Misteri Penyebab Warga Padukuhan Sari Gunungkidul Ramai-ramai Angkat Kaki

Misteri Penyebab Warga Padukuhan Sari Gunungkidul Ramai-ramai Angkat Kaki

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Minggu, 21 Jun 2026 13:55 WIB
Salah satu warga Pedukuhan Sari yang saat ini hilang dari wilayah administratif Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Trifena Istini (56) saat memberikan keterangan, Kamis (18/6/2026).
Salah satu warga Pedukuhan Sari yang saat ini hilang dari wilayah administratif Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Trifena Istini (56) saat memberikan keterangan, Kamis (18/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Dahulu di Pedukuhan Sari yang saat ini hilang dari wilayah administratif Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul ada puluhan kepala keluarga (KK) yang tinggal. Namun, satu persatu warga pergi dan membuat Sari sepi hingga akhirnya seperti saat ini.

Trifena Istini (56), wanita yang lahir dan tumbuh besar di Sari ini menceritakan, bahwa dahulu ada puluhan KK yang menghuni di Sari. Di mana sebagian besar penghuninya berprofesi sebagai petani.

"Penghuni di Pedukuhan Sari dulu 30 sampai 35 KK," katanya saat ditemui di kediamannya, Padangan, Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Kamis (18/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trifena melanjutkan, suasana di Sari dulu layaknya Pedukuhan yang lain. Di mana terdapat RT, RW, hingga Dukuh. Sedangkan untuk kegiatannya ada pula siskamling.

"Kalau Pedukuhan Sari itu ya seperti umumnya Pedukuhan yang lain, saya tahu karena lahir dan tinggal di sana. Apalagi ayah saya Dukuh Sari, tapi sudah purna dan meninggal dunia," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, memasuki tahun 90an tiba-tiba banyak warga yang meninggalkan Sari. Terkait penyebabnya, Trifena mengaku tidak tahu secara pasti.

"Pastinya kenapa saya tidak tahu, yang jelas pindah satu per satu dan salah satu yang terakhir pindah itu ayah saya," ucapnya.

Bahkan, Trifena sempat menanyakan banyaknya warga yang pindah dari Sari kepada almarhum ayahnya. Namun, ayahnya tidak menjelaskannya kepada Trifena.

"Tapi pastinya kok pindah itu karena apa saya tidak tahu, saya pernah tanya hanya bilang 'mbok pindah, koncone wis do pindah (pindah saja, temannya sudah pada pindah) kayak gitu, terus langsung pindah," katanya.

Namun, Trifena sempat mendapat wejangan dari ayahnya bahwa pindah dari Sari semata-mata untuk masa depan generasi keluarganya. Mengingat ayahnya tidak ingin anaknya hanya menjadi petani.

"Bapak saya sudah purna yasudah, kita ikuti pindah aja. Kita cari tempat yang untuk zaman sekarang kan anak-anak maksudnya generasi penerus inginnya tidak hanya petani," ujarnya.

Terlebih, keluarganya banyak yang sudah lansia sehingga sang ayah merasa kasihan jika ada saudara yang harus datang ke Sari, terlebih saat malam hari.

"Terus bapak, ibu dan mbah saya kan sudah sepuh. Seumpama bertahan di sana terjadi sesuatu itu kasihan saudara-saudara tetangga yang kalau malam kan susah banget ya untuk nyambangin, bantuin kami. Karena itu pilihannya cari teman, cari cari tetangga yang dekat, yang rame, itu aja tujuannya," katanya.

Menyoal kapan mulai pindah dari Sari, Trifena menyebut tahun 2000an. Pasalnya Trifena harus mencari lokasi rumah yang baru. Adapun akhirnya Trifena mendapatkan lokasi rumah baru di Padangan, Banjarejo.

"Terakhir itu ada tiga KK termasuk saya, dan saya mulai bangun rumah di sini (Padangan) tahun 2009. Nah, saat itu bapak ibu saya masih tinggal di sana (Sari), hingga akhirnya rumah selesai tahun 2010 lalu saya dan keluarga pindah dan dua KK lainnya akhirnya juga ikut pindah," ujarnya.

Terkait bagaimana nasib tanah di Sari, Trifena mengaku tidak menjualnya. Menurutnya, daripada menjual tanah lebih baik memanfaatkannya untuk pertanian.

"Yang di sana (Sari) tidak dijual tapi dipakai kebun," ucapnya.




(apl/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads