Pernyataan Lengkap SMAN 2 Bantul Soal Alumni Ngaku Dibully-Gangguan Mental

Pernyataan Lengkap SMAN 2 Bantul Soal Alumni Ngaku Dibully-Gangguan Mental

Tim detikJogja - detikJogja
Minggu, 21 Jun 2026 07:00 WIB
Suasana SMAN 2 Bantul, Jumat (19/6/2026).
Suasana SMAN 2 Bantul, Jumat (19/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Jogja -

Seorang alumni SMA Negeri 2 Bantul mengaku menjadi korban perundungan hingga mengalami gangguan mental usai lulus. Pihak sekolah akhirnya buka suara menanggapi pengakuan yang viral itu.

Repsons sekolah itu juga diunggah pada akun instagram resmi sekolah, @smanegeri2bantul. Mereka mengunggah pernyataan dengan judul "Pernyataan resmi SMA Negeri 2 Bantul Terkait Pemberitaan di Media Sosial".

Pernyataan itu ditanda tangani kepala sekolah, Isti Fatimah. Dia mengawali dengan penjelasan bahwa respons tersebut diberikan karena adanya dinamika informasi yang berkembang di media sosial terkait dugaan kasus perundungan dan kekerasan psikologis yang diunggah melalui Threads pada hari Selasa, 16 Juni 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SMA Negeri 2 Bantul menyampaikan pernyataan sikap yang terdiri dari lima poin, yaitu:

ADVERTISEMENT
  1. Kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada pihak penyintas, keluarga, serta masyarakat luas atas ketidaknyamanan dan situasi yang terjadi.
  2. SMA Negeri 2 Bantul berkomitmen penuh untuk bersikap terbuka, kooperatif, jika di kemudian hari ada proses investigasi ataupun evaluasi.
  3. Kami siap bertanggung jawab atas kejadian ini. Apabila di kemudian hari terbukti adanya pelanggaran, penyalahgunaan wewenang, maupun kelalaian yang dilakukan oleh oknum pengajar atau pihak sekolah, kami siap menerima sanksi serta konsekuensi sesuai dengan aturan kepegawaian dan perundang-undangan yang berlaku.
  4. Dinamika ini akan kami jadikan momentum evaluasi dan memastikan lingkungan belajar di SMA Negeri 2 Bantul ke depannya menjadi lebih baik lagi bagi seluruh peserta didik.
  5. Pihak sekolah membuka pintu komunikasi seluas-luasnya. Bagi masyarakat, orang tua siswa, maupun pihak terkait yang ingin menyampaikan kritik, masukan, atau informasi lanjutan, dipersilakan untuk menggunakan kanal resmi sekolah agar komunikasi dan perbaikan layanan dapat terjalin dengan baik.

"Demikian pernyataan resmi ini kami sampaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan institusional kami," tulis Isti di akhir pernyataan.

Untuk diketahui, postingan dengan narasi seorang alumni SMAN 2 Bantul mengalami perundungan hingga mengidap gangguan mental usai lulus sekolah menuai sorotan di media sosial.

Postingan itu diunggah akun Threads @gh05tx0 pada dua hari lalu. Dalam postingannya sosok tersebut juga mengunggah surat keterangan medis dengan nama dokter dan cap rumah sakit yang diblur.

Dalam surat keterangan medis itu disebutkan pemilik akun melakukan rawat jalan. Pada kolom diagnosisnya disebutkan sejumlah gangguan mental mulai dari depresi hingga bipolar.

"Saya Lulusan SMA Negeri 2 Bantul, Dan kalian Tau apa yang dapatkan setelah saya Lulus? Ya Betul, sesuai foto rekam medis saya, SAYA DIVONIS TERKENA MENTAL ILLNESS SETELAH LULUS," sebut akun Threads @gh05tx0 seperti dilihat detikJogja, Jumat (19/6/2026).

Pengunggah akun tersebut mengaku dituduh melakukan kejahatan oleh guru. Dia juga merasa difitnah.

"Saya difitnah melakukan suatu keiahatan d sekolah oleh wali kelas Dan bk saya sendiri padahal saya yang membongkar kejahatan itu lucunya, saya malah dijadikan kambing hitam oleh guru-guru bajingan itu, Padahal sayalah pahlawannya. Parahnya, saya difitnah di arub wali murid tanpa sepengatahuan saya, hasilnya apa? saya dijauhi teman teman saya Karena orana tua mereka mengira saya anak yang tidak baik?, padahal saya tidak pernah sekalipun merokok, minum: dsb. Eh lucunva anak-anak di sekolah yang suka main judol Dan minum alkohol dibiarin sama bk," lanjut akun tersebut.




(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads