Jejak Jalur Kereta Jenazah Raja Solo PB X di Jogja Nyaris Tak Tersisa

Jejak Jalur Kereta Jenazah Raja Solo PB X di Jogja Nyaris Tak Tersisa

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Sabtu, 13 Jun 2026 07:00 WIB
Jejak rel kereta jalur Stasiun Ngabean menuju Stasiun Pundong yang masih tersisa di daerah Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja, Selasa (9/6/2026).
Jejak rel kereta jalur Stasiun Ngabean menuju Stasiun Pundong yang masih tersisa di daerah Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja, Selasa (9/6/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Jalur rel kereta api cabang yang menghubungkan Stasiun Ngabean, Kota Jogja, dengan Stasiun Pundong, Bantul, kini nyaris tak menyisakan jejak. Sebagian besar rel telah tertutup pembangunan jalan dan permukiman warga, padahal jalur tersebut pernah menjadi lintasan kereta jenazah Raja Kasunanan Surakarta, Sunan Paku Buwono X, menuju Imogiri pada 1939.

Pantauan detikJogja di kawasan Simpang Empat Tamansari, Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja, Selasa (9/6/2026), bekas jalur rel itu sulit dikenali. Kondisi rel telah tertutup cor jalan, sementara di sisi kanan dan kiri berdiri permukiman penduduk serta deretan kios.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Baha Uddin, mengatakan jalur Ngabean-Pundong memiliki nilai sejarah penting karena pernah menjadi bagian dari perjalanan terakhir Sunan Paku Buwono X.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Upacara pelepasan Sunan PB X dipadati ribuan rakyat Surakarta yang ikut mengantarkan, terutama dari keraton, dan diiringi gending-gending sakral. Dari keraton kemudian menggunakan kereta yang ditarik delapan ekor kuda bernama Kyai Roto Praloyo menuju Stasiun Balapan," kata Baha saat dihubungi detikJogja, Rabu (10/6).

Dari Stasiun Balapan Solo, Baha mengatakan, jenazah PB X kemudian dibawa menggunakan kereta api khusus milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

"Jadi, dari keraton menuju Stasiun Balapan, kemudian kotak jenazah dimasukkan ke salah satu kereta api khusus milik NISM," ujarnya.

Menurut Baha, kereta tersebut diberi nama Begrafenis Trein atau kereta permakaman yang secara khusus dijalankan untuk mengantar jenazah Paku Buwono X menuju Imogiri.

"Kereta itu juga kereta khusus yang dinamakan Begrafenis Trein. Begrafenis berarti pemakaman dan trein berarti kereta. Jadi, kereta yang khusus dijalankan untuk pemakaman PB X," jelasnya.

Baha menuturkan perjalanan kereta dimulai dari Solo menuju Stasiun Tugu Jogja. Selanjutnya perjalanan diteruskan melalui jalur selatan yang melewati Ngabean menuju Stasiun Pasar Gede di kawasan Imogiri.

"Dari Stasiun Tugu kemudian ke Ngabean. Dari Ngabean kemudian ke selatan melalui jalur Ngabean-Pundong. Di antara Ngabean dan Pundong, titik yang paling dekat dengan Imogiri adalah Pasar Gede," katanya.

Kini, sebagian besar jalur yang pernah menjadi saksi sejarah tersebut telah hilang tergusur perkembangan kawasan perkotaan. Rel yang dahulu menghubungkan Kota Jogja dan Bantul itu berubah menjadi jalan, permukiman hingga area perdagangan.

Meski demikian, sejumlah warga masih menyimpan kenangan tentang keberadaan jalur tersebut. Salah satunya Agung, warga Gondomanan, Kota Jogja, yang mengaku masih sempat melihat kereta melintas pada era 1980-an.

"Dulu saya didulang (disuapin) sama simbah di dekat stasiunnya itu, sering diajak melihat kereta. Sekitar tahun 1983-1984," ujar Agung.

Agung memperkirakan jalur tersebut berhenti beroperasi pada pertengahan hingga akhir 1980-an. Setelah itu, satu per satu jejak rel mulai menghilang hingga sulit dikenali seperti sekarang.

"Kayaknya keretanya itu penumpang juga, tapi fungsinya lebih untuk ngambil tebu-tebu untuk panenan sampai ke Madukismo sana. Jadi relnya multifungsi nek kelinganku," ujarnya.

"Kereta itu ya antara '85-'86 nek ingatku se-terakhir-terakhir itu aku SD kelas 3. Habis itu terus ilang, maksudnya terus pada ditutup," pungkasnya.




(apl/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads