5 Cara Membasmi Ikan Sapu-sapu di Sungai, Hama Invasif Pengancam Ekosistem

5 Cara Membasmi Ikan Sapu-sapu di Sungai, Hama Invasif Pengancam Ekosistem

Mardliyyah Hidayati - detikJogja
Jumat, 17 Apr 2026 13:29 WIB
5 Cara Membasmi Ikan Sapu-sapu di Sungai, Hama Invasif Pengancam Ekosistem
Ikan sapu-sapu. (Foto: Juan Carlos Caicedo Hernández/iNaturalist/CC BY 4.0)
Jogja -

Ikan sapu-sapu kerap dianggap sebagai solusi alami untuk membersihkan akuarium atau kolam. Namun, siapa sangka jika ikan satu ini justru berubah menjadi ancaman serius untuk ekosistemnya, terlebih ketika dilepas ke perairan bebas. Keberadaannya di sungai-sungai Indonesia yang kini semakin banyak dan tak terkendali ini perlu dibasmi.

Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu tidak bisa dianggap sepele. Ikan yang dikenal dengan nama ilmiah Pterygoplichthys spp. ini memiliki potensi merusak ekosistem sungai. Pasalnya, sebagai salah satu hama invasif, kemampuan ikan sapu-sapu dalam berkembang biak dan adaptasi itu sangatlah cepat. Hal tersebut dapat mengancam populasi ikan asli dan mempengaruhi ekosistemnya.

Jika demikian, perlu adanya pengendalian hama invasif ini sebelum benar-benar merusak ekosistem sungai. Lantas, bagaimana cara melakukannya? Untuk melakukannya, mari simak baik-baik 5 cara membasmi ikan sapu-sapu di bawah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenapa Ikan Sapu-sapu di Sungai Harus Dibasmi?

Sebelum membahas cara membasminya, penting untuk memahami terlebih dahulu mengapa ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai hama invasif. Dengan mengetahui dampak dan karakteristinya, detikers akan lebih paham alasan perlunya pengendalian ikan sapu-sapu di perairan alami Indonesia seperti sungai.

Ikan sapu-sapu diketahui berasal dari Sungai Amazon di Amerika Selatan. Dalam artikel Jurnal Hukum dan Administrasi Publik yang berjudul Penegakan Hukum Tindakan Memelihara dan Menjual Ikan Hias Spesies Invasif sebagai Langkah Pencegahan Kerusakan Lingkungan Hidup Air Tawar di Indonesia oleh Irwan triadi dan Michael Giovanni Joseph, dijelaskan bahwa ikan sapu-sapu telah diperkenalkan sebagai 'ikan pembersih akuarium' sejak 1970. Di Indonesia pun, istilah 'sapu-sapu' juga merujuk pada fungsinya tersebut.

Akan tetapi, di balik fungsinya itu, ikan sapu-sapu justru menimbulkan masalah besar ketika dilepas di perairan umum. Kemampuan adaptasinya yang tinggi membuat ikan ini dapat berkembang biak dengan cepat dan mendominasi habitat baru. Akibatnya, keberadaan ikan lokal menjadi terancam. Salah satu contohnya terjadi di Sungai Ciliwung, di mana populasi ikan sapu-sapu diduga telah menggeser spesies lokal seperti benteur dan tawes-tawesan.

Lebih luas, ikan sapu-sapu termasuk dalam kategori spesies invasif. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2016, spesies invasif merupakan spesies yang mampu mengkolonisasi suatu habitat secara masif hingga menimbulkan kerugian secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Umumnya, spesies ini berasal dari luar wilayah (introduksi asing) dan memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Ketika masuk ke lingkungan baru tanpa predator alami, spesies invasif seperti ikan sapu-sapu dapat merusak keseimbangan ekosistem yang sudah terbentuk sebelumnya.

Adapun berikut ini masalah yang ditimbulkan oleh spesies atau hama invasif ini.

  • Ancaman merusak ekosistem lokal karena kemampuan adaptasi yang tinggi, reproduksi massal, dan sifat kompetitifnya.
  • Kerusakan habitat akibat perubahan kadar ammonia dalam air, sehingga lebih kotor dan cahaya matahari susah masuk.
  • Ancaman penyebaran penyakit yang dimungkinkan dibawa oleh hama invasif yang umumnya memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa.
  • Penurunan produktivitas perikanan lokal yang ditempati hama invasif ini.
  • Kerugian biaya untuk pengendalian dan pemulihan ekosistem lokal
  • Perubahan ekologis jangka panjang yang pada akhirnya mengganggu keseimbangan ekosistem.

Cara Membasmi Ikan Sapu-sapu

Setelah memahami bahaya yang ditimbulkan, langkah selanjutnya adalah mengetahui cara efektif untuk mengatasi penyebarannya. Berdasarkan buku Wetland: Konservasi dan Restorasi Lahan Basah Perkotaan yang ditulis oleh Kukuh Sungkawa serta buku Pembangunan Pertanian dan Perikanan Berkelanjutan: Menuju Kemandirian Pangan Nasional oleh Triwibowo Yuwono dan kawan-kawan, terdapat 5 cara membasmi atau lebih tepatnya mengendalikan populasi hama invasif seperti ikan sapu-sapu ini.

Secara rinci, berikut 5 cara membasmi ikan sapu-sapu sebagai hama invasif yang mengancam ekosistem sungai.

1. Penangkapan massal secara masif

Penangkapan massal menjadi langkah paling umum dan langsung dilakukan dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Cara ini biasanya dilakukan dengan menggunakan alat tangkap seperti jarring, perangkap, atau metode tradisional oleh masyarakat sekitar sungai. Semakin intensi penangkapan dilakukan, maka semakin besar pula peluang untuk menekan jumlah populasinya.

Selain itu, penangkapan massal juga dapat melibatkan partisipasi masyarakat secara luas. Kegiatan pemberdayaan pembuatan produk olahan ikan sapu-sapu bisa jadi solusi yang lebih efektif lagi. Salah satunya produk pakan yang telah diteliti dalam sebuah artikel jurnal berjudul Inovasi Pakan Alternatif Berbasis Ikan Sapu-sapu (Pterygoplichthys sp.) di Kabupaten Gresik, Jawa Tengah oleh Alfa Akustia Widati dan kawan-kawan.

Kegiatan penangkapan dan pengolahan produk ikan sapu-sapu secara massal ini dapat menjadi solusi yang efektif sekaligus memberikan nilai ekonomi. Dengan demikian, upaya pengendalian tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.

2. Penggunaan herbisida dan insektisida secara selektif

Penggunaan bahan kimia seperti herbisida atau insektisida dalam pengendalian hama invasif juga dapat dilakukan. Namun dengan catatan, harus dilakukan secara selektif dan hati-hati. Umumnya, metode ini digunakan dalam kondisi tertentu, terutama ketika populasi sudah sangat sulit dikendalikan melalui cara manual.

Metode ini bisa jadi lebih cepat 'membasmi', tetapi dapat pula menimbulkan masalah lain jika dilakukan dengan serampangan. Penggunaan bahan kimia yang tidak tepat justru berpotensi mencemari perairan dan membahayakan ikan lokal serta makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, cara ini umumnya menjadi opsi terakhir yang memerlukan pengawasan ketat dari pihak berwenang.

3. Penebaran predator alami

Salah satu cara yang cukup efektif dalam jangka panjang adalah dengan menghadirkan predator alami ikan sapu-sapu ke dalam ekosistem sungai. Predator ini dapat membantu menekan populasi ikan sapu-sapu secara alami melalui rantai makanan yang seimbang. Dengan demikian, dampak yang ditimbulkan dari proses pembasmian tidak terlalu besar.

Kendati demikian, pemilihan predator tidak boleh semabrangan. Jika salah memilih, bukannya menyelesaikan, tapi menambah masalah baru, karena berpotensi menjadi hama invasif berikutnya. Oleh karena itu, penelitian mendalam sangat diperlukan sebelum melakukan penebaran predator agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

4. Penebaran ikan kompetitornya

Tidak hanya predator, cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menebar ikan yang menjadi kompetitor sapu-sapu. Utamanya, kompetitor dalam memperebutkan sumber makanan dan habitat. Melalui ikan kompetitor ini, pelemahan dominasi sapu-sapu bisa terjadi secara alami di perairan tersebut.

Cara ini bekerja dengan menciptakan persaingan alami di dalam ekosistem. Ketika sumber daya menjadi terbatas, ikan sapu-sapu tidak lagi mendominasi secara mutlak. Meski begitu, lagi-lagi pemilihan jenis ikan sebagai kompetitornya harus dilakukan secara hati-hati. Penentuannya disesuaikan dengan kondisi dengan lingkungan agar tidak menimbulkan masalah baru pada ekosistem tersebut.

5. Edukasi masyarakat sekitar perairan

Cara terakhir dan tak kalah penting adalah dengan edukasi masyarakat sekitar perairan. Pembasmian ikan sapu-sapu secara total adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Secara umum, ikan sapu-sapu akan terus hidup, namun kita bisa mengendalikan populasinya. Maka dari itu, pemahaman tentang hal ini harus sampai pula pada masyarakat sekitar perairan agar ledakan populasi ikan sapu-sapu tidak terjadi.

Upaya pengendalian ikan sapu-sapu tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya kesadaran dari masyarakat. Edukasi menjadi kunci penting agar masyarakat memahami bahaya hama invasif terhadap ekosistem perairan dan lingkungan mereka. Dengan begitu, mereka tidak lagi melepas ikan sapu-sapu ke perairan umum.

Selanjutnya, edukasi juga dapat mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pengendalian, seperti melakukan penangkapan, bahkan ikut memanfaatkan ikan sapu-sapu menjadi produk bernilai ekonomi. Pada akhirnya, upaya pengendalian akan lebih berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas.

Demikian itulah 5 cara membasmi ikan sapu-sapu sebagai hama invasif yang mengancam ekosistem sungai. Semoga bermanfaat ya, Dab!

Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(sto/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads