Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja membeberkan hasil pemeriksaan para anak yang pernah dititipkan di penitipan anak (daycare) Little Aresha Jogja. Dinkes mengungkap ada belasan anak yang mengalami masalah gizi hingga penyimpangan perkembangan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Jogja, Aan Iswanti mengatakan pihaknya telah melakukan skrining pertumbuhan oleh nutrisionis untuk memastikan status gizi anak-anak berdasarkan dari pengukuran antropometri.
"Dari hasil skrining tersebut, sebanyak 149 anak yang menjalani skrining pertumbuhan, ditemukan 18 anak mengalami masalah gizi pada tahapan berat badan kurang dan gizi kurang. Jadi ini tidak bisa disebut sebagai gizi buruk ya, jadi sangat jauh berbeda," papar Aan dalam jumpa pers di Balai Kota Jogja, Selasa (19/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ini baru suatu kondisi tahap awal dari kekurangan gizi pada anak balita. Kalau kita lihat secara fisik bahkan ada yang tidak tampak kekurangannya, tapi karena kita melaksanakan pengukuran tumbuh kembang ini berdasarkan standarnya, antropometri, sehingga bisa diketahui ada beberapa anak berat badannya kurang dan gizi kurang," lanjutnya.
Terhadap 18 anak tersebut, kata Aan, dilakukan rujukan ke Puskesmas untuk dilaksanakan kembali validasi status gizinya oleh tim asuhan gizi Puskesmas. Tim asuhan gizi Puskesmas ini lebih lengkap karena terdiri dari dokter, perawat, nutrisionis, dan juga psikolog klinis.
"Nah ini dari 18 anak yang kita rujuk ke Puskesmas, 9 anak sudah hadir. Yang 9 lainnya masih kita tunggu, mungkin karena ini kan prosesnya ada yang tumbuh kembang, ada yang psikolog. Jadi mungkin ada yang menyelesaikan di tahapan psikolognya seperti itu ya. Jadi memang belum semuanya hadir," ujarnya.
12 Anak Alami Penyimpangan Perkembangan
Selain itu, lanjut Aan, juga dilakukan skrining perkembangan yang dilakukan oleh psikolog klinis untuk memastikan perkembangan anak-anak sesuai dengan usianya, berdasarkan pedoman dari Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).
"Sebanyak 153 anak menjalani skrining perkembangan, hasilnya ini 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan, 19 anak berada dalam kategori meragukan, dan 122 anak berada dalam kondisi perkembangan normal," papar Aan.
12 anak kategori penyimpangan dan 19 anak kategori meragukan ini kemudian dilaksanakan rujukan ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan perkembangan secara lebih komprehensif. Menurut Aan, ditahap ini baru 9 anak yang sudah hadir di Puskesmas.
"Memang penyimpangan itu ada beberapa kategori, mulai dari yang speech delay atau keterlambatan bicara. Kemudian gejala ke arah autis, kemudian ADHD itu tadi banyak gerak, jadi lebih hiperaktif gitu dibanding dengan teman sebayanya atau seusianya, sehingga ini yang perlu dirujuk," terangnya.
Lebih lanjut Aan menjelaskan, sebagai upaya selanjutnya pihaknya terus akan melaksanakan pendampingan dan tindak lanjut bersama fasilitas pelayanan kesehatan terkait untuk memastikan anak-anak ini memperoleh penanganan yang optimal sesuai hasil skrining.
"Jadi kalau misalnya pada saat dilaksanakan di Puskesmas dibutuhkan untuk rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya rumah sakit, sudah disiapkan Rumah Sakit Pratama, RSUD Kota Jogja, dan apabila ternyata dibutuhkan rujukan yang lebih tinggi lagi, RSUP Dr Sardjito juga sudah siap," tegasnya.
"Kita sudah melaksanakan koordinasi dengan rumah sakit tersebut khususnya untuk psikolog dan juga untuk dokter anaknya. Jadi, insyaallah kalau memang dibutuhkan rujukan yang lebih tinggi sudah siap dilayani," ujar Aan.
Sebelumnya, 13 orang telah ditetapkan menjadi tersangka dan telah ditahan terkait kasus dugaan penganiayaan anak di Daycare Little Aresha.
Kapolresta Jogja, Kombes Eva Guna Pandia mengungkapkan 13 orang telah ditetapkan menjadi tersangka seluruhnya perempuan. Mereka yakni DK (51), AP (42), FN (30), NF (26), Lis (34), EN (26), SRm (54), DR (32), HP (47), ZA (30), SRj (50), DO (31), dan DM (28).
"Yang pertama itu inisial DK, Ketua Yayasan. Yang kedua inisial AP, kepala sekolah. Sebelas orang lainnya berperan sebagai pengasuh," jelas Pandia dalam jumpa pers di Mapolresta Jogja, Senin (27/4) sore.
(afn/apl)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja