Keraton Kerta Jogja: Megah di Era Sultan Agung, Runtuh di Masa Amangkurat I

Keraton Kerta Jogja: Megah di Era Sultan Agung, Runtuh di Masa Amangkurat I

Adji Ganda Rinepta - detikJogja
Sabtu, 14 Mar 2026 12:40 WIB
Keraton Kerja Jogja
Keraton Kerta Jogja. Foto: Adji Ganda Rinepta/detikjogja
Jogja -

Pernah berdiri megah dan jadi pusat pemerintahan di masa kepemimpinan Sultan Agung, Keraton Kerta yang terletak di Dusun Kerto dan Dusun Kanggotan, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul ini kini tersisa jejaknya. Runtuhnya Keraton Kerta ini dimulai sejak kepemimpinan dipegang oleh Amangkurat I.

"Keraton Kerta dibangun pada 1617-1625 berdasarkan sumber Babad Momana dan Babad Ing Sekala. Tercatat Sultan Agung telah menempati Kerta pada tahun 1618," ungkap Arkeolog, Fahmi Prihantoro dihubungi detikJogja, Kamis (12/3/2026).

Fahmi mengatakan berakhirnya masa kekuasaan Sultan Agung turut menyudahi kejayaan Keraton Kerta. Suksesor Sultan Agung, Amangkurat 1, memilih memindahkan ibukota dari Kerta ke Keraton Plered.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keraton Kerta tidak digunakan pada 1647 ketika Sultan Agung Wafat," ujar Dosen Arkeologi UGM itu.

ADVERTISEMENT

Pemindahan pusat pemerintahan ke Keraton Plered oleh Amangkurat 1 itu membuat Keraton Kerta terlupakan dan terbengkalai. Hingga akhirnya bangunan Keraton termakan usia dan kerasnya alam.

"Faktor-faktor runtuhnya Keraton Kerta karena sudah tidak dipakai lagi. Raja pengganti Amangkurat I memindahkan pusat kerajaan ke Kraton Plered. Setelah lama tidak digunakan bekas Keraton Kerta tertimbun tanah karena proses alam," jelas Fahmi.

Sayangnya, tak banyak yang bisa dilihat dari Keraton Kerta saat ini. Hanya ada sisa-sisa bangunan yang menampilkan bekas komponen kompleks keraton di Situs Keraton Kerta, Desa Pleret, itupun sudah tidak banyak yang tersisa.

Situs Kerta sendiri juga disebut sebagai Lemah Dhuwur yang juga diyakini sebagai bekas Sitinggil Keraton Kerta. Sitinggil yang berarti tanah tinggi, adalah bentuk areal tanah yang ditinggikan yang menjad salah satu komponen yang selalu terdapat pada keraton-keraton kerajaan Mataram Islam.

Hal ini didasari dengan temuan hasil penggalian berupa struktur-struktur fragmentaris dari bata yang mengindikasikan bentuk talut, anak tangga, gapura, dan pagar cepuri. Serta stratigrafi yang menunjukkan peninggian permukaan lahan.

"Penelitian sebelumnya melihat kemungkinan bagian dari bangunan Sitinggil Keraton Kerta dengan indikasi umpak batu yang ditemukan berukuran besar bahkan lebih besar dari bangunan di Keraton Yogyakarta sekarang," jelas Fahmi.

"Sementara reruntuhan yang ditemukan mengindikasikan adanya bagian dari struktur bangunan. Namun hingga penelitian terakhir 2025 belum dapat mengungkap bagaimana bentuk atau denah bangunan pada masa itu," pungkasnya.




(par/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads