Cerita Butet Kartaredjasa Serahkan Lukisan Punakawan ke Paus Leo XIV di Vatikan

Cerita Butet Kartaredjasa Serahkan Lukisan Punakawan ke Paus Leo XIV di Vatikan

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Jumat, 19 Jun 2026 15:27 WIB
Budayawan Butet Kartaredjasa bersama istrinya Rulyani Isfihana atau yang kerap disapa Bu Ageng saat bertemu Paus Leo XIV di Vatikan.
Budayawan Butet Kartaredjasa bersama istrinya Rulyani Isfihana atau yang kerap disapa Bu Ageng saat bertemu Paus Leo XIV di Vatikan. Foto: Instagram @paskamagama
Jogja -

Budayawan Butet Kartaredjasa bertemu dan menyerahkan lukisan kaca berjudul Jalan Salib Punakawan kepada Paus Leo XIV di Vatikan. Butet mengungkapkan Paus sangat senang karena ada yang menafsirkan jalan salib menggunakan tokoh lokal Jawa.

Butet menceritakan, dirinya bisa bertemu Paus pada Rabu (17/6). Hal itu disebut tidak lepas dari peran KBRI Takhta Suci Vatikan.

"Karena protokolernya ribet, dadi betul-betul itu hasil lobi-lobi, perjuangan sehingga bisa lolos dan bisa diterima untuk bersalaman dengan Paus. Kalau tidak melalui perjuangan ya tidak bisa," katanya saat dihubungi wartawan, Jumat (19/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Butet datang bersama istrinya Rulyani Isfihana atau yang kerap disapa Bu Ageng. Keduanya mengenakan pakaian adat Jawa saat bertemu dengan Paus.

"Intine pertemuan itu mewujudkan pluralism, lintas iman, lintas kebudayaan. Aku Kristen KTP, Bu Ageng, Hajah. Terus, Jalan Salib itu kan tradisi Katolik," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Selain itu, Butet membawa lukisan kaca yang menceritakan jalan salib dengan visual Punakawan. Adapun lukisan tersebut berjumlah 14 frame namun saat penyerahan Butet hanya membawa satu frame karena sisanya sudah berada di dalam Vatikan.

"Ditafsir secara Jawa pakai cara lukisan kaca. Itu kan tafsir kultural, jadi lintas kultural dan Paus senang ada orang Jawa memiliki inisiatif seperti itu," ujarnya.

Butet menceritakan, bahwa sudah membuat lukisan itu sejak akhir tahun 2024. Semua itu sebagai wujud rasa syukurnya setelah sembuh dari sakit.

"Pengerjaan beberapa minggu di akhir tahun 2024. Itu pun setelah saya sakit itu lho. Saya sembuh dari sakit itu kan saya merasa diberi mukjizat," katanya.

"Nah, saya sing agamane ra cetho iki ingin mewujudkan opo iki (saya yang beragama tidak jelas ini ingin mewujudkan apa), terjemahannya ya. Ternyata aku menerima tugas secara spiritual yang itu, ngono (gitu) lho. Ini lebih ke proses spiritualism untuk diriku," lanjut Butet.

Sedangkan ide menggunakan tokoh pewayangan Punakawan dalam lukisan tersebut, Butet menilai karena Punakawan merupakan bagian dari tradisi masyarakat Jawa. Di mana masyarakat Jawa kerap memasang lukisan Punakawan dengan falsafah Jawa di dinding rumahnya seperti 'ojo dumeh' hingga 'melik nggendong lali'.

"Jadi, tokoh-tokoh yang dipakai adalah Punakawan. Tokoh-tokoh itu sangat bersahabat dengan masyarakat. Nah, saya melihat Jalan Salib itu, itu kan juga sosialisasi nilai," ujarnya.

Selanjutnya, sebagai sosialisasi nilai, Butet menafsirkan jalan salib dalam balutan Punakawan.

"Nah, saya membayangkan kalau sosialisasi nilai kenapa tidak menggunakan idiom Punakawan yang ada di dalam tradisi Jawa itu. Maka saya tafsir, saya wujudkan, supaya sosialisasi religiusitas itu, spiritualism tentang perjuangan kemanusiaan seorang Yesus itu bisa terekam di dalam lukisan," ucapnya.

Terkait tanggapan Paus Leo terkait lukisan pemberiannya, Butet mengungkapkan bahwa Paus merasa sangat senang.

"Oh, beliau sangat senang. Beliau sangat senang, kok ada orang dari jauh, dari timur, menafsir dengan menggunakan tokoh lokal, versi Jawa yang sangat lokal, gitu lho, kok ada," katanya.

Bahkan, Butet mengatakan bahwa Paus Leo senang ketika Butet memperkenalkan diri dari Jawa, Indonesia.

"Senang, beliau sangat senang. Saya bilang dari Jawa, Indonesia, beliau senang," ujarnya.

Butet juga berharap lukisan kaca karyanya itu bisa terpajang di Basilika Santo Petrus. "Ya, mudah-mudahan bisa dipajang di dinding Basilika," ucapnya.




(afn/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads