Tim peneliti Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN 'Veteran' Jogja mulai melakukan pemetaan bawah permukaan di lokasi kebakaran berulang yang terjadi di rumah warga Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi lapisan batuan yang diduga menjadi tempat akumulasi gas sekaligus menelusuri jalur keluarnya gas tersebut.
Koordinator tim peneliti FTME UPN 'Veteran' Jogja, Ardian Novianto, mengatakan pengukuran dilakukan menggunakan metode geolistrik. Metode ini digunakan untuk memetakan lapisan batuan di bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitas atau hambatan jenis listrik batuan.
"Jadi ini kami akan mencoba melakukan identifikasi untuk subsurface-nya. Artinya kita mau mencoba melihat lapisan-lapisan bawah permukaannya seperti apa. Kemarin kan sudah melihat singkapan di sisi timur sungai, sekarang kami ingin melihat sebaran stratigrafi di bawah permukaan dengan metode geofisika," kata Ardian ditemui wartawan di lokasi pengukuran, Seyegan, Rabu (3/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim peneliti UPN 'Veteran' Yogyakarta melakukan pemetaan di sekitar lokasi rumah warga Seyegan yang mengalami kebakaran misterius, Rabu (3/6/2026) Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja |
Menurut Ardian, pengukuran tidak hanya dilakukan di satu titik. Tim berencana membuat enam hingga tujuh lintasan pengukuran dengan panjang sekitar 200 meter per lintasan untuk memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai kondisi geologi di kawasan tersebut.
"Harapannya nanti dapat beberapa area yang lebih luas. Jadi tidak hanya satu lintasan saja, tetapi beberapa lintasan yang sudah kami tetapkan," ujarnya.
Ia menjelaskan fokus utama penelitian saat ini adalah mengidentifikasi lapisan batuan yang berpotensi menjadi tempat penyimpanan gas di bawah permukaan.
"Lapisan batuan itu ada salah satu lapisan yang kami duga bisa menjadi tempat mengumpulnya gas. Kemudian kalau ada struktur atau rekahan yang bisa dianalisis, itu juga ingin kami lihat," jelasnya.
Ardian mengatakan hasil penelitian belum bisa disimpulkan dalam waktu dekat karena pengukuran dan analisis masih berlangsung.
Selain itu, ia menegaskan jenis gas yang memicu fenomena kebakaran berulang tersebut juga belum dapat dipastikan.
"Dari beberapa pengukuran memang ada indikasi metana. Namun saat diukur ESDM kemarin memang ada metana, tetapi minor. Tadi malah ada informasi hidrogen," katanya.
Di lokasi yang sama, Penyelidik Bumi Muda Balai Besar Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BBPTKG), Aris Dwi Nugroho, mengatakan tim saat ini melakukan pembersihan area sungai yang ditengarai terdapat sumber gas. Alat berat diterjunkan untuk membersihkan lumpur dan rumpun bambu di lokasi.
"(Pengerukan ini untuk) Menghilangkan source-nya metan yang diduga di sini. Tapi masih dugaan," kata Aris kepada wartawan.
"Saya memang merekomendasikan ini (lumpur dan bambu) hilang. Harapannya kalau ini hilang, (gas metana) udah enggak ada di sana. Harapannya lho," lanjutnya.
Menurutnya, hasil pemetaan menunjukkan terdapat titik yang terdeteksi mengandung gas dengan konsentrasi sekitar 4 persen LEL (Lower Explosive Limit). Namun temuan tersebut masih tergolong rendah.
"Di sisi timur tidak ada metananya, di barat daya juga tidak ada. Adanya di barat laut dekat pohon bambu, tetapi kecil, sekitar 4 persen LEL. Kalau perhitungannya itu kecil banget," jelasnya.
Ia menjelaskan dugaan sementara gas bergerak melalui rekahan atau kekar batuan yang berada di bawah permukaan menuju area rumah yang mengalami kebakaran berulang.
"Di sebelah barat ada struktur sesar yang kemudian membentuk sesar-sesar kecil atau kekar. Dugaan sementara gas menyebar melalui rekahan itu menuju ke rumah Pak Agus," ujarnya.
Tim peneliti UPN 'Veteran' Yogyakarta melakukan pemetaan di sekitar lokasi rumah warga Seyegan yang mengalami kebakaran misterius, Rabu (3/6/2026) Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja |
Meski demikian, Aris menegaskan seluruh dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui serangkaian pengukuran dan analisis laboratorium.
"Makanya kami ini (lumpur dan bambu) dihilangkan. Kami akan mencoba mengukur di sana lagi nanti ambil sampel di udara sana seperti apa. Nanti hasilnya nunggu lab," katanya.
Di sisi lain, kebakaran masih terus terjadi di rumah Agus. Berdasarkan catatan keluarga, hingga Rabu pagi jumlah kejadian kebakaran telah mencapai 87 kali.
"Sampai hari ini 87 kali kejadian. Terakhir pada 00.50 WIB tadi," kata Mutfiana.
Beberapa benda yang dilaporkan terbakar pada hari ini antara lain rak di ruang tengah, sandal di lorong rumah, lemari, buku di kamar.
(apl/ahr)


Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja