Aksi yang dilakukan Susanto (44) yang menjabat sebagai Dukuh Ngelorejo, Gunungkidul ini cukup unik. Dia bercocok tanam padi menggunakan galon bekas. Hasil panenannya juga cukup lumayan.
Keberhasilan Susanto dalam memanen padi yang ditanam di galon ini menjadi salah satu artikel yang banyak diakses oleh pembaca detikJogja dalam sepekan terakhir ini.
Berjuang Mencari Galon
Langkah awal yang dilakukan oleh Susanto adalah mencari galon bekas. Dia butuh waktu selama empat bulan untuk membuat 'sawah portabel' ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu saya mulai cari galon ke mana-mana, dari minta, beli hingga dikasih. Akhirnya saya dapat 1.200 galon dalam waktu empat bulan," ujarnya kepada detikJogja, Senin (29/6/2026).
Namun, lahannya ternyata sangat terbatas. Dia tidak bisa menggunakan semua galon yang sudah dikumpulkan. Jadinya dia hanya menggunakan 840 galon untuk menanam padi.
Galon-galon itu kemudian ditata di pekarangannya yang tidak seberapa luas. Dia mengisinya dengan tanah.
"Galon itu lalu diberi tanah dan benih padi Ciherang, padi sisa itu. Untuk mulai menanam padi di galon itu akhir bulan Maret 2026," ucapnya.
Upayanya tidak sia-sia. Padi yang ditanamnya tumbuh subur. DIa bahkan bisa memanennya pada akhir Juni lalu.
Menurutnya, apa yang Santo lakukan semata-mata untuk mengedukasi warganya. Mengingat banyak lahan kosong yang tidak produktif di Ngelorejo.
"Saya ingin mengedukasi masyarakat dengan biaya semurah-murahnya bisa menanam, khususnya padi," katanya.
Tanpa Sawah tanpa Cangkul
Susanto membuktikan bahwa menjadi petani padi kini bisa sangat menghemat tenaga dan biaya. Bertani memakai galon menurutnya juga lebih efisien karena minim perawatan.
"Menanam padi pakai galon ini banyak keuntungannya, seperti perawatannya mudah karena tinggal disiram air saja. Nah, yang paling penting tidak perlu macul dan membajak tanah," kata dia.
Pria yang kerap disapa Santo Mboso ini juga menilai penanaman padi menggunakan galon tidak terlalu memakan banyak biaya. Mengingat Santo tidak perlu membeli lahan pertanian.
"Jadi saya punya lahan sekitar 10 m2 dengan estimasi 1.000 galon. Nah dengan kalkulasi misal beli sawah 10 m2 kan Rp 15-20 juta, tapi katakanlah beli galon Rp 2 juta, dan kepepetnya tanah beli Rp 1 juta kan sangat terjangkau itu," ujarnya.
Selain itu, keuntungan menanam padi menggunakan galon bisa Santo pantau langsung. Pasalnya Santo hanya memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai lokasi penanaman padi menghubungi galon.
"Terus bisa dipantau langsung karena kan lokasinya ada di pekarangan. Jadi kalau ada serangan burung pipit bisa langsung digusah (dihalau)," ucapnya.
Menghitung Hasil Panen
Bercocok tanam padi menggunakan galon bekas sudah dibuktikan keberhasilannya oleh Susanto. Tanamannya tumbuh dengan subur.
Santo juga mengungkapkan, bahwa hasil panen dari menanam padi terbilang bagus. Di mana dari hitungannya untuk satu galon berisi tanaman padi bisa menghasilkan gabah sekitar satu ons.
"Hasil panen untuk satu galon, satu galon itu rata-rata satu ons gabah. Jadi tinggal dikalikan saja berapa galon dikali satu ons," katanya.
Dia mengakui, hasil panennya masih belum optimal dan masih bisa untuk ditingkatkan. Dia masih menguji coba beberapa hal, termasuk takaran pupuk yang tepat.
"Tapi ini mau saya sampling lagi jumlahnya. Untuk hasil panennya kemarin bagus, mungkin karena kontrol pupuk baik, pencegahan hama juga berlangsung dengan baik," ucapnya.
(ahr/ahr)

Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya