Empat orang sekeluarga ditemukan tewas di dalam tenda saat kamping di Temanggung. Salah satunya adalah Bagas Amar Hakiki yang merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus fotografer Keraton Jogja.
Bagas tewas bersama ayah, ibu, serta adiknya. Jasadnya ditemukan oleh pengelola tempat kamping tersebut.
Bagas Mahasiswa UGM
Bagas merupakan mahasiswa Sastra Perancis angkatan 2022. Dalam informasi yang beredar, Bagas dilaporkan meninggal bersama kedua orang tuanya pada Rabu (27/5/2026) dini hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggih (betul). Yang bersangkutan mahasiswa kami dari Sastra Perancis," kata Setiadi saat dihubungi wartawan, Kamis (27/5/2026).
Bagas merupakan mahasiswa Sastra Perancis angkatan 2022. Dalam informasi yang beredar, Bagas dilaporkan meninggal bersama kedua orang tuanya pada Rabu (27/5/2026) dini hari.
"Nggih (betul). Yang bersangkutan mahasiswa kami dari Sastra Perancis," kata Setiadi saat dihubungi wartawan, Kamis (27/5/2026).
Diduga Keracunan
Polisi yang mendapat laporan mengenai kematian empat orang sekeluarga itu segera melakukan penyelidikan. Selain melakukan olah TKP, polisi juga melakukan autopsi terhadap jasad korban.
Dilansir detikJateng, Kabid Humas Polda Jawa Tengah (Jateng), Kombes Artanto, memerinci identitas keempat orang tersebut. Mereka adalah Muhammad Ali Munawar (52), Maghfirah (43), Alvino Evan Hakim (16), dan Bagas Amar Hakiki (21). Mereka merupakan warga asal Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.
"Awal mula kejadian yaitu pada Hari Selasa tanggal 26 Mei 2026 sekira pukul 21.05 WIB datang satu rombongan yang terdiri dari empat orang yang mengendarai satu unit Honda Jazz RS GK 5 warna putih dengan nopol H 1609 PT," kata Artanto dalam pesan tertulis yang diterima detikJateng, Kamis (28/5/2026).
Sekeluarga itu tiba di tenda pukul 21.30 WIB. Keesokan harinya, Rabu (27/5) sekitar pukul 09.00 WIB, petugas yang mengantar sarapan tidak mendapatkan respons dari keluarga tersebut.
"Kemudian keesokan harinya sekira pukul 09.00 WIB, saksi 2 mengantarkan makan pagi sambil mengatakan 'sarapannya, Pak'. Namun, tidak ada jawaban dari dalam tenda," ungkap Artanto.
Saksi tersebut kembali datang ke tenda kamping pada pukul 11.30 WIB untuk membersihkan lokasi. Saksi tersebut menyapa keempat orang itu, tetapi masih tidak mendapat jawaban.
"Kemudian sekira pukul 11.30 WIB, saski 2 datang kembali ke tenda untuk melakukan bersih-bersih karena sudah mendekati waktu check out dan menyapa dari luar. Namun tidak ada jawaban," terang Artanto.
Pada Rabu (27/5) pukul 15.45 WIB, saksi lainnya datang ke lokasi dan membuka tenda. Dia kaget karena menemukan sekeluarga itu sudah meninggal dunia di dalam tenda.
"Kemudian sekira pukul 15.45 WIB saksi 1 mendatangi tenda dan membukanya. Setelah dibuka, saksi 1 melihat empat orang yang berada di dalam tenda tersebut dalam keadaan meninggal dunia," jelas Artanto.
"Kemudian saksi 1 memberitahu kru lainnya dan mengecek kembali ke dalam tenda tersebut untuk memastikan kembali. Dan ternyata benar empat orang yang berada di dalam tenda tersebut sudah dalam keadaan meninggal dunia," lanjut dia.
Dari pemeriksaan di lokasi, polisi menemukan kondisi tenda yang ditempati para korban masih rapi. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan, tetapi keempat tangan korban dalam kondisi menggenggam.
Keempat orang itu diduga meninggal akibat keracunan dengan ciri-ciri mulut berbusa dan hipotermia.
"Dugaan awal disebabkan keracunan berdasarkan info awal dari tim medis dengan ciri ciri mulut berbusa dan juga hipotermia," sebut Artanto.
Fotografer Keraton Jogja
Usai diperiksa, jenazah keempat orang itu dipulangkan ke Banyubiru, Semarang, untuk dimakamkan. Diantara para pelayat ternyata ada beberapa orang dari Keraton Jogja menyampaikan rasa duka cita kepada keluarga.
Ternyata, salah satu korban, Bagas Amar Hakiki merupakan seorang fotografer lepas di Keraton Jogja.
Hal ini disampaikan Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Jogja, Nyi RW. Kartiutami Guritno. Ia menyebut, Bagas sempat magang sebagai fotografer pada 2024 silam, hingga akhirnya menjadi fotografer lepas Keraton Jogja.
"Jadi Bagas ini sebenarnya awalnya salah satu peserta program magang di Kawedanan Tandha Yekti (KTY) tahun 2024. Lalu kemudian dari magang tersebut kami melihat keahlian fotografinya yang mumpuni, sehingga kemudian setelah masa magangnya 1 tahun selesai, Bagas bersama 2 orang teman lainnya menjadi bagian dari tim dokumentasi KTY sebagai fotografer lepas," ujar Kartiutami saat dihubungi wartawan, Kamis (28/5/2026).
" (Bagas) Fotografer lepas, tapi masuk dalam tim inti dokumentasi," lanjutnya.
Kartiutami juga mengenang sosok Bagas. Menurutnya, almarhum merupakan pribadi yang menyenangkan dan suka membantu.
"Bagas kami kenang sebagai pribadi yang senang membantu, bisa diandalkan, dan menyenangkan. Kami sangat kehilangan sekali, bukan hanya kehilangan salah satu fotografer terbaik kami, tapi juga kolega, rekan, adik, sahabat baik," pungkasnya.
(ahr/ahr)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja