Beberapa minggu lalu, umat Kristiani baru saja memperingati wafatnya Yesus Kristus dalam momentum Jumat Agung. Tak berselang lama, pada bulan ini umat Kristiani kembali memperingati peristiwa penting lainnya, yakni Kenaikan Yesus Kristus. Kedua momen ini sama-sama menjadi bagian penting bagi umat Kristen, sehingga kerap menimbulkan pertanyaan, apa sebenarnya perbedaan antara wafat dan kenaikan Yesus Kristus?
Sebelum memahami perbedaannya, perlu diketahui bahwa kedua peringatan ini merupakan peristiwa penting dalam ajaran Kristen. Wafat dan kenaikan Yesus tidak hanya dipandang sebagai sejarah, tetapi juga memiliki makna yang mendalam bagi umat Kristiani di seluruh dunia.
Bahkan di Indonesia, kedua peringatan ini telah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Hal tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri PAN-RB Nomor 1497 Tahun 2025, Nomor 2 Tahun 2025, dan Nomor 5 Tahun 2025 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026. Dengan demikian, wafat dan kenaikan Yesus Kristus tidak hanya menjadi peristiwa keagamaan, tetapi juga bagian dari kalender nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, apa saja perbedaan antara wafat dan kenaikan Yesus Kristus? Berikut penjelasan lengkapnya.
Perbedaan Wafat dan Kenaikan Yesus Kristus
1. Makna Peristiwa
Perbedaan pertama terletak pada makna peristiwa yang terjadi. Wafat Yesus Kristus merujuk pada peristiwa penyaliban dan kematian-Nya di kayu salib. Dalam kajian sejarah, peristiwa ini diyakini terjadi pada masa pemerintahan Romawi di bawah Pontius Pilatus.
Berdasarkan artikel "Peristiwa Penyaliban Yesus Ditinjau dari Perspektif Sejarah dan Teologi Yohanes" karya Daniel Lindung Adiatma, penyaliban Yesus merupakan bentuk hukuman mati yang umum dilakukan oleh Romawi terhadap pelanggar hukum berat. Namun dalam perspektif iman Kristen, peristiwa ini tidak sekadar hukuman, melainkan bagian dari rencana ilahi.
Lebih jauh, dalam tulisan "Menggali Makna Anugerah Dalam Kematian Yesus Kristus dan Implikasinya Bagi Jemaat Masa Kini" oleh Kanaya Fiorensia Christina Posumah dkk., dijelaskan bahwa kematian Yesus dipandang sebagai penggenapan janji Allah untuk menebus dosa manusia. Dengan kata lain, wafat Yesus memiliki makna pengorbanan demi keselamatan umat manusia.
Sementara itu, merujuk laman Universitas Negeri Surabaya, kenaikan Yesus Kristus merupakan peristiwa terangkatnya Yesus ke surga di hadapan para murid-Nya setelah kebangkitan. Peristiwa ini menjadi penutup dari kehadiran fisik Yesus di dunia sekaligus menandai kembalinya Ia ke dalam kemuliaan ilahi.
2. Waktu Peringatan
Perbedaan berikutnya terletak pada waktu peringatan kedua peristiwa tersebut. Wafat Yesus Kristus diperingati dalam Jumat Agung, yaitu hari Jumat sebelum Hari Paskah. Berdasarkan informasi dari Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, pada tahun 2026 Jumat Agung jatuh pada 3 April dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Jumat Agung menjadi momen refleksi bagi umat Kristiani untuk mengenang penderitaan dan pengorbanan Yesus di kayu salib. Biasanya, peringatan ini diisi dengan ibadah khusus yang berlangsung dengan suasana khidmat dan penuh perenungan.
Sementara itu, Kenaikan Yesus Kristus diperingati 40 hari setelah Hari Paskah. Perayaan ini selalu jatuh pada hari Kamis, sesuai dengan tradisi gereja sejak masa awal Kekristenan. Pada tahun 2026, Kenaikan Yesus Kristus diperingati pada tanggal 14 Mei.
Informasi ini juga sejalan dengan penjelasan dari laman Universitas Negeri Surabaya yang menyebutkan bahwa jarak 40 hari tersebut memiliki makna teologis, yakni masa di mana Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sebelum akhirnya naik ke surga.
3. Makna Teologis
Dari sisi teologi, wafat Yesus Kristus memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam kajian soteriologi (doktrin keselamatan), kematian Yesus dipahami sebagai karya penebusan dosa manusia. Artinya, melalui wafat-Nya, hubungan antara manusia dan Allah yang rusak akibat dosa dipulihkan.
Artikel "Peristiwa Penyaliban Yesus Ditinjau dari Perspektif Sejarah dan Teologi Yohanes" karya Daniel Lindung Adiatma juga menekankan bahwa peristiwa ini merupakan bentuk kasih Allah yang terbesar bagi dunia, sebagaimana tertulis dalam ajaran Kristen. Wafat Yesus menjadi titik balik bagi manusia untuk memperoleh pengampunan dan kehidupan kekal.
Di sisi lain, Kenaikan Yesus memiliki makna teologis yang berkaitan dengan pemuliaan dan kedaulatan. Menurut penjelasan pada laman Gibeon Church, kenaikan Yesus menunjukkan bahwa Ia ditinggikan dan duduk di sebelah kanan Allah, yang melambangkan otoritas dan kuasa atas segala sesuatu.
Selain itu, kenaikan Yesus juga berkaitan dengan pengutusan Roh Kudus kepada orang percaya. Peristiwa ini diyakini membuka jalan bagi kehadiran Roh Kudus yang akan menyertai dan membimbing umat dalam kehidupan sehari-hari.
Tak hanya itu, dalam kepercayaan umat Kristen, Yesus yang telah naik ke surga juga dipahami sebagai pembela manusia di hadapan Allah. Hal ini menegaskan peran-Nya yang terus berlanjut, meskipun tidak lagi hadir secara fisik di dunia.
4. Hubungan antara Peristiwa Wafat dan Kenaikan Yesus Kristus
Meski berbeda, wafat dan kenaikan Yesus Kristus memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan bagian dari satu rangkaian peristiwa keselamatan yang utuh dalam ajaran Kristen.
Mengutip penjelasan dari laman The Gospel Coalition dan GRII Sydney, kenaikan Yesus dipandang sebagai konfirmasi atas keberhasilan karya-Nya di kayu salib. Jika wafat Yesus menggambarkan kerendahan hati, penderitaan, dan penghinaan yang Ia alami, maka kenaikan menunjukkan kemenangan, kemuliaan, dan penggenapan misi-Nya. Dengan kata lain, kenaikan menjadi bukti bahwa tugas penyelamatan manusia telah diselesaikan dengan sempurna.
Kedua peristiwa ini juga menunjukkan perjalanan Yesus dari penderitaan menuju kemuliaan. Inilah yang menjadi dasar iman bagi umat Kristiani dalam memahami makna keselamatan secara utuh.
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara wafat dan kenaikan Yesus Kristus dapat dilihat dari makna peristiwa, waktu peringatan, hingga nilai teologis yang terkandung di dalamnya. Wafat menekankan pada pengorbanan dan penebusan dosa, sementara kenaikan menandai kemenangan dan kemuliaan Yesus. Semoga informasi ini bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(sto/afn)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja