Jemaah Haji Gunungkidul Pakai Blangkon di Tanah Suci, Jadi Penanda Rombongan

Jemaah Haji Gunungkidul Pakai Blangkon di Tanah Suci, Jadi Penanda Rombongan

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Sabtu, 09 Mei 2026 17:38 WIB
Jemaah haji asal Gunungkidul mengenakan blangkon keberangkatan menuju Tanah Suci.
Jemaah haji asal Gunungkidul mengenakan blangkon keberangkatan menuju Tanah Suci. Foto: Dok. Kemenhaj DIY
Jogja -

Penampilan sejumlah jemaah haji asal Gunungkidul mencuri perhatian saat keberangkatan menuju Tanah Suci. Mereka mengenakan blangkon khas Jogja sebagai identitas rombongan saat berada di tengah ribuan jemaah dari berbagai daerah dan negara.

Plt Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Daerah Istimewa Yogyakarta, Silvia Rosetti mengatakan, jemaah tersebut tergabung dalam kloter 10 embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA). Penggunaan blangkon disebut menjadi cara membawa identitas budaya lokal hingga ke kancah internasional.

"Karena mungkin mengenakan blangkon khas Yogyakarta di tanah suci supaya membawa identitas budaya ke kancah internasional," kata Silvia saat dihubungi detikJogja, Sabtu (9/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain sebagai identitas budaya, Silvia menyebut blangkon juga memudahkan jemaah mengenali rombongannya di tengah keramaian.

"Supaya lebih mengenali aja untuk ciri khas mereka. Kalau misalnya ada yang kesasar, gampang dikenali, 'Oh itu dari Gunungkidul, dari Jogja'," ujarnya.

Jemaah haji asal Gunungkidul mengenakan blangkon keberangkatan menuju Tanah Suci.Jemaah haji asal Gunungkidul mengenakan blangkon keberangkatan menuju Tanah Suci. Foto: Dok. Kemenhaj DIY

Disebutkan, penggunaan blangkon dilakukan oleh satu rombongan jemaah dari KBIHU Darul Qur'an Gunungkidul. Meski begitu, tradisi serupa ternyata pernah dilakukan kelompok jemaah lain sebelumnya.

"Sebetulnya tradisi ini sudah diinisiasi dari zaman KBIHU Muslimat NU sudah memakai," jelasnya.

Menurut Silvia, penggunaan blangkon tidak berkaitan dengan aktivitas ibadah wajib. Penutup kepala tradisional itu hanya dikenakan dalam situasi tertentu, seperti saat perjalanan atau berkumpul bersama rombongan.

"Kalau ibadah tidak. Itu hanya untuk identitas ketika di bandara atau saat rombongan bersama," katanya.

Silvia juga menyebut, blangkon juga disebut memiliki filosofi mendalam. Blangkon khas Jogja diketahui mempunyai 17 lipatan yang melambangkan jumlah rakaat salat fardu dalam sehari semalam.

"Blangkon khas Yogyakarta memiliki 17 lipatan, yang melambangkan jumlah rakaat salat fardu dalam sehari semalam. Dua, empat, empat, tiga, dan empat," ungkap Silvia.

Selain nilai filosofi, warna dan bentuk blangkon yang mencolok dinilai membantu petugas maupun sesama jemaah dalam berkoordinasi selama di Tanah Suci.

"Kalau sekarang istilahnya seperti GPS visual atau GPS manual untuk memudahkan jemaah," tutupnya.




(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads