semoga kita termasuk golongan yang bertakwa. Amin ya Rabbal Alamin.

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #7: Adab Bagi Orang yang Tidak Berpuasa di Bulan Ramadan

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ اللهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin, jamaah yang dirahmati oleh Allah
Berpuasa Ramadan merupakan kewajiban pokok dalam agama Islam. Kewajiban puasa Ramadan didasarkan kepada perintah Al-Qur'an, keterangan As-Sunnah, kesepakatan para ulama. Sebagai sebuah kewajiban, meninggalkan kewajiban itu sendiri adalah perbuatan dosa. Meninggalkan puasa Ramadan merupakan salah satu dosa besar dalam Islam. Kecuali jika seseorang meninggalkan puasa karena suatu alasan yang diizinkan dalam syariat Islam.

Mereka digambarkan Al-Qur'an sebagai orang-orang yang sedang sakit atau sedang melakukan perjalanan. Selain itu, perempuan yang sedang haid atau nifas, juga tidak wajib berpuasa. Bahkan, haram hukumnya bagi keduanya berpuasa.

Dengan demikian, selain golongan-golongan di atas, hukum asalnya adalah wajib melaksanakan ibadah puasa. Orang dewasa yang mampu dan tidak ada uzur puasa Ramadan, wajib berpuasa.

Mengingat banyaknya golongan orang yang tidak berpuasa pada bulan Ramadan, baik karena uzur atau tidak, bagi mereka ada adab-adab yang harus diperhatikan. Apa saja adab-adab bagi orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan?

Hadirin, jamaah yang diberkahi Allah
Adab pertama ketika seseorang tidak dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah menyesalkan hal itu. Puasa Ramadan adalah ibadah yang penuh keutamaan. Tidak dapat menjalankan ibadah yang penuh keutamaan itu adalah perkara yang dianjurkan untuk disesalkan. Terutama bagi orang yang tidak ada uzur meninggalkan puasa. Artinya, ketika dia tidak berpuasa, ia telah melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Penyesalan adalah salah satu rukun taubat yang disebut an-nadam. Berkaitan dengan rasa penyesalan ini, Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَعْقِلٍ، قَالَ : كَانَ أبي عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، فَسَمِعَهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ النَّدَمُ تَوْبَةٌ

"Dari Abdullah bin Ma'qil, yang berkata, ayahku berada di sisi Abdullah Ibnu Mas'ud, yang berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Penyesalan adalah bentuk taubat" (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

Penyesalan adalah salah satu cara menghapus dosa. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai "Kafarat". Imam Ahmad meriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَّارَةُ الذَّنْبِ الندامة

"Dari Ibnu Abbas, yang berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Kafarat perbuatan dosa adalah penyesalan" (HR. Ahmad)

Ada kedua, ketika tidak dapat menjalankan ibadah puasa adalah beristighfar. Istighfar adalah meminta ampunan kepada Allah dengan ucapan-ucapan yang menunjukkan rasa bersalah dan permohonan kepada Allah agar diampuninya sebuah dosa. Rasulullah SAW. pernah bersabda kepada Sayyidah Aisyah,

إن كنتِ المُمْتِ بِذَنْب فَاسْتَغْفِرِي الله، فَإِنَّ التَّوْبَةَ مِنَ الذَّنْبِ الندم والاستغفار

"Bila engkau melakukan suatu dosa, maka mintalah ampunan kepada Allah. Karena, taubat dari dosa adalah dengan cara menyesalinya dan meminta ampunan Allah." (HR. Ahmad).

Hadirin, jamaah yang diberkahi Allah
Jika seseorang tidak berpuasa Ramadan karena ada alasan yang diterima dalam syariat, maka hendaknya ia juga bersedih. Al-Qur'an mengatakan,

وَأَعْيُنُهُم تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنَا أَلَّا يجدوا ما يُنفِقُونَ (التوبة : ٩٢)

"Mata-mata mereka mengalirkan air mata karena bersedih, mereka tidak menemukan apa yang dapat diinfakkan." (QS. Al-Taubah: 92).

Ayat ini turun untuk menyikapi sahabat Abu Musa al-Asy'ari dan lainnya yang bersedih ketika tidak dapat berangkat berjihad ke medan perang bersama dengan Rasulullah SAW. Padahal, beliau tidak bisa berangkat bukan karena enggan, tetapi karena ada uzur syar'i. Sekalipun demikian, beliau bersedih. Demikian itulah sikap para sahabat ketika tidak dapat melaksanakan kewajiban. Sikap yang mulia dari para kekasih Rasulullah SAW.

Bagi kita yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa karena sakit, haid, nifas atau dalam safar, atau uzur-uzur lainnya, hendaknya kita bersedih hati karena tidak dapat melaksanakan ibadah yang agung ini.

Hadirin, jamaah sekalian
Bagi orang yang uzur, hendaknya tidak makan di hadapan orang sedang berpuasa. Karena, menurut sebagian ulama perbuatan tersebut termasuk kemungkaran. Imam al-Mardawi al-Hanbali dalam kitab al-Inshaf (7/348) mengatakan,

ينكر عَلَى مَنْ أَكَلَ فِي رَمَضَانَ ظاهراً، وَإِنْ كَانَ هُنَاكَ عُذْرٌ، قَالَ فِي الْفُرُوعِ : فَظَاهِرُهُ الْمَنْعُ مُطْلَقًا، وَقِيلَ لِابْنِ عَقِيلَ : يَجِبُ مَنْعُ مُسَافِرٍ وَمَرِيضٍ وَخَائِضٍ مِنْ الْفِطْرِ ظَاهِرَا لِئَلَّا يُتَّهَم ؟ فَقَالَ: إِنْ كَانَتْ أَعْذَارٌ خَفِيَّةٌ يُمنعُ مِنْ إِظْهَارِهِ، كَمَرِيْضٍ لا أَمَارَةَ لَهُ، وَمُسَافِر لَا عَلَامَةَ عَلَيْهِ" انْتَهَى.

"Dianggap kemungkaran orang yang makan di siang Ramadan secara terang-terangan, walaupun dia punya uzur. Penulis kitab al-Furu berkata, "Zahirnya hukum adalah perbuatan tersebut dilarang secara mutlak. Dikatakan kepada Imam Ibnu 'Aqil apakah wajib mencegah musafir, orang sakit dan haid untuk makan secara terang-terangan agar mereka tidak disalahpahami. Ia menjawab, "Bila ada uzur yang samar, maka mereka dilarang makan di tempat terbuka. Seperti sakit yang tiada ada gejalanya ataú musafir yang tidak ada tanda-tandanya."

Demikian adab bagi orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #8: Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang semoga Allah rahmati kita semua, tema kita pada saat ini adalah "Sekali dayung dua tiga pulau terlewati."

Kira-kira apa makna pribahasa itu? Itulah pribahasa orang dahulu. Apa makna yang terkandung dalam kata itu?

Maknanya adalah sekali mengerjakan maka dapat menyelesaikan dua atau tiga pekerjaan sekaligus atau bahkan lebih, dalam satu waktu.

Kaitannya dengan bulan Ramadhan apa?

Jama'ah shalat isya dan tarawih yang dirohmati Allah, tentu pribahasa di atas bisa pula kita kaitkan dengan bulan yang mulia ini, yaitu satu orang, bisa mendapatkan pahala dua atau tiga orang atau bahkan lebih dalam satu waktu.

Amalan apa itu? Yaitu memberi makan orang yang berbuka puasa. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan kabar gembira dengan sabdanya,

مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرُ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

"Barangsiapa yang memberi makan orang yang (berbuka) pua-sa, maka baginya pahala semisal orang yang berpuasa, tanpa dikurangi dari pahala orang yang berpuasa sedikitpun" (HR. At-Tirmidzi: 807 dan Ibnu majah: 1746)

Sebagai faedah: memberi makan orang yang berbuka puasa ada beberapa bentuk;
1. Mengundangnya untuk makan di rumah, atau
2. Membuatkan makanan dan mengirimkan untuknya, atau
3. Membelikan makanan untuknya.

Kalau kita menjamu satu orang saja untuk berbuka, maka pahala puasanya akan kita dapatkan dan tidak mengurangi pahala orang itu sedikitpun. Lalu, bagaimana kalau yang kita jamu ada 5 orang? Atau satu masjid? Berapa banyak pahala yang didapat.

Hadirin kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati, mari kita gunakan kesempatan emas ini untuk menjamu berbuka puasa keluarga, kawan, tetangga dan siapa saja. Supaya kita bisa meraih pahala yang berlipat-lipat ganda. Sekali dayung dua tiga pulau terlewati.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #9: Keutamaan Bulan Ramadhan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَ شَهْرَ الصِّيَامِ عَلَى جَمِيعِ الشُّهُورِ، وَأَكْرَمَ بِهِ الْمُسْلِمِينَ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ وَالسَّحُورِ. وَعَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ فِي جَمِيعِ الدُّهُورِ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَمَنْ اتَّبَعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالظُّهُورِ. أَمَّا بَعْدُ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Adalah hak Allah pribadi untuk memuliakan suatu waktu atas waktu lain, suatu hari atas hari lain, atau suatu bulan atas bulan lain. Misalnya, Allah memuliakan bulan Ramadhan atas bulan-bulan lain. Tentu ketika Allah memuliakan sesuatu itu karena di dalamnya terdapat kemuliaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh lainnya. Dengan memiliki pemahaman demikian, kita akan mampu meningkatkan kepekaan diri untuk menggapai berbagai keutamaan yang ada dalam bulan Ramadhan ini.

Dalam bulan Ramadhan ini, Allah telah menebarkan berbagai keutamaan dan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara keutamaan tersebut adalah dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, serta dibelenggunya setan-setan. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu." (HR. Ahmad dan an-Nasa'i).

Hadis ini memberikan pengertian bahwa dengan datang-nya bulan Ramadhan, berbagai pintu amal kebaikan terbuka lebar. Semua orang beriman mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Karena selain pintu kebaikan terbuka, Allah pun menolong hamba-Nya dengan memenjarakan para penggoda utama, yaitu setan.

Kalau di luar Ramadhan setan dapat dengan leluasa melancarkan serangannya dengan berbagai godaan dan tipu daya, maka di bulan yang suci ini gerakan setan tertahan dengan izin Allah. Kalaupun pada bulan ini masih ada yang berbuat maksiat, bisa saja itu muncul dari hawa nafsu manusia itu sendiri. Karena hawa nafsu jika tidak dikendalikan dengan landasan keimanan dan kejernihan hati, maka ia cenderung mendorong manusia kepada perbuatan yang buruk. (QS. asy-Syams: 8-10).

Ma'asyiral muslimîn rahimakumullah,
Keutamaan lain yang hanya ada di bulan Ramadhan adalah adanya lima keutamaan khusus untuk umat Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah,

"Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah 'azza wa jalla setiap hari menghiasi surga-Nya lalu berkalam (kepada surga), "Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang saleh dibebaskan dari beban dan derita mereka menuju kepadamu" pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan ampunan untuk umatku pada akhir malam." Beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu pada Lailatul Qadar?" Jawab beliau, "Tidak, namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya." (HR. Ahmad) Isnad hadis tersebut dhaif, dan di antara bagiannya ada nas-nas lain yang memperkuatnya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Yang terakhir dan ini sudah sangat populer, yaitu keutamaan malam lailatul qadar yang kebaikannya sama dengan seribu bulan. Sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al-Qadr: 3,

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." Seribu bulan ini kalau kita hitung, kurang lebih setara dengan 83 tahun. Itu merupakan jangka waktu yang belum tentu kita semua bisa mendapatkannya. Karena rata-rata umur umat Muhammad adalah antara 60-70 tahun.

Melihat berbagai keutamaan yang Allah janjikan pada bulan Ramadhan, maka sudah sepatutnya sebagai umat Nabi Muhammad yang masih diberi kesempatan umur sampai bulan Ramadhan ini, mampu bersyukur dengan memaksimalkan seluruh kesempatan yang ada untuk menumpuk investasi amal di akhirat.

Dari mulai berzikir, sedekah, iktikaf, menolong sesama dan qiyamul lail. Semua itu dilakukan untuk mencari ridha Allah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda, "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari)

Ceramah Awal Ramadhan 2026 #10: Amalan-amalan yang Dianjurkan Selama Berpuasa

السلام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلاة والسلام على نبينا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلا الله وَاشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَمَّا بَعْدُ قَالَ اللهُ تَعَالَ فِي الْقُرْآنُ الكَريم أعوذ بالله من الشيطانِ الرَّجِيمِ بِسمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقُونَ (البقرة: ۱۸۳)

Kaum Muslimin yang berbahagia
Pertama-tama marilah kita ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang mana sampai detik ini kita masih diberikan oleh Allah berupa nikmat Iman, Islam, kesehatan dan kesempatan sehingga mampu hadir di tempat yang penuh barokah ini. Shalawat dan Salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan segala perjuangan dan pengorbannya telah mampu menerangi qalbu ummat manusia dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang dibawah naungan wahyu Illahi Robbi.

Kaum Muslimin yang berbahagia
Adapun amalan-amalan yang dianjurkan selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah:

Pertama, Mengerjakan Qiyamul Lail (Shalat Tarawih). Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغَبُ فِي قَيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُوْلُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّم من ذنبه ( رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a la berkata: Adalah Rasulullah saw menganjurkan mereka untuk melakukan qiyamu Ramadhan tetapi tidak mewajibkan, sebagaimana sabda beliau:Barang siapa yang berjaga (melakukan qiyam) dibulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, Mengakhirkan makan di waktu sahur. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كُنتُ أَتَسَحْرُ فِي أَهْلِي ثُمَّ تَكُوْنُ سُرْعَتِيْ أن أُدْرِكَ السُّجُودَ مَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخاري)

Artinya: Diriwayatkan dari Sahi bin Sa'ad r.a la berkata: Saya makan sahur dengan keluarga saya, kemudian saya berangkat terburu-buru sehingga saya mendapatkan sujud pada shalat subuh bersama Rasulullah saw. (H.R. Bukhari).

Ketiga, Menyegerakan berbuka. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ سَهْلِ بْن سَعْدٍ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْر. (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad, Rasulullah saw telah bersabda: Orang akan selalu baik (Sehat) apabila menyegerakan berbuka. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Keempat, Memperbanyak shadaqah dan mempelajari Al Quran. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بَا الخَيْرِ وَكَانَ أَجُودُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآمَنَ فَلَرَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلة ( رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a la berkata: Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, apalagi pada bulan Ramadhan, ketika ditemui oleh Malaikat Jibril pada setiap malam pada bulan Ramadhan dan mengajaknya membaca dan mempelajari Al Quran, ketika ditemui Jibril Rasulullah saw adalah lebih dermawan daripada angin yang ditiupkan. (QS. Bukhari dan Muslim)

و السلام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاتُهُ

Nah, itulah 10 ceramah Ramadan 2026 yang singkat dan mudah dihafal. Semoga membantu, ya!




(sto/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads