Setiap menjelang lebaran, jutaan orang Indonesia melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Tradisi yang dikenal sebagai mudik ini sudah menjadi agenda tahunan yang tidak bisa dipisahkan dari perayaan Idul Fitri.
Dirujuk dari detikNews, berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, arus mudik Lebaran 2026 (1447 H) diperkirakan melibatkan sekitar 144 juta orang. Puncak mudik diprediksi terjadi pada 18 Maret 2026 atau H-2 Lebaran, sedangkan arus balik diperkirakan berlangsung pada 24-29 Maret 2026 seiring berakhirnya masa cuti bersama.
Angka itu memperlihatkan betapa besarnya pergerakan masyarakat setiap musim Lebaran. Mudik pun bukan lagi sekadar rutinitas tahunan, melainkan tradisi lama yang terus dijalankan hingga sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, sejak kapan mudik dikenal di Indonesia dan bagaimana awal mula tradisi ini berkembang? Berikut ulasan mengenai sejarah dan makna mudik yang sudah mengakar sejak puluhan tahun lalu.
Apa Itu Mudik?
Istilah mudik lekat dengan momen Lebaran di Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik memiliki dua makna. Pertama, bepergian ke hulu sungai atau pedalaman. Kedua, dalam penggunaan sehari-hari, mudik diartikan sebagai pulang ke kampung halaman, terutama menjelang Lebaran. Makna kedua inilah yang paling dikenal masyarakat Indonesia saat ini.
Sementara itu, menurut keterangan dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, antropolog Prof Heddy Shri Ahimsa-Putra menjelaskan bahwa istilah mudik berakar dari bahasa Melayu, yakni udik yang merujuk pada hulu sungai. Pada masa lalu, masyarakat yang tinggal di wilayah hulu bepergian ke hilir untuk berdagang atau bekerja, lalu kembali lagi ke kampungnya.
Ada pula pendapat yang menyebut istilah ini berasal dari bahasa Jawa mulih dhisik yang berarti pulang lebih dulu. Beragam penjelasan tersebut menunjukkan bahwa mudik sejak awal memang berkaitan dengan aktivitas kembali ke tempat asal.
Sejarah Mudik di Indonesia
Tradisi mudik tidak muncul begitu saja. Berdasarkan penjelasan di laman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, mudik merupakan bagian dari dinamika sosial budaya yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia.
Jika ditelusuri ke masa lampau, kebiasaan ini bermula dari tradisi masyarakat agraris di Jawa, bahkan sudah ada sebelum masa Kerajaan Majapahit. Pada periode tersebut, perjalanan kembali ke kampung halaman berkaitan dengan ritual penghormatan kepada leluhur, seperti membersihkan makam dan memanjatkan doa di tempat yang dianggap suci.
Memasuki periode penyebaran Islam, praktik tersebut tidak hilang dan menyesuaikan dengan ajaran yang berkembang saat itu. Ziarah kubur dan silaturahmi kemudian menjadi bagian yang menonjol dalam tradisi pulang kampung.
Istilah mudik sendiri kembali ramai digunakan pada dekade 1970-an. Saat itu, para pekerja yang merantau ke Jakarta memanfaatkan libur Lebaran untuk kembali ke daerah asal. Sejak periode tersebut, selain sebagai perjalanan pulang, mudik menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan berziarah ke makam leluhur.
Tradisi Mudik di Indonesia
Disadur dari laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, mudik memiliki makna penting bagi masyarakat Indonesia. Di samping sebagai perjalanan pulang ke kampung halaman, tradisi mudik memiliki nilai penghormatan serta pelestarian budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Berikut sejumlah alasan dan bentuk tradisi mudik yang membuatnya tetap bertahan hingga kini:
1. Bentuk Bakti kepada Orang Tua dan Keluarga
Bagi banyak perantau, pulang saat lebaran adalah wujud penghormatan kepada orang tua dan keluarga besar. Momen ini dimanfaatkan untuk meminta maaf, mempererat kembali hubungan yang renggang karena jarak, serta menunjukkan kepedulian kepada sanak saudara di kampung halaman.
2. Waktu untuk Refleksi dan Introspeksi
Mudik juga dimaknai sebagai jeda dari rutinitas. Setelah setahun bekerja atau beraktivitas di perantauan, perjalanan pulang menjadi kesempatan untuk merenung, mengevaluasi diri, dan menyusun harapan baru ke depan.
3. Ungkapan Syukur
Selain sebagai ajang silaturahmi, mudik adalah bentuk rasa syukur atas kesehatan dan keselamatan yang telah diberikan selama setahun terakhir. Kepulangan ke kampung halaman menjadi simbol kembalinya seseorang ke akar dan keluarganya dalam keadaan baik.
4. Berkumpul dan Melestarikan Tradisi
Selama mudik, berbagai kegiatan biasanya dilakukan, seperti berkumpul bersama keluarga besar, menggelar acara syukuran, hingga berbuka puasa bersama. Ada pula tradisi berziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang. Momen ini sekaligus menjadi cara menjaga nilai budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
5. Perjalanan yang Semakin Mudah
Jika dahulu perjalanan mudik ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan kereta kuda, maka kini masyarakat memiliki banyak pilihan transportasi, mulai dari mobil pribadi, bus, kereta api, hingga pesawat terbang. Dalam beberapa tahun terakhir, layanan transportasi dan pengiriman berbasis daring juga memudahkan masyarakat merencanakan kepulangan.
Di sisi lain, mudik juga identik dengan kepadatan lalu lintas dan potensi risiko perjalanan. Karena itu, berbagai upaya pengaturan arus dan keselamatan terus dilakukan setiap musim Lebaran. Dengan berbagai makna dan dinamika tersebut, mudik tetap menjadi tradisi khas Indonesia yang dijalankan dengan penuh semangat setiap tahunnya.
Demikian ulasan mengenai sejarah dan makna tradisi mudik di Indonesia yang telah berlangsung sejak lama dan terus bertahan hingga kini. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi detikers!
Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(num/alg)

Komentar Terbanyak
Serba-serbi SMA De Britto, Siswa Bebas Gondrong hingga Kelas Kandang Kuda
Duduk Perkara Danrem Pamungkas Cekcok dengan Marshal Saat Ikut Maraton
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Sebut Pelapor Dirinya ke Polisi Lagi Caper ke Presiden