Seorang alumni SMAN 2 Bantul diduga menjadi korban bully hingga mengalami gangguan mental saat dirinya masih berstatus siswa. Kasus ini diduga terjadi usai dirinya mengungkap kebocoran soal ujian.
Hal tersebut disampaikan pendamping korban, Dini Sandra. Dini bercerita korban mulai mendapat perlakuan tak menyenangkan usai membantu mengungkap kasus kebocoran soal atas permintaan gurunya.
"Saat kelas 11, saat ujian berbasis komputer sempat ada kebocoran soal di SMAN 2 Bantul. Lalu anak ini, karena kebetulan Ketua Klub IT dimintai bantuan oleh salah satu guru," ujarnya saat dihubungi, Senin (22/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dimintalah bisa tidak ini dicari siapa yang membocorkan pertama soal ini, soalnya itu bocornya dari SMAN 1 (Bantul)," lanjut Dini.
Saat itu korban mengiyakan permintaan itu. Bahkan, korban bisa menemukan siapa yang membocorkan soal tersebut.
"Nah, terus ketemu, dia bisa menemukannya," ucapnya.
Usai kasus itu terbongkar, korban justru mendapat fitnah. Dini menyebut korban justru dituduh sebagai pelaku.
"Pada akhirnya anak ini bukannya mendapat terima kasih dari gurunya, tapi malah disebarkan ke pihak guru, orang tua murid kalau anak ini yang membocorkan soal. Padahal anak ini yang membantu mencari tersangka utamanya," ujarnya.
Bahkan disebut ada guru yang meminta orang tua murid agar menjauhi korban.
"Mungkin di situ mentalnya anak kita tidak tahu ya, karena umurnya juga masih belasan tahun. Jadi dia merasa lah dari yang tadinya temannya banyak karena pintar IT, sering ditanya ini itu kok tiba-tiba menjauh ya, kenapa ya? Gitu," ucapnya.
Dini menyebut bahwa korban masih menyimpan bukti perbincangan tersebut. Selain itu, Dini juga mengungkapkan bahwa korban kerap bercerita soal satu guru yang kerap memandangnya sebelah mata.
"Dari guru-guru juga sering, yang sering dia bahas itu ada seorang guru yang sering ketemu dan bilang ke anak itu 'halah-halah mas aku ndelokke rupamu wae melas' (halah mas, saya lihat wajahmu saja kasihan sekali), gitu," katanya.
Meski mendapat perlakuan seperti itu, Dini mengatakan bahwa korban tetap mencoba bertahan dan berupaya menyelesaikan pendidikannya.
"Tapi anak itu mencoba untuk bertahan agar lulus dan berteman dengan satu dua orang yang masih mau berteman," ujarnya.
Sebelumnya, SMAN 2 Bantul buka suara soal dugaan bully ini. Melalui media sosialnya, SMA Negeri 2 Bantul menyampaikan pernyataan sikap yang terdiri dari lima poin.
Dalam pernyataan sikap itu tertulis SMAN 2 Bantul memohon maaf dan siap terbuka untuk evaluasi.
"Kami siap bertanggung jawab atas kejadian ini. Apabila di kemudian hari terbukti adanya pelanggaran, penyalahgunaan wewenang, maupun kelalaian yang dilakukan oleh oknum pengajar atau pihak sekolah, kami siap menerima sanksi serta konsekuensi sesuai dengan aturan kepegawaian dan perundang-undangan yang berlaku," ujar SMAN 2 Bantul.
(afn/alg)

Komentar Terbanyak
Serba-serbi SMA De Britto, Siswa Bebas Gondrong hingga Kelas Kandang Kuda
Duduk Perkara Danrem Pamungkas Cekcok dengan Marshal Saat Ikut Maraton
Kronologi Cekcok Ajudan Danrem Jogja Maraton Tanpa BIB Berujung Minta Maaf