Puncak Musim Kemarau 2026 Mulai Kapan? Cek Prediksi BMKG dan Mitigasinya!

Puncak Musim Kemarau 2026 Mulai Kapan? Cek Prediksi BMKG dan Mitigasinya!

Khofifah Azzahro - detikJogja
Kamis, 21 Mei 2026 09:42 WIB
Ilustrasi Puncak Musim Kemarau
Ilustrasi Puncak Musim Kemarau (Foto: Yassin Mohammed/Unsplash)
Jogja -

Saat ini Indonesia sedang memasuki masa transisi musim, yaitu peralihan dari musim penghujan menuju musim kemarau. Kondisi tersebut membuat cuaca di sejumlah wilayah terasa lebih panas disertai udara yang lembap.

Hal tersebut disampaikan oleh Ardhasena Sopaheluwakan dalam podcast yang diunggah melalui akun Instagram @infobmkg pada Rabu, 13 Mei 2026. Dalam penjelasannya, Deputi Bidang Klimatologi BMK tersebut menyebut bahwa kondisi peralihan musim ditandai dengan masih adanya sisa uap air dari musim hujan sebelumnya.

Menurutnya, cuaca panas yang terasa lembap merupakan hasil kombinasi antara suhu udara yang meningkat dengan sisa uap air dari musim hujan. Kondisi inilah yang membuat udara terasa gerah meski musim kemarau mulai berlangsung di sejumlah daerah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Ardhasena juga menghimbau masyarakat untuk mewaspadai musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino.

"Yang perlu kita perhatikan, musim kemarau 2026 ini lebih kering dibanding yang biasanya terjadi," ungkapnya, dilihat pada Rabu (20/5/2026).

Lebih lanjut, El Nino merupakan fenomena penyimpangan suhu panas laut di Samudra Pasifik. Dalam kondisi normal, panas laut bergerak menuju Pasifik barat. Namun karena adanya suatu anomali, pusat panas laut justru bergeser ke wilayah Pasifik tengah hingga Pasifik timur.

Karena itu, masyarakat dihimbau untuk melakukan sejumlah antisipasi dalam menghadapi musim kemarau 2026 ini. Lantas, kapan puncak kemarau 2026 serta bagaimana mitigasinya? Berikut informasi lengkapnya menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di bawah ini. Simak, yuk!

Puncak Kemarau Indonesia 2026

BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 akan terjadi secara bertahap seiring semakin luasnya wilayah yang mulai memasuki musim kemarau sejak April hingga Juni. Pada awalnya, musim kemarau diperkirakan muncul dari wilayah Nusa Tenggara sebelum kemudian meluas ke berbagai daerah lain di Indonesia.

Sementara itu, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di lebih dari setengah wilayah Indonesia. Meski demikian, waktu puncak kemarau di setiap daerah diperkirakan berbeda-beda, dengan sebagian wilayah lainnya mengalami puncak musim kering pada Juli maupun September.

Memasuki Agustus 2026, wilayah yang mengalami puncak musim kemarau diperkirakan meningkat secara signifikan. Kondisi kering diprediksi mendominasi sejumlah daerah, mulai dari Sumatra bagian tengah hingga selatan, wilayah Jawa Tengah sampai Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, hingga sebagian wilayah Maluku dan Papua.

Sementara itu, pada September 2026, puncak musim kemarau masih diperkirakan terjadi di beberapa wilayah seperti sebagian Lampung, sebagian kecil Pulau Jawa, dan sebagian besar Nusa Tenggara Timur. Kondisi serupa juga diprediksi berlangsung di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, hingga sebagian kecil wilayah Papua.

Dirujuk dari buku Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia yang dirilis BMKG, berikut rincian puncak musim kemarau per wilayahnya:

A. Juli 2026

BMKG memperkirakan sebanyak 88 Zona Musim (ZOM) bakal menghadapi puncak kemarau pada Juli mendatang. Itu artinya, 12,6% dari total wilayah Indonesia. Wilayah yang termasuk meliputi:

  • Sebagian Sumatera
  • Sebagian kecil Jawa
  • Sebagian kecil Nusa Tenggara
  • Kalimantan bagian tengah dan utara
  • Sulawesi Barat bagian utara
  • Sulawesi Tengah bagian barat
  • Sulawesi Utara bagian barat
  • Sebagian kecil Maluku
  • Papua Barat bagian tengah
  • Papua bagian timur

B. Agustus 2026

Mayoritas wilayah Indonesia akan menghadapi puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2026, mencakup 429 ZOM atau 61,4%. Daftar wilayahnya sebagai berikut:

  • Sumatera bagian tengah dan selatan
  • Jawa bagian tengah hingga timur
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat (NTB)
  • Sebagian NTT
  • Sebagian besar Kalimantan
  • Sebagian besar Sulawesi
  • Sebagian Maluku
  • Maluku Utara
  • Sebagian Pulau Papua

C. September 2026

Sebanyak 100 ZOM (14,3%) wilayah Indonesia diperkirakan baru kedapatan puncak kemarau pada bulan September. Daftar wilayahnya meliputi:

  • Sebagian Lampung
  • Sebagian kecil Jawa
  • Sebagian besar NTT
  • Sulawesi bagian utara dan timur
  • Sebagian besar Maluku Utara
  • Sebagian Maluku
  • Sebagian kecil Pulau Papua

Bagaimana dengan daerah lainnya? Selain Juli-September, beberapa daerah sudah memulai puncak kemarau pada Maret. Ada juga yang 'telat' karena baru merasakannya Oktober mendatang.

Mitigasi Puncak Kemarau 2026 di Indonesia

Dalam menghadapi musim kemarau 2026 yang lebih kering dari tahun sebelumnya, masyarakat dapat mengikuti sejumlah langkah mitigasi. Menurut unggahan @infobmkg, ada beberapa langkah mitigasi sebagai berikut:

1. Hemat Air Sedari Sekarang

Masyarakat dihimbau untuk mulai menggunakan air secara bijak dan efisien dalam aktivitas sehari-hari. Langkah ini penting dilakukan guna mengurangi risiko krisis air bersih saat puncak musim kemarau terjadi.

2. Kumpulkan Air Hujan

Selama hujan masih turun di beberapa wilayah, masyarakat dapat mulai menampung air hujan menggunakan wadah berukuran besar. Air tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai cadangan pada puncak musim kemarau.

3. Stop Pembakaran Lahan

Masyarakat juga diminta menghindari pembukaan lahan dengan cara dibakar, baik untuk pertanian maupun pembangunan. Pasalnya, api kecil sekalipun berisiko memicu kebakaran besar saat kondisi cuaca sedang kering, terlebih musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.

4. Jaga Kesehatan

Dikutip dari laman Healthline, cuaca panas dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. Berikut beberapa penyakit yang dapat dipicu oleh suhu panas ekstrem:

  • Migrain, suhu udara tinggi yang disertai kelembapan ekstrem dapat memicu sakit kepala hingga migrain. Bahkan, penelitian pada 2023 menunjukkan bahwa cuaca panas menjadi salah satu faktor pemicu kambuhnya migrain pada banyak orang.
  • Serangan jantung, saat cuaca terlalu panas, jantung harus bekerja lebih keras untuk membantu tubuh menurunkan suhu melalui proses berkeringat. Kondisi ini membuat detak jantung meningkat sehingga risiko serangan jantung ikut bertambah, terutama pada penderita penyakit jantung.
  • Stroke, paparan panas berlebih juga dapat memberikan tekanan pada sistem pembuluh darah. Karena itu, risiko stroke meningkat, khususnya pada lanjut usia maupun penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi.
  • Gangguan tekanan darah, cuaca panas dapat menyebabkan tekanan darah menjadi tidak stabil. Kondisi ini bisa membuat tekanan darah menurun akibat tubuh kehilangan banyak cairan, atau justru meningkat karena tubuh bekerja lebih keras menurunkan suhu tubuh.
  • Dehidrasi berat, dehidrasi terjadi ketika cairan tubuh yang hilang melalui keringat tidak segera digantikan dengan asupan air yang cukup. Gejalanya meliputi mulut kering, pusing, tubuh lemas, hingga detak jantung meningkat.
  • Heatstroke atau sengatan panas, suhu tubuh yang meningkat drastis dapat menyebabkan Heatstroke atau sengatan panas. Kondisi ini termasuk darurat medis yang perlu segera ditangani. Gejalanya dapat berupa kebingungan, bicara tidak jelas, perubahan perilaku, hingga kejang. Jika terlambat ditangani, heatstroke dapat berakibat fatal.

Demikianlah informasi tentang datangnya puncak kemarau pada tahun 2026, lengkap dengan mitigasinya menurut BMKG. Semoga bermanfaat, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads